Ref: Tidak orang yang mau menyelamatkan diri dari perlakuan adil dan haknya.
http://www.metrotvnews.com/front/view/2013/02/22/1426/Selamatkan-Papua-Kita/tajuk Selamatkan Papua Kita Metro View | Jumat, 22 Februari 2013 WIB Suryopratomo KITA semua berduka atas gugurnya delapan prajurit Tentara Nasional Indonesia dan dua warga Papua dalam serangan di dua tempat di Puncak Jaya, Papua, hari Kamis. Kekerasan yang kembali terjadi di wilayah paling Timur Indonesia itu menimbulkan jatuhnya korban di antara anak bangsa sendiri. Tentu kita tersentak karena jumlah korban yang jatuh begitu banyak. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono langsung mengatakan bahwa Presiden akan memimpin Sidang Kabinet Darurat untuk membahas penyerangan yang dilakukan Gerakan Pengacau Keamanan. Kita boleh terpukul oleh penyerangan itu apalagi dilakukan terhadap prajurit TNI yang ditugaskan untuk menjaga keutuhan wilayah Indonesia. Kita harus menegakkan aturan dan mengejar para pelaku penyerangan, apalagi ada satu prajurit yang belum diketahui nasibnya. Namun tentunya kita tidak boleh sampai kehilangan kepala dingin. Kita tidak boleh sampai terpancing untuk menerapkan pendekatan keamanan dalam menumpas gerakan pengacau keamanan. Terlalu banyak pihak yang menunggu pemerintah untuk terpaksa dan kemudian menggunakan pendekatan represif. Jumlah kelompok pengacau keamanan sendiri sebenarnya sudah jauh berkurang. Bahkan kelompok yang menuntut kemerdekaan bagi Papua, jumlahnya tidak banyak. Karena jumlahnya yang kecil, mereka berharap mendapat perhatian dari masyarakat internasional. Dengan jaringan yang mereka bangun, kelompok kecil itu mendapat dukungan dari beberapa pihak yang ada di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. Bukan mustahil apabila kelompok yang ada di London, Jenewa, Belanda, New York memberikan bantuan keuangan kepada gerakan pengacau keamanan yang ada di Papua. Motif yang melatarbelakangi bisa bermacam-macam. Namun Papua merupakan salah satu pulau terbesar di dunia yang kaya dengan sumber daya alam. Tambang yang ada di dalam perut Bumi Papua menarik perhatian banyak pihak untuk ikut mengeksploitasinya. Begitu pemerintah terpancing untuk menggunakan pendekatan keamanan, maka gerakan pemisahan Papua dari Indonesia akan semakin membesar. Kelompok-kelompok yang menginginkan untuk bisa menguasai Papua, sangat senang apabila Papua terpisah dari Indonesia. Inilah yang harus kita sadari dan harus juga kita hindari. Kita setuju bahwa Papua harus kita buat merdeka, namun bukan sebagai sebuah negara baru, tetapi merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari ketertindasan. Untuk itu maka tidak ada jalan lain kecuali kita melakukan pendekatan kesejahteraan terhadap saudara-saudara kita yang ada di Papua. Kita harus membangun Papua bukan hanya sekadar ekonominya, tetapi juga secara sosial. Kita harus memberdayakan orang Papua agar tidak kalah dari orang Indonesia lainnya. Kita harus mengakui bahwa masih banyak orang Papua yang masih hidup seperti di zaman batu. Mereka tinggal di hutan-hutan tanpa ada rumah yang menaungi. Kehidupan mereka masih banyak yang tergantung dari apa yang tersedia di alam, karena mereka belum mengenal cara bercocok tanam. Dengan alamnya yang berat, belum semua desa memiliki sekolah. Akibatnya belum semua anak mendapatkan pendidikan yang layak. Kalau pun sekolah ada, belum tentu ada guru yang mau mengajari mereka, karena perhatian terhadap guru jauh dari mencukupi. Infrastruktur yang tersedia sangat jauh dari memadai. Jangankan mereka yang tinggal di pegunungan tengah Papua, mereka yang tinggal di Timika saja hanya bisa berjalan kaki untuk mengunjungi desanya. Karyawan PT Freeport Indonesia yang berasal dari wilayah gunung, menghabiskan perjalanan sepuluh hari dengan jalan kaki ketika mengambil hak cuti mereka. Dengan jatah cuti 12 hari selama satu tahun berarti hanya dua hari saja mereka bisa kembali melihat desanya. Buruknya infrastruktur membuat segala kebutuhan hidup di Papua menjadi mahal sekali. Harga bensin di pedalaman Papua bisa mencapai Rp 15.000 per liter. Harga semen bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap zaknya. Padahal pendapatan mereka sangatlah terbatas. Tidak usah heran apabila kemiskinan kemudian mendera masyarakat Papua. Padahal selalu dikatakan daerah itu begitu kaya raya. Para pendatang yang mampu mengeksploitasi kekayaan Papua, bisa hidup bergelimangan harta. Belum lagi banyaknya suku yang membuat mereka mudah untuk berkonflik. Ketika perselisihan terjadi, maka pertempuran di antara suku bisa menyebabkan jatuh korban, karena mereka salah menggunakan senjata dan anak panah. Ketika perdamaian berhasil dilakukan, tradisi mereka mengharuskan kematian dibayar dengan uang. Itulah yang membuat masyarakat Papua mudah kehilangan harta kekayaannya. Semua itu tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan dana alokasi khusus atau menerapkan otonomi khusus. Kita harus memberdayakan masyarakat Papua, agar mereka bisa membangun dirinya. Hanya dengan itulah, maka mereka akan membangun kesejahteraan bagi keluarganya. Pendampingan bahkan perlu dilakukan pada hal yang paling mendasar. Kita misalnya mengajarkan penduduk di daerah pegunungan untuk mengenal bercocok tanam. Oleh karena itu, apabila kita ingin "memerdekakan" Papua bukan lagi dengan membawa senjata, tetapi membawa pacul. Memang terlihat ekstrem cara pemikiran yang kita lontarkan. Tetapi dari pengalaman mereka yang bertugas di Papua, itulah yang harus dilakukan. Apabila kita mampu memberikan kesejahteraan bagi lebih banyak orang Papua, maka pasti akan hilang keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia. [Non-text portions of this message have been removed]
