Ref: Petinggi-petinggi partai politik adalah orang dewasa tetapi kelakuan mapun 
poitik dan pelaksanaannya tidak dewasa maka oleh sebab itu Gus Dur bilang bahwa 
DPR dimana mereka berkerumum dan berkicau adalah bagaikan taman kanak-kanak.

http://www.shnews.co/detile-15317-menyoal-kedewasaan-partai-politik.html


Menyoal Kedewasaan Partai Politik 
Jeffrie Geovanie* | Jumat, 22 Februari 2013 - 14:45:31 WIB

: 151 




(dok/SH)

Kurang terbukanya ruang demokratisasitubuh partai politik ini berpotensi 
mengerdilkan individu.


Tugas partai politik antara lain mendewasakan rakyat melalui pendidikan 
politik. Namun pada saat partai politik sendiri belum dewasa, misalnya dalam 
menyikapi perbedaan, bagaimana dia akan memberikan pendidikan politik pada 
rakyat? 

Ungkapan umum yang sering dikatakan dan kita dengar adalah bahwa partai politik 
merupakan pilar utama demokrasi. Namun pertanyaan yang banyak mengumandang 
adalah bagaimana dengan demokrasi di kalangan internal partai-partai politik? 
Sudah demokratiskah proses pengambilan keputusan politik yang dijalankan? 
Kenapa pengaruh pemimpin pusat atau para pendiri begitu kuat? Banyak lagi 
pertanyaan sumir yang ditujukan pada partai politik. 

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, tampaknya pendidikan demokrasi layak 
dilakukan terhadap fungsionaris partai-partai politik, sehingga mampu memahami 
prinsip-prinsip dasar demokrasi. Kian terbukanya pertikaian partai-partai 
politik di kalangan masyarakat menunjukkan satu kondisi riil, di mana pilar 
demokrasi itu sendiri masih menghadapi masalah yang serius. 

Dalam penyelesaian kasus persengketaan di parlemen, misalnya, terasa sekali 
bagaimana hak-hak anggota parlemennya sendiri didistorsi. Mereka yang secara 
konstitusional mewakili konstituen dan daerah pemilihannya, pada kenyataannya 
harus lebih tunduk kepada pemimpin partai politik masing-masing, entah untuk 
membentuk “koalisi”,”kaukus”, atau yang semacamnya. 

Kurang terbukanya ruang demokratisasi dalam tubuh partai politik berpotensi 
mengerdilkan individu-individu yang bergabung di dalamnya, dan menyuburkan 
praktik korupsi, baik dilakukan oleh individu untuk kepentingan individu maupun 
secara kolektif untuk kepentingan partainya. Banyaknya kader-kader partai 
politik yang masuk bui karena terjerat korupsi membuktikan buruknya integritas 
individual (aktivis) partai politik. 

Persoalan-persoalan “dapur” itulah yang masih belum terbuka kepada publik. 
Dengan demikian, ketika partai politik mendapatkan kesempatan emas untuk 
memainkan peran utama dalam transisi demokrasi, bahkan dengan mengesampingkan 
peranan dari birokrasi dan – bahkan – militer, terasa sekali partai politik 
belum begitu siap. Yang banyak kita temukan, partai politik baru pada tahap 
menjadi alat politik, atau sekadar menjadi perahu bagi mereka yang ingin 
berlayar menuju pulau jabatan. 

Sebagai penentu kehidupan berdemokrasi, selayaknya partai-partai politik mulai 
menentukan arah perkembangannya. Jangan sampai partai politik hanyalah milik 
sejumlah keluarga terpandang, produk dari budaya feodal dalam bentuk pewarisan 
kekuasaan secara turun-temurun. 

Realitasnya memang demikian, terutama di tingkat lokal ketika partai-partai 
politik dikuasai secara turun-temurun oleh segelintir orang. Dalam suasana 
demikian, bagaimana bisa partai politik bisa terbuka terhadap perbedaan? 
Bagaimana bisa melakukan perubahan jika dari segi perekrutan saja masih 
berdasarkan nilai-nilai lama? 

Menguji Diri 

Partai politik harus menguji dirinya dengan melakukan proses kaderisasi dan 
perekrutan atas kaum profesional yang bertebaran di luar dirinya. Selama ini, 
terdapat upaya menepuk dada di kalangan sejumlah fungsionaris, betapa merekalah 
yang berkeringat dan berkucuran darah dan air mata untuk “membangun” partai 
politik. Padahal, hakikatnya yang membangun partai politik menjadi besar adalah 
rakyat, terutama mereka yang telah memilihnya dalam pemilu. 

Jangan lupa, pemilih hari ini adalah pemilih yang relatif otonom, mudah 
berpindah haluan, tetapi bukan berarti tidak konsisten. Karena itu, proses 
pembaruan dan keterbukaan di tubuh partai politik banyak ditunggu oleh kalangan 
pemilih, terutama yang sudah melek politik. 

Melihat realitas yang masih belum menggembirakan, dalam kenyataannya, partai 
politik belum mampu menjadi unsur utama dalam transisi demokrasi karena masih 
ketinggalan dalam melakukan pembaruan organisasi. Upaya pembaruan ini penting, 
sembari melakukan penyegaran di kalangan pengurus. 

Partai politik juga dituntut memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat, 
terutama dengan cara memberikan masukan yang positif dan konstruktif kepada 
anggota parlemen. Jangan sampai anggota parlemen hanya pajangan belaka, tanpa 
diberikan pendidikan yang layak sehingga tidak mampu melakukan tugas-tugasnya 
secara profesional. 

Dalam setiap proses pergantian kepemimpinan, partai politik harus lebih ketat 
lagi dalam melakukan proses perekrutan calon pemimpinnya, termasuk yang akan 
dicalonkan untuk duduk di lembaga eksekutif dan legislatif. Banyaknya kasus 
penyelewengan kekuasaan yang terjadi di DPR dan DPRD dalam periode ini 
menunjukkan betapa partai politik mengalami kegagalan dalam merekrut dan 
mendidik anggota-anggotanya. 

Partai politik ibarat show room bagi berjalan atau tidaknya proses 
demokratisasi di suatu negara. Karena itu, partai politik harus menunjukkan 
kedewasaan dalam bertindak, terutama dalam proses pengambilan keputusan. Setiap 
tindakan harus diorientasikan pada kepentingan rakyat. Bukan kepada upaya 
mempertahankan status quo, atau sekadar untuk mendukung atau menyokong satu 
sosok kepemimpinan saja. 

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke