http://www.berdikarionline.com/editorial/20121010/ketika-sby-dipuja-puji.html

Ketika SBY Dipuja-puji
Rabu, 10 Oktober 2012 | 1:12 WIB   ·   

 
Akhirnya Presiden SBY menjawab harapan khalayak anti-korupsi. Banyak yang 
bilang, itulah pidato SBY yang paling berisi. Yang lainnya bilang, akhirnya 
kita punya Presiden. Banjir pujian tak henti-hentinya mengalir di jejaring 
sosial, khususnya Facebook dan Twitter. Artikel puja-puji terhadap sikap tegas 
Presiden SBY juga tak habis-habisnya di media massa nasional.

Bagi sebagian besar khalayak, pidato SBY tersebut telah menyelamatkan KPK. 
Dengan demikian, SBY telah menggunakan kekuasaannya untuk menyelamatkan gerakan 
pemberantasan korupsi di Indonesia. Alhasil, lewat pidato berdurasi 40 menit 
itu, SBY kembali meraih mahkota “anti-korupsi”.

Pidato 40 menit itu seakan membuat kita tiba-tiba amnesia. Kita tak ingat lagi 
kalau banyak kader partainya pak SBY, Demokrat, tersangkut kasus korupsi. 
Testimoni Antasari Ashar baru-baru ini juga menyeret tanggung-jawab SBY dalam 
pengambilan keputusan bailout Bank Century. Kita lupa dengan “Apel Malang” dan 
“Apel Washington”, yang sampai sekarang tak terungkap itu.

Dan itulah muara dari perseteruan KPK: SBY tampil bak pahlawan anti-korupsi. 
Dan itu pula yang menjadi tujuan pokok dramaturgi “pelemahan KPK”. Episodenya 
tidak pernah berakhir. Kalau dulu ada “Cicak versus Buaya”, maka sekarang 
“Pelemahan KPK”.

Sejak awal, kami kurang setuju dengan istilah “pelemahan KPK” itu. Bagi kami, 
sejak awal KPK memang sudah lemah. Sekalipun bertamengkan kewenangan dan 
kekuasaan luar biasa, KPK tetap kerdil ketika berhadapan dengan kasus korupsi 
besar: skandal Century, kasus Hambalang, Wisma Atlet, Program Percepatan 
Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi (PPIDT), dan lain-lain. Toh, 
korupsi makin merajalela. Korupsi bukan hanya mewabah, tapi seakan menjadi gaya 
hidup (Life style). Lihat saja, koruptor yang keluar-masuk gedung KPK bak 
selebritis!

Urusan pemberantasan korupsi tak bisa mengandalkan satu lembaga saja. Katanya, 
korupsi di Indonesia itu bersifat sistemik. Harusnya pendekatan anti-korupsinya 
juga bersifat sistemik. Artinya, sistem ekonomi, politik, dan budaya kita mesti 
dirancang untuk mengecilkan ruang terjadinya korupsi. Misalkan: proses 
penyusunan anggaran harus partisipatif (bukan di tangan segelintir elit). 
Proses pengalokasian dan penggunaannya pun harus transparan dan dikontrol oleh 
rakyat.

Ironisnya, SBY hanya bisa begitu untuk kasus korupsi. Coba lihat, ketika jutaan 
buruh se-Indonesia menuntut penghapusan outsourcing, upah layak, dan jaminan 
kesehatan untuk rakyat, SBY tak “nongol” di Televisi. SBY juga diam tatkala 
beberapa petani tumpas di tangan aparat Polri karena mempertahankan tanahnya.

SBY juga tak pernah tegas ketika segelintir ekstremis berusaha mengobrak-abrik 
bangunan kebangsaan kita dengan menebar kebencian terhadap minoritas dan 
menggelar provokasi berbau SARA di berbagai daerah. SBY tak bisa berbuat ketika 
ada warga negara yang dihalang-halangi beribadah sesuai dengan agama atau 
keyakinannya.

Ingat, SBY– yang kita anggap “The Real President” itu—adalah orang yang 
mengobral kekayaan alam Indonesia ke berbagai korporasi besar asing. Pada 24 
September 2012 lalu, saat menghadiri Indonesia Investment Day (IID) di Bursa 
Saham New York atau New York Stock Exchange (NYSE), SBY bilang: “Anda dapat 
menemukan hampir segala sesuatu di Indonesia: minyak dan gas, batubara, panas 
bumi, timah, tembaga, nikel, aluminium, bauksit, besi, kakao, kopi. Di bawah 
bumi kami memiliki tanah minyak, begitu pula di bawah laut. Di atas tanah, kami 
juga punya minyak, minyak kelapa sawit.” Pertemuan itu dihadiri oleh bos dari 
sejumlah korporasi raksasa dunia, seperti BM, Honeywell, Cargill, Goldman 
Sachs, Boeing, dan General Electric.

Korupsi memang persoalan besar bangsa ini. Keuangan negara terus-menerus bocor 
karena praktek korupsi: pendidikan sebesar Rp 115,7, miliar; keuangan daerah Rp 
417,4 miliar; sosial kemasyarakatan Rp 299 miliar; transportasi Rp 88,7 miliar; 
kepemerintahan Rp 26,9 miliar; kesehatan Rp 26,8 miliar; pemilu atau pilkada 
dan politik atau legislasi Rp 47,7 miliar; pertanian Rp 17,7 miliar; energi 
atau listrik Rp 70 miliar; dan kepemudaan atau organisasi Rp 42,3 miliar. 
(Temuan ICW, 2011).

Tetapi, kita juga harus mengetahui, ada praktek pembocoran lain yang jauh lebih 
dahsyat dan berlangsung terus-menerus. Itulah praktek neokolonialisme. 
Neokolonialisme membuat korporasi asing mengangkangi semua sektor perekonomian 
nasional kita. Data menyebutkan, korporasi asing menguasai sektor migas 
(85-90%), kekayaan batubara (75%), mineral (89%), perkebunan (50%), perbankan 
nasional (50,66%), pasar modal (60-70%), dan lain-lain. Dan SBY punya andil 
besar atas segala bentuk praktek neokolonialisme itu!

Neokolonialisme, dengan wajah barunya Neoliberalisme, ini lebih ganas lagi. Ia 
memaksakan semua layanan dasar rakyat diserahkan pada mekanisme pasar. 
Akibatnya, rakyat sekarang susah mengakses pendidikan, kesehatan, layanan air 
bersih, perumahan, dan lain-lain. Sudah begitu, tiap-tiap orang Indonesia yang 
baru lahir sudah dibebani utang Rp 9 juta per kepala akibat utang luar negeri 
yang sudah nyaris menghampiri Rp 2000 trilyun. Ingat juga, pemerintahan SBY 
sudah memastikan kenaikan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) tahun depan.

Nah, kalau sudah begitu, apa masih pantas kita mengumbar puja-puji?


Sumber Artikel: 
http://www.berdikarionline.com/editorial/20121010/ketika-sby-dipuja-puji.html#ixzz2LU7G35Gx
 
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke