Ref: Jenderal tetap saja jenderal sekalipun pensiunan, tidak banyak bedanya dan 
tidak pula akan mau melakukan perubahan mendasar untuk perbaikan demi 
mempertinggi mutu kehidupan rakyat mayoritas, terkecuali kehidupan klik mereka 
serta kaum elit yang berkerumum sambil berdansa-dansi  di keliling panggung 
kekuasaan negara memetik rejeki. Patut dicatat bahwa jumlah orang miskin adalah 
kurang lebih 70 juta manusia, demikian berita media akhir-akhir ini.

http://www.shnews.co/detile-15452-kenali-jenderal-sebelum-disokong.html

Kenali Jenderal Sebelum Disokong 


M Bachtiar Nur | Senin, 25 Februari 2013 - 15:35:40 WIB

: 265 




(SH/Edy Wahyudi)
Puncak peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-65 TNI dilaksanakan di Pangkalan 
Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Foto direkam 5 Oktober 2012. 
Keberhasilan para jenderal pada pemilu mendatang tak lebih dari mengandalkan 
uang saja.


Jelang Pemilu 2014, genderang perang antarjenderal siap ditabuh. Partai Gerakan 
Indonesia Raya (Gerindra), misalnya, dengan jelas dan secara tegas mengusung 
Ketua Dewan Pembina mereka, yaitu Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada 
Pemilu 2014. 
  
Kampanye gencar dan bukti kemenangan terhadap pasangan Jokowi-Ahok saat Pilkada 
DKI Jakarta beberapa waktu lalu menjadi modal kuat. Selain menyoroti perlunya 
energi alternatif pengganti BBM, mantan Danjen Komando Pasukan Khusus 
(Kopassus) ini bahkan mengingkatkan bahaya ledakan populasi penduduk, 
pemerintahan yang lemah, tidak efisien, korupsi, dan ketidakseimbangan 
struktural perekonomian.

Pun demikian dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang mendorong Wiranto 
sebagai capres mereka. Tentunya niatan Hanura tak bisa dipandang enteng saat 
ini, mengingat bergabungnya bos MNC Group Hary Tanoesudibjo ke partai ini. 
  
Nama jenderal lain yang juga sempat mengemuka ke permukaan adalah Menteri 
Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto, 
mantan Panglima TNI Endriatono Sutarto, dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) 
Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo. 

Nama Djoko Suyanto dan Pramono Edhie mencuat sebagai pengganti sosok Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Partai Demokrat. Sesuai undang-undang, SBY 
yang telah dua kali terpilih menjadi presiden tak dapat lagi menjadi calon pada 
Pemilu 2014. Sementara Endriartono meski belum bisa dipastikan akan diusung 
oleh Partai Nasdem, namun sempat muncul namanya sebagai calon pemimpin negara 
yang akan membawa perubahan. 

Uniknya, meski bertaburan, namun kalangan pengamat menilai para purnawirawan 
jenderal tak akan mampu berbicara banyak pada pemilu mendatang. Hal ini karena 
sosok kepemimpinan mereka belum tentu selaras dengan kenegarawanannya. 

"Dari 2004, 2009, hingga ke 2014 kalau kita lihat perkembangannya semakin 
banyak pemilu demokrasi, saya lihat jenderal-jenderal semakin kurang mendapat 
perhatian. Jenderal-jenderal semakin tidak bisa membuktikan kejenderalannya 
dalam politik. Bisa saja dia jagoan dalam militer, tapi dalam politik tidak ada 
jaminan buat dia lebih hebat," ucap pengamat politik UI, Arbi Sanit saat 
dihubungi SH, Minggu (25/2) malam. 

Menurutnya, selain SBY belum terlihat jenderal yang mampu mengelola politik 
demokrasi dengan baik. "Sekarang ini mana jenderal yang lebih baik dari 
tokoh-tokoh sipil? Nggak ada lagi. SBY sudah habis masa jabatannya, 
kemungkinannya nggak ada lagi. Wiranto? Jenderal yang kalah terus. Prabowo? 
Kalah dan juga banyak sisa masa Orde Baru digendongnya. Jenderal Edhie (Pramono 
Edhie), Anda pernah mencatat karier politiknya atau kemampuan 
kenegarawanannya?" kata dia. 
  
Arbi mengungkapkan tren perkembangan sejarah tentara dalam politik Indonesia 
dapat habis pada 2019 mendatang.


Krisis Kepemimpinan 

Hal senada disampaikan pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie 
Sudjito. Menurutnya, wacana sipil militer itu relevan buat zaman Orde Baru, 
untuk mengimbangi. Tapi tampaknya sekarang ini agak sulit untuk mereproduksi 
lagi wacana sipil militer itu. Meskipun tentara selalu mereproduksi itu dan 
memanfaatkan krisis kepemimpinan sipil. Namun sesungguhnya sekarang ini bukan 
krisis kepemimpinan sipil yang terjadi, tapi krisis politik kepartaian.

"Artinya siapa pun mereka, tentara atau polisi yang ada sekarang, sejauh 
mempunyai kemampuan leadership, punya kemampuan mempraktikkan nilai-nilai 
demokrasi akan diterima masyarakat," sambungnya.

Arie mengingatkan, selain harus telah purnawirawan, keterlibatan para jenderal 
dalam politik harus merupakan bagian keinginan mereka untuk merubah kekuasaan 
tidak lagi seperti zaman Orde Baru. 

"Demokrasi memberi kesempatan mereka masuk partai. Pertanyaannya adalah mereka 
bisa mengubah keadaan dengan masuk partai? Itu tergantung kemampuan mereka 
memengaruhi sekaligus beradaptasi terhadap kebijakan-kebijakan partai itu," 
selorohnya. 

Ia menambahkan, para jenderal memang memanfaatkan akses mereka, namun tetap tak 
menjamin latar belakang tersebut dapat mengubah situasi politik sekarang ini. 
Terlebih kondisi saat ini kata Arie menggambarkan banyaknya politik pragmatis 
menggunakan uang. 

"Apalagi di partai sendiri tidak terjadi reformasi politik sehingga 
keputusan-keputusan politik masih juga pakai oligarki. Jadi menurut saya 
fenomena SBY, Prabowo, Wiranto, dan sebagainya tidak akan berpengaruh,” 
jelasnya. 

Karena menurutnya yang dinilai masyakarakat itu leadership. Masyarakat menilai 
leadership dari kapasitas politik, intelektual, dan komitmen. Romantisme 
pengalaman dalam tugas militer masa lalu tidak cukup berguna. Di sisi lain, 
pada sejumlah kasus menunjukkan banyak jenderal yang tak mampu mengelola 
partai. 

"Nah itu yang saya kira ukuran sipil-militer kurang relevan saat sekarang. Yang 
sekarang harus diputuskan adalah bagaimana kemampuan leadership untuk 
menjalankan praktik demokrasi secara benar dan komitmen untuk mengubah keadaan. 
Orang seperti Mahfud itu populer kan? Dia sipil, tapi bagus. Jokowi? Bukan 
tentara, tapi bisa mengalahkan yang lain. Artinya apa? Yang dinilai masyarakat 
itu leadership dan komitmen," pungkasnya. 

Sementara pengamat politik UI lainnya, Iberamsjah berpendapat keberhasilan para 
jenderal di partai politik pada pemilu mendatang tak lebih dari mengandalkan 
banyaknya materi atau uang dimiliki saja. 

"Seperti Prabowo bukan karena dia hebat, tapi karena duitnya banyak. Bahkan 
masa lalunya sangat suram sekali, pelanggaran HAM. Endriartono, cerdas, cuma 
partainya baru, dananya nggak ada. Jadi saya melihat jenderal-jenderal di 
partai sekarang tidak terlalu signifikan untuk mendulang suara. Sebagai capres, 
siapa yang mau diunggulkan? Saya tidak jelas siapa yang dicapreskan sekarang. 
Endriatono atau Djoko Suyanto, belum terlalu populer banget. Masih kalah dengan 
Dahlan Iskan atau Mahfud MD, seperti Jusuf Kalla, itu lebih potensial 
sebenarnya," urainya. 

Disinggung mengenai kuatnya keinginan para jenderal untuk menjadi pemimpin 
negara, Iberamsjah mengatakan wajar saja sebagai bentuk tanggung jawab moral 
melihat bangsa yang sedang terpuruk hingga membangkitkan rasa nasionalismenya. 
"Tidak salah kalau para jenderal ingin terjun sebagai capres atau cawapres, 
tapi dengan cara yang ikhlas. Jangan pencitraan yang menipu dengan pasang iklan 
setiap hari," kata dia.

Sudut pandang berbeda disampaikan Direktur Operasional Developing Countries 
Studies Center (DCSC) Indonesia, Tole Sutrisno  yang melihat efektivitas peran 
para jenderal di partai politik lebih kepada opini yang berkembang di 
masyarakat bahwa figur jenderal atau TNI itu digambarkan sebagai sosok tegas 
dan berani. Hal itu menurutnya dicermati oleh seluruh parpol yang lolos Pemilu 
2014. 

Lebih jauh Tole memandang masuknya para jenderal murni karena tujuan politik, 
tidak karena ingin menguasai Indonesia. Stigma militer ingin menguasai negara 
kata Tole telah hilang setelah era Soeharto. 

"Kalau ingin menguasai Indonesia sebenarnya gampang, para jenderal itu bersatu, 
bergabung dalam satu partai. Dengan kondisi Indonesia yang masih terjadi 
konflik di beberapa wilayah, peran jenderal atau TNI memang masih diharapkan 
oleh masyarakat," ucapnya.

Supaya tidak seperti beli kucing dalam karung, rakyat memang perlu mengenal 
lebih dalam rekam jejak dan kemampuan para jenderal.

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke