Ref:  Ham haram di NKRI, jadi jangan kuliah.. hehehe . Dalam EU Code of Conduct 
on Arms Export, 

CRITERION TWO 

The respect of human rights in the country of final destination 

Having assessed the recipient country's attitude towards relevant principles 
established by international human rights instruments, Member States will: 
a) not issue an export licence if there is a clear risk that the proposed 
export might be used for internal repression. 
b) exercise special caution and vigilance in issuing licences, on a 
case-by-case basis and taking account of the nature of the equipment, to 
countries where serious violations of human rights have been established by the 
competent bodies of the UN, the Council of Europe or by the EU; 
For these purposes, equipment which might be used for internal repression will 
include, inter alia, equipment where there is evidence of the use of this or 
similar equipment for internal repression by the proposed end-user, or where 
there is reason to believe that the equipment will be diverted from its stated 
end-use or end-user and used for internal repression. In line with operative 
paragraph 1 of this Code, the nature of the equipment will be considered 
carefully, particularly if it is intended for internal security purposes. 
Internal repression includes, inter alia, torture and other cruel, inhuman and 
degrading treatment or punishment, summary or arbitrary executions, 
disappearances, arbitrary detentions and other major violations of human rights 
and fundamental freedoms asset out in relevant international human rights 
instruments, including the Universal Declaration on Human Rights and the 
International Covenant on Civil and Political Right

http://us.dunia.news.viva.co.id/news/read/343239-sby--jangan-kuliahi-indonesia-soal-ham

SBY: Jangan Kuliahi Indonesia Soal HAM
Karena syarat politik, Indonesia urung beli tank dari Belanda.
ddd
Kamis, 9 Agustus 2012, 23:14 Denny Armandhanu, Suryanta Bakti Susila 
 
Presiden SBY (Dok. Kementerian Luar Negeri)


VIVAnews - Pemerintah Indonesia sempat akan membeli Main Battle Tank Leopard 
dari Belanda. Namun, karena pemerintah Belanda mengajukan syarat politik, 
Indonesia akhirnya mengalihkan pembelian ke Jerman.

"Pengadaan MBT Leopard, sebelumnya dari Belanda. Tapi, akhirnya kita beralih ke 
Jerman, karena ada persinggungan dengan posisi diplomatik, baik bilateral 
maupun regional," kata SBY di Mabes TNI, Jakarta, Kamis 9 Agustus 2012.

Menurut SBY, ada keberatan dari salah satu unsur pemerintahan Belanda yang 
khawatir kendaraan tempur itu akan digunakan untuk pelanggaran HAM di 
Indonesia. Parlemen Belanda tidak setuju penjualan tank ke Indonesia, karena 
catatan pelanggaran HAM di Papua. 

Parlemen Belanda meminta jaminan dari Indonesia bahwa tank mereka tidak akan 
digunakan untuk tujuan tersebut. Dikatakan seperti itu, SBY berang dan urung 
membeli tank dari negara bekas penjajah Indonesia tersebut.

"Jangan menguliahi Indonesia tentang HAM. Penjajahan, itu baru pelanggaran 
HAM," kata SBY.

Ketika bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel, SBY menjelaskan posisi Indonesia 
yang tidak mau ada persyaratan politik dalam pengadaan alutsista. Sebab, 
Indonesia membeli alutsista dengan uang sendiri, tidak pada tempatnya 
diributkan oleh negara penjual.

"Waktu bertemu Kanselir Merkel, saya jelaskan posisi indonesia. Jangan ada 
anasir-anasir di negara mana pun. Indonesia punya posisi," ujar Presiden.

Menurut SBY, Indonesia ingin mandiri dan tidak tergantung negara lain. Yakni, 
tak pernah beli alutsista kalau ada persyaratan politik. "Di negara mana pun 
selalu ada pro dan kontra. Yang penting konsep kami jelas, posisi kami jernih, 
rencana kami jelas, untuk kepentingan pertahanan," kata Yudhoyono. (art)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke