Ref: Hanya yang boleh menjadi pengurus orang yang bergaris keras?
http://www.hidayatullah.com/read/27298/17/02/2013/tata-tertib-nu-dan-muhammadiyah-melarang-orang-liberal-menjadi-pengurus.html
Tata Tertib NU dan Muhammadiyah Melarang Orang Liberal Menjadi Pengurus
Qonun Asasi dan AD/ART Nahdhatul Ulama (NU) tidak mengajarkan paham
liberalisme
Ahad, 17 Februari 2013
Hidayatullah.com--Bedah buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” karya
Qosim Nurseha Dzulhadi, di Masjid Nuruzzaman Unair Sabtu kemarin (17/02/2013)
rupanya menjadi ajang para mahasiswa mempertanyakan masih adanya oknum liberal
yang masuk ormas Islam.
KH. Abdurrahman Navis, Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur yang ikut menjadi
pembicara kedua bahwa dalam aturan organisasi NU, tidak boleh orang liberal
menjadi pengurus.
“Qonun Asasi dan AD/ART Nahdhatul Ulama (NU) tidak mengajarkan paham
liberalisme. Justru bertujuan mengamalkan syariat Islam,” tegas Kiai Navis saat
menjawab pertanyaan salah satu peserta tentang masih bercokolnya oknum liberal
di tubuh NU.
KH. Abdurrahman Navis yang juga ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur ini menolak
jika NU menjadi wadahnya anak-anak liberal.
Ia menjelaskan, pada Muktamar NU di Makassar lalu misalnya, bahkan telah
disusun tata tertip organisasi yang mensyaratkan bahwa pengurus NU tidak boleh
ada yang liberal.
“Adapun jika masih ada, itu adalah oknum NU. Maka tugas kita adalah
membersihkan,” tambahnya.
Kiai Navis menyebut oknum-oknum berpaham liberal itu dinilai gerakan ekstrim
kiri yang menerima bantuan dana asing yang tidak sedikit.
Oknum tersebut bahkan dinilai telah masuk pada institusi perguruan tinggi
dengan cara menggencarkan gerakan sekularisasi di kampus-kampus Islam yang
dinilainya bermula saat IAIN mengubah haluan studinya pada tahun 70-an.
“Dulu berhaluan ke Universitas al-Azhar, tapi kemudian belok ke universitas di
Barat,” terangnya.
Bedah buku yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran dan Peradaban Islam
(InPAS) Surabaya ini juga menghadirkan penulisnya, Qosim Nurseha Dzulhadi.
Qosim, yang juga almunus Al-Azhar Kairo dan ISID Gontor, sepakat dengan apa
yang disampaikan Kiai Navis tentang gerakan liberalisme di Indonesia.
Menurutnya, ormas Islam memang harus bersih dari oknum-oknum liberal
berkepentingan sesaat.
“Dalam Tatib di Muhammadiyah juga sama. Melarang orang liberal menjadi
pengurus,” ujar Qosim yang pernah menjadi pengurus Muhamadiyah Cabang Kairo
Mesir.
Ia juga meminta kaum Muslim Indoesia harus mengkaji pemikiran-pemikiran para
pendiri ormas, agar jamaahnya paham bahwa pendiri ormas Islam anti-liberal.
“Kita perlu pemahaman lebih lanjut ke akar rumput tentang pemikiran KH. Hasyim
Asyari pendiri NU dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Mereka tidak
pernah mengajarkan liberalisme,” terang pria asal Medan itu.
Dalam keterangannya, paham liberalisme di Indonesia yang menjiplak dari kaum
Shopist di Barat, itu sudah masuk ke akar rumput. Isunya bahkan terus bergulir
dan tak berhenti hingga kini.
“Maka tugas ormas dan ulama kita memberi penjelasan lebih lanjut dengan bahasa
yang bisa dipahami masyarakat akar rumput,” pungkasnya.*
Rep: Kholili Hasib
Red: Cholis Akbar
[Non-text portions of this message have been removed]