Ref: Suara Tuhan untuk dikuburkan?

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=41178

MINGGU, 16 Februari 2013 | 559 Hits




Demokrat, Ini Suara Tuhan
Oleh : EDDI SANTOSO

Nama Anas Urbaningrum telah berulangkali disebut-sebut dalam skandal korupsi 
Hambalang, rutin menjadi kepala berita di media -dalam konteks bukan positif 
tentu saja- dan menjadi bulan-bulanan di fora internet. 

Aneh dan menggerus akal sehat, jika sampai detik ini Demokrat seperti lumpuh 
tidak berdaya terhadap Anas dan Anas sendiri membiarkan dirinya dalam posisi 
seperti itu. Inilah pokok tema yang terus berulang di masyarakat. Silakan bisa 
dicek sendiri. Dari Belanda, Jakarta, Pekalongan, Malang, sampai Bali, setiap 
kali saya singgah makan di kedai dalam perjalanan liburan musim panas tahun 
lalu, diskusi dengan topik kemelut Demokrat itu selalu mencuat.

Survei-survei lembaga profesional sebenarnya menegaskan kembali sinyalemen 
seperti itu yang sudah sejak lama berkembang di masyarakat mengenai Demokrat. 
Dampaknya bisa dilihat: persepsi dan ekspektasi mereka terhadap Demokrat 
berubah, yang akhirnya mempengaruhi pilihan mereka. Boleh saja sebagian kader 
Demokrat tetap tidak percaya dan menganggap itu semua hanya mimpi. Satu hal 
yang absolut perlu disadari adalah hukum kausalitas ini: rontoknya perolehan 
suara Demokrat akan meruntuhkan kekuasaan dan membuat ratusan, mungkin ribuan 
kader Demokrat --yang sudah bekerja keras dan mengerahkan segala sumber daya-- 
akan kehilangan pekerjaan, jabatan penting, dan gagal terpilih (kembali) 
menjadi wakil rakyat. Bagi sebagian mereka hasil itu tetap akan seperti mimpi 
dan saat itu semua sudah sangat terlambat.

Anas belum tentu bersalah dan harus dipandang tidak bersalah, seperti dijamin 
oleh prinsip dasar hukum pidana: praesumptio innocentiae atau 
onschuldpresumptie menurut textbook Belanda, iemand is onschuldig tot het 
tegendeel is bewezen (seseorang tidak bersalah sampai dibuktikan sebaliknya). 
Praduga tak bersalah. Tetapi manakala seseorang itu adalah pemimpin atau tokoh 
partai politik, di mana bisnis intinya adalah menarik dan mengumpulkan 
kepercayaan publik, ternyata prinsip hukum itu terbukti tidak efektif. Sebab 
kepercayaan publik itu berbanding lurus dengan integritas. Ketika integritas 
seorang tokoh itu ternoda walaupun cuma setitik saja, publik akan mengayunkan 
pedang vonis lebih cepat dari Dewi Yustisia, hilang kepercayaan, tanpa menunggu 
proses hukum yang baru akan ada atau tidak ada sama sekali. Dan kehilangan 
kepercayaan publik itu bagi partai politik sama saja jalan menuju pintu pailit.

Sekadar pembanding, di Belanda tuntutan integritas pada tokoh partai politik 
sangat tinggi. Begitu nama seorang tokoh partai politik terkait tindakan 
tercela, dia akan mengundurkan diri, meskipun secara hukum kesalahannya masih 
harus dibuktikan dan dia mempunyai hak untuk membela diri sesuai dijamin oleh 
undang-undang. Contoh terbaru adalah kasus Dr. J.C. Verdaas, politikus Partai 
Buruh yang menjabat setingkat Menteri Muda Urusan Ekonomi dalam Kabinet Rutte 
II. Dia menyatakan mundur dan meletakkan jabatan yang baru disandangnya satu 
bulan (5 November - 6 Desember 2012). Kesalahan Dr. Verdaas terhitung sangat 
kecil, cuma perilaku deklarasi. Dia resminya tinggal di Nijmegen, tetapi sering 
mendeklarasi ongkos perjalanannya ke rumah kedua di Zwolle, yang jaraknya lebih 
jauh. Integritas Verdaas dan partainya dipertanyakan. Kalau dalam urusan kecil 
tidak jujur, bagaimana dengan urusan besar? Begitu Verdaas mundur, hilang 
kontroversi mengenai nama pribadi dan partainya di media, partainya pun 
terbebas dari beban.

Demokrat selama ini selalu mempresentasikan diri sebagai partai yang mau 
mengajarkan kesantunan, berbudi dan beradab, taat azas, AD/ART dan hukum. Tapi 
hasil empirisnya terbukti sangat dramatis, kontraproduktif. Demokrat abai bahwa 
partai politik tidak sama dengan individu dalam prinsip praduga tak bersalah. 
Dalam soal integritas ini publik tak peduli fakta hukum dan prinsip hukum. Akal 
sehat dan nurani publik menjadi hakim-hakim yang otonom dan kecenderungannya 
bahkan semakin membesar dan liar seiring dengan ketiadaan ketegasan Demokrat 
dalam menyikapi pucuk pimpinannya. Kadang diperlukan semacam konvensi, sebab 
AD/ART tidak selalu bisa menjawab segala keadaan. Barangkali kontemplasi, laku 
tafakur Yudhoyono dan permohonannya pada Tuhan di Makkah dan Madinah telah 
dibalas berupa petunjuk yang mungkin tidak jauh dari suara-suara rakyat sebagai 
wakil Tuhan di bumi. Konon suara rakyat itu suara Tuhan, vox populi vox Dei. 
Kita tunggu seperti apa konkritnya suara Tuhan itu malam ini.

Lange Voorhout, Den Haag, 8 Februari 2013
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili 
pandangan atau kebijakan redaksi.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke