http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/18/108393/metamorfosa_organisasi_teror/#.USVSv1ebJlk
Senin, 18 Feb 2013 00:01 WIB
Metamorfosa Organisasi Teror
SERANGAN bom di Quetta, yang menewaskan lebih dari 80 orang, Sabtu lalu,
menambah panjang daftar kekerasan sektarian di Pakistan. Berlanjutnya serangan
yang terutama ditujukan terhadap kelompok minoritas Syiah ini menunjukkan bahwa
militansi di negeri telah bermetaforsa ke bentuk-bentuk yang berbeda.
Aksi pemboman, yang diklaim dilakukan kelompok militan Lashkar-e-Jhangvi,
Sabtu lalu itu memang sangat mengerikan, bahka di luar akal sehat. Serangkain
bom sengaja ditujukan ‘murni’ ke penduduk sipil, seperti di arena bazaar, pusat
penjualan komputer dan sekolah. Dengan sasaran ini maka tak heran jika banya
diantara korban adalah wanita dan anak-anak.
Tindakan ‘gila’ Lashkar-e-Jhangvi ini juga bukan serangan brutal mereka
yang pertama. Bulan lalu saja, tercatat lebih dari 100 warga Syiah tewas dalam
serangan, baik akibat penembakan atau pemboman, akibat ulah kelompok ini maupun
afiliasinya. Perlu pula menjadi catatan: tahun lalu lebih 400 warga Syiah yang
tewas dalan serangan aksi serupa, sungguh merupakan angka yang sangat
mengerikan.
Yang semakin mengerikan dari serangan biadab ini adalah bahwa tak ada
motif yang jelas di balik semua serangan ini. Berbeda dengan kelompok-kelompok
militan lain yang berafiliasi denga Al Qaeda, yang mempunyai agenda politik dan
sasara yang sangat jelas: melawan Barat, Lashkar-e-Jhangvi tak memiliki agenda
politik, selain menggelorakan kebencian warga Sunni terhadap warga Syiah.
Dalam sejumlah pidato, para pemimpin Lashkar-e-Jhangvi, secara tersirat
hanya menegakan bahwa tujuan akhir mereka adalah menjatuhkan pemerintah sekuler
Pakistan dan membentuk pemerintah Islam Sunni. Tapi dengan tujuan politik
seperti ini pun, membidik warga Syiah sebagai sasaran serangan jelas salah
kaprah. Di pemerintahan Pakistan, pengaruh Syiah sangatlah kecil karena
mayoritas kepemimpan negeri itu dipegang oleh tokoh-tokoh Sunni, yang memang
merupakan warga mayoritas di Pakistan.
Padahal kalau dilihat dari sejarah terbentuknya Lashkar-e-Jhangvi maupun
kelompok-kelompok sejenis, organisasi militan ini semuanya merujuk pada
organisasi: Taliban dan Al Qaeda. Dua organisasi ini dibentuk untuk melawan
kolonialisasi asing, baik Uni Soviet saat Afghanistas dijajah negara komunis
itu maupun ‘penjajahan modern’ Barat terhadap negara-negara Islam, yang menjadi
dasar perjuangan Al Qaeda.
Taliban, apalagi Al Qaeda, bahkan mengusung konsep persatuan ummat Islam
tanpa memandang aliran. Jadi aneh jika kelompok-kelompok yang sebenarnya
merujuk kepada dua organisasi ini sebaliknya mengusung agenda sektarian dan
permusuhan antar ummat Islam.
Lashkar-e-Jhangvi maupun kelompok-kelompok sektarian sejenis, tampaknya
merupakan perubahan bentuk (metamorfosa) dari kelompok-kelompok militan. Untuk
tetap bisa ‘hidup’ dan menggelorakan semangat berperang yang menjadi inti dari
gerakan kelompok militan organisasi ini harus terus mencari ‘musuh bersama’
kelompok mereka. Setelah ‘musuh Barat’ mulai menjadi konsep usang atau mungkin
terlalu kuat, mereka mencari sasaran yang lebih gampang: isu sektarian,
terutama antara kelompok Sunni dan Syiah.
Lashkar-e-Jhangvi pun tidak sendiri. Model organisasi ini terdapat
dibanyak negara Timur Tengah lainnya. Kelompok militan yang mengusung sektarian
ini bahkan telah menjadi kelompok mayoritas yang mendominasi pelaku aksi
terorisme di dunia.
Di Afhanistan, Irak, Suriah, Yaman. Libia, dan di sejumlah negara Timur
Tengah yang bergejolak lainnya, kekerasan terorisme tak lagi dengan sasaran
Barat, tapi telah menyasarkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan.
yang menamkan kerumitan, aksi serangan sektarian ini umumnya didukung oleh
militer setempat atau bahkan oleh negara asing.
[Non-text portions of this message have been removed]