Ref: Data statistik harus diperindah agar wajah rezim berkuasa selalu manis, 
cantik lagi sexy terhadap rakyat yang selalu ditipu untuk percaya bahwa bersama 
rezim tukang catut bin korupsi di horizont terdapat kehidupan sejahtera lagi 
aman dan damai.  Partai-partai politik semuanya terlibat dalam permainan 
kongkalikong  pembohongan,  karena  tanpa  menyelidiki angka-angka yang 
disogohkan, apakah lurus atau mencong, mereka mengiyakan apa yang disuguhkan 
oleh SBY dan konco bin sahabat karibnya.


http://www.shnews.co/detile-15099-data-kemiskinan-harus-dikoreksi-.html

Data Kemiskinan Harus Dikoreksi 
Tajuk Rencana | Selasa, 19 Februari 2013 - 14:20:39 WIB

: 135 




(dok/antara)

Indikator kemiskinan di Indonesia harus diperbaiki.


Nyata benar beda data yang dimiliki para ekonom dengan klaim pemerintah 
mengenai jumlah penduduk miskin. 

Selama ini pemerintah mengklaim penduduk miskin hanya 29 juta orang, suatu 
angka yang menunjukkan prestasi sangat bagus. Namun, banyak ekonom mengkritik 
angka tersebut tidak valid karena pemerintah menggunakan batasannya sendiri dan 
tidak mengikuti standar internasional. 

Ekonom kawakan yang baru meluncurkan dua buku, JB Sumarlin, mengkritik 
kecenderungan perkembangan ekonomi saat ini makin liberal dan menjauh dari 
cita-cita kemerdekaan. 

Ia juga menyodorkan angka jumlah penduduk miskin yang jauh di atas klaim 
pemerintah, yaitu 70 juta orang lebih. Data yang disodorkan mantan menkeu 
tersebut sangat mungkin lebih akurat karena ia menggunakan standar PBB mengenai 
penduduk miskin, yaitu mereka yang berpenghasilan di bawah US$ 2 sehari. 

Ia bahkan mengkritik strategi pembangunan yang makin melenceng dan tidak 
meningkatkan kesejahteraan rakyat. "Walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi 
tidak menghasilkan lapangan kerja yang banyak. Ada beberapa hal yang harus 
diperhatikan, contohnya masalah kemiskinan. Saat ini di Indonesia ada 70 juta 
penduduk miskin," katanya. 

Makin jelas data publikasi pemerintah atas dasar hasil penelitian Badan Pusat 
Statistik (BPS) cenderung menyesatkan karena dilatarbelakangi tujuan 
pencitraan, seolah-olah penduduk miskin turun drastis. BPS tidak menggunakan 
standar PBB, melainkan mengeluarkan mereka yang berpenghasilan di atas Rp 7.800 
sehari dari kategori miskin. 

Konsorsium pemikir yang dekat dengan pemerintah, Komite Ekonomi Nasional (KEN), 
masih menggunakan data BPS tersebut, namun menyatakan selain 29 juta penduduk 
miskin, terdapat 70 juta orang lainnya yang sangat rentan menjadi miskin. 
Mereka terjebak dalam kondisi yang sulit untuk keluar dari lingkaran 
kemiskinan, bahkan pendapatan mereka terus-menerus tergerus oleh inflasi setiap 
tahun. 

Kalau angka KEN tersebut dijumlahkan, sebenarnya terdapat hampir 100 juta 
penduduk miskin dan hampir miskin, yang berarti sekitar 40 persen dari jumlah 
rakyat kita. Jumlah itu hampir sama bila kita menggunakan standar 
internasional. 

Oleh karena itu, tanpa mengecilkan keberhasilan di bidang lain, jumlah penduduk 
miskin hanya sedikit sekali berkurang selama pemerintahan SBY ini. Pertumbuhan 
ekonomi memang terjaga cukup tinggi, namun tidak berkorelasi pada kesejahteraan 
rakyat secara merata. 

Yang terjadi, seperti dikritik Sumarlin, kesenjangan ekonomi semakin lebar. 
Mereka yang kaya bertambah makmur, sedangkan rakyat miskin terjebak dalam 
lingkaran yang mereka tidak tahu bagaimana meretasnya, apalagi jalan keluarnya. 

Hal paling pokok adalah perlunya kejujuran pemerintah. Pemerintahan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak perlu memoles angka-angka kemiskinan hanya 
untuk pencitraan. 

Politik pencitraan sudah terbukti tidak bermanfaat apa pun bagi penguasa karena 
kelakuan aparat pemerintah sendiri yang korup sehingga citranya terus memburuk. 
Demikian pula dengan partai penguasa yang dipimpin SBY juga makin terpuruk. 

Kita meminta kejujuran pemerintah dan kesediaannya untuk mengoreksi angka-angka 
kemiskinan tersebut dengan menggunakan standar PBB, sehingga tidak ada standar 
ganda. 

Pemerintah tidak akan kehilangan muka dengan kejujurannya itu, bahkan 
diapresiasi sebagai kerendahan hati untuk mengakui fakta-fakta yang benar. 
Pemerintah, DPR, ekonom dan kita semua memiliki basis data yang sama untuk 
melihat persoalan kemiskinan tersebut dan berpikir bersama untuk mencari jalan 
keluarnya. 

Pemerintah tentu membutuhkan anggaran lebih besar untuk membantu rakyat miskin 
yang jumlahnya sangat besar itu. Sah-sah saja. Pemerintah justru dituntut 
memiliki politik anggaran yang jelas demi kesejahteraan rakyat. 

Bukan hanya memperbesar proyek-proyek, yang sering dikendalikan mafia, 
melibatkan pejabat, anggota DPR dan pengusaha. Mereka perampok anggaran yang 
tidak punya hati, apalagi memikirkan rakyat miskin. 

Kita meminta pemerintah segera merevisi standar garis kemiskinan tadi. Tidak 
ada gunanya lagi, kecuali harus kembali menggunakan standar internasional. 
Pemerintah bisa menipu diri dengan klaim turunnya jumlah penduduk miskin, namun 
rakyat yang makin cerdas tidak bisa ditipu terus-menerus. 

Sumber : Sinar Harapan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke