Ref: Konflik partai penguasa adalah konflik  interen perebutan rejeki antara 
yang mau lebih banyak dan mereka yang masih belum dapat atau dapat sedikit 
sekali.  Jadi bagi  yang diluar kalangan mereka harus sadar bahwa keledai yang 
dianggap mahluk paling bodoh oleh manusia, tidak pernah tersentuh pada batu 
yang sama dua kali.

http://lampost.co/berita/konflik-partai-penguasa

2013-02-09 06:01:00


Konflik Partai Penguasa
KEMELUT di Partai Demokrat memuncak pascahasil survei yang menyatakan dukungan 
untuk partai berkuasa itu “terjun bebas” di angka 8,3%. Pada Pemilu 2009 lalu, 
dukungan partai itu berada di posisi teratas dengan raihan suara 21%. Menyikapi 
anjloknya elektabilitas partainya, anggota Dewan Pembina Demokrat Jero Wacik 
sontak bereaksi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu mendesak Ketua 
Dewan Penasihat Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung turun 
tangan.

Gayung pun bersambut. Sejumlah pengurus Demokrat di daerah mewacanakan 
musyawarah nasional luar biasa (munaslub) untuk menggeser Anas Urbaningrum dari 
posisinya sebagai ketua umum partai. Anas menjadi sasaran tembak terkait dugaan 
keterlibatannya dalam kasus megaproyek Hambalang. Ternyata kemelut di partai 
berlambang mercy itu juga mengusik SBY. Di tengah khusyuknya menunaikan ibadah 
umrah dan kunjungan ke sejumlah negara sahabat untuk mengurus bangsa ini, 
tergantung juga di pikirannya tentang kemelut Demokrat. Walaupun menggunakan 
pesawat terbang “dinasnya” dengan biaya perjalanan seluruhnya dibiayai rakyat, 
SBY lebih merisaukan kemelut partainya.

Langit Samudera Hindia menjadi saksi uang rakyat dipakai untuk mengurusi partai 
oleh presidennya saat SBY menggelar konferensi pers di dalam pesawat. SBY 
mengakui telah mengirim pesan singkat (SMS) ke para petinggi Demokrat saat di 
Masjidil Haram, Mekah, untuk ikut berdoa agar ada solusi bagi persoalan yang 
dihadapi partai besutannya itu.

Anehnya, bukannya mengajak pejabat negara lainnya saat berdoa di tempat suci 
itu bagi keselamatan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Presiden SBY justru 
mengecilkan dirinya sebagai bos partai yang berdoa untuk kepentingan 
golongannya. Padahal jelas, perjalanannya ke sejumlah negara di Timur Tengah 
dan menyempatkan diri umrah di Baitullah itu menggunakan biaya dari pajak 
rakyat banyak, bukan hanya pajak dari kader Demokrat.

Mungkin SBY melupakan pepatah bijak yang sudah dipraktikkan di Amerika Serikat: 
My lovely to my party will end when my loyality my country begin. Artinya, 
kecintaanku kepada partai berhenti saat loyalitasku kepada negara dimulai.

Dalam hal penyelesaian kemelut Demokrat, ada sisi lain yang bertentangan dengan 
prinsip ketatanegaraan kita. Yakni, ketika SBY dalam kapasitasnya sebagai 
Presiden meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menegaskan 
status kadernya dalam kasus Hambalang. 

Permintaan tersebut dapat juga diartikan sebagai intervensi eksekutif atas 
proses hukum. Sudah puluhan tahun hukum di negeri ini berada di ketiak 
kekuasaan. Jangan sampai pengalaman buruk itu kembali terulang


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke