ref: Apakah rasa malu SBY tidak merosot? 

http://www.berdikarionline.com/editorial/20130220/sby-dan-rasa-malu.html

SBY Dan Rasa Malu
Rabu, 20 Februari 2013 | 1:23 WIB   ·   1 Komentar 

 
Ada yang janggal dari pernyataan Presiden SBY saat perayaan Tahun Baru Imlek 
Nasional 2564 di Jakarta, Selasa (19/2). Presiden SBY menilai rasa malu di 
tengah masyarakat sudah mulai merosot.

Menurut Presiden SBY, hal itu terlihat dari masih terjadinya korupsi, 
kongkalikong, kekerasan, fitnah, caci maki, dan berbagai keburukan lainnya. 
“Itu adalah tanda-tanda merosotnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat kita. 
Situasi ini sungguh memprihatinkan kita,” kata SBY.

Lebih lanjut, Presiden SBY menegaskan, rasa malu memudar karena tergerus 
nilai-nilai materialistik, kepentingan sesaat, dan praktik jalan pintas. Dan, 
seperti biasanya, Presiden menyampaikan keprihatinan atas merebaknya praktek 
korupsi di tanah air.

Pernyataan Presiden SBY di atas cukup janggal. Pertama, Presiden SBY seakan 
ingin menempatkan dirinya sebagai manusia bijaksana di tengah lingkungan sebuah 
bangsa yang sedang rusak. Ia seolah-olah bertindak sebagai “manusia suci” di 
tengah kerumunan orang jahat.

Padahal, kalau kita melihat secara jujur, SBY merupakan bagian terpenting dari 
berbagai masalah kebangsaan saat ini. Partainya Presiden SBY, yakni Demokrat, 
sedang dikepung banyak kasus korupsi. Bahkan, Ketua Umum Partai Demokrat 
tersangkut kasus korupsi.

Pekan lalu, anak Presiden SBY yang anggota DPR, Edhie Baskoro Yudhoyono alias 
Ibas, tertangkap basah membolos dari Sidang Paripurna DPR. Ibas hanya mengisi 
absensi kemudian meninggalkan rapat. Bahkan, dari berbagai pemberitaan di media 
massa, seolah-olah anak Presiden SBY itu menikmati perlakuan khusus selama 
menjadi anggota DPR.

Beberapa minggu terakhir juga tersebar isu tak sedap terkait dugaan SBY dan 
keluarganya tidak transparan terkait pelaporan pajak kekayaannya. Bayangkan, 
kalau orang nomor satu di Republik ini tidak transparan soal kekayaan dan 
laporan pajaknya, bagaimana dengan warga negara yang lain?

Presiden SBY juga tidak merespon, bahkan terkesan menutup-nutupi, berbagai 
tudingan kelompok oposisi terkait dugaan keterlibatan Wakil Presiden Boediono 
dalam dua skandal korupsi besar, yakni Bank Century dan BLBI. Akibatnya, muncul 
kesan seolah-olah Wapres Boediono tidak bisa tersentuh oleh proses hukum 
terkait dugaan korupsi yang melibatkan dirinya. Prinsip equality before the law 
(semua sama di mata hukum) seakan tak berlaku di sini.

Ketika Presiden berbicara soal rasa malu, ia tidak bercermin pada dirinya, 
keluarganya, partainya, dan pemerintahannya. Presiden SBY seakan lupa bahwa 
dirinya, keluarganya, partainya, dan pemerintahannya gagal memberikan teladan 
yang baik terhadap bangsanya.

Kedua, Presiden SBY berupaya menarik berbagai persoalan kebangsaan itu dari 
bingkai struktural, yakni relasi ekonomi-politik, dan menempatkannya dalam 
bingkai moralitas belaka. Ini merupakan jalan pintas untuk cuci tangan dari 
berbagai persoalan bangsa. Selain itu, dengan menempatkan berbagai persoalan 
bangsa dalam kerangka moral, SBY berusaha menggiring kita untuk melihat 
persoalan itu sebagai persoalan individual atau oknum semata.

Padahal, dalam benak kami, berbagai persoalan kebangsaan sekarang, termasuk 
korupsi, tidak terlepas atau direproduksi oleh pilihan kebijakan 
ekonomi-politik pemerintahan SBY. Menurut kami, meluasnya praktek korupsi tidak 
bisa dilepaskan dari kebijakan ekonomi yang menempatkan motif mencari 
keuntungan sebesar-besarnya di atas kemanusiaan, yang hanya mengejar 
pertumbuhan tetapi melanggengkan ketidaksetaraan, yang mempromosikan 
komoditifikasi terhadap seluruh barang publik dan sumber daya. Itulah sistim 
kapitalisme.

Sistem itu, seperti dikatakan oleh filsuf India, Dr Vandana Shiva, tak mengenal 
makna kehidupan, tidak punya nilai, tidak punya etika, tidak punya rasa 
keadilan, tidak mengenal rakyat, tidak memberi tempat pada kesetaraan dan 
penghargaan terhadap martabat manusia. Sebaliknya, kata Vandana Shiva, sistem 
itu hanya mengenal konsumtivisme dan keserakahan.

Ketiga, dalam pidato SBY itu ia terang-terangan menyebut kata “fitnah” dan 
“caci-maki” untuk menandai merosotnya rasa malu di tengah masyarakat. 
Kelihatannya, Presiden SBY gerah dengan kritikan luas dan pedas dari berbagai 
sektor masyarakat terhadap pemerintahannya.

Selama SBY berkuasa, ia memang sering menjadikan kata “fitnah” sebagai senjata 
efektif untuk menangkis kritikan publik atas pemerintahannya. Padahal, SBY 
seharusnya menjadikan kritikan itu sebagai momen pembelajaran dan evaluasi 
terhadap diri dan kebijakannya.

Baca Juga:
  a.. Politik Anti Korupsi 
  b.. SBY Dan Anti-Korupsi 
  c.. SBY Gagal Berantas Korupsi 
  d.. Memaknai Peringatan Hari Anti Korupsi 
  e.. Ketika Anggota DPR Doyan Bolos


 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke