Masih saja  belum tobat untuk mengerti bahwa yang berstatus politikus daerah 
adalah  hanya persuruh yang diangkat dan ditendang sesuai kepentingan elit di 
pusat kekuasaan.

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=41270


SELASA, 26 Februari 2013 | 5174 Hits


Koedoboen-Sangadji Diusung, PDIP Pecah
Rahayaan Ngaku Dibohongi Mega


AMBON,AE.— Kecewa dengan proses yang ditempuh Ketua Umum PDIP Megawati 
Sokenaroputi, Hamid Rahayaan segera melaporkan PDIP ke Polda Metro Jaya karena 
merasa ditipu. Ratusan juta dikeluarkan hanya untuk membayar mekanisme yang 
dinilainya tidak benar.


‘’Kami sudah berkonsultasi dengan penasehat hukum dan putuskan melaporkan PDIP 
ke Polda Metro Jaya. Dalam waktu dekat akan kami laporkan ke polisi. Ini bentuk 
penipuan dengan berkedok demokrasi,’’ tandas Rahayaan mantan bakal calon wakil 
gubernur yang mendaftar di PDIP ini.

Kandidat yang berpasangan dengan Alexander Litaay ini menilai PDIP telah 
melakukan penipuan terhadap para kandidat yang mendaftar di PDIP termasuk 
dirinya. ‘’Kami ini sudah mendaftar dan mengeluarkan dana miliaran rupiah 
terkait dengan proses pencalonan kemarin. Tapi nyatanya kami benar-benar merasa 
ditipu dengan proses tersebut,’’ tukasnya.

Dia menyebutkan, selama ini dirinya berproses di PDIP karena dinilai sebagai 
partai wong cilik yang akan memperjuangkan kehendak rakyat kecil. Dia akan 
menerima kalau hasil proses lewat panitia penjaringan diputuskan oleh DPP PDIP, 
namun keputusan saat ini (Herman Koedoeboen-Daud Sangadji) tidak bisa diterima 
begitu saja.

‘’Katanya partai wong cilik, tapi uang kita juga diembat. Apa-apaan ini. Ini 
cara-cara penipuan yang dilakukan dengan memanipulasi proses politik dan 
menciderai demokrasi,’’ kecamnya.

Siapa saja yang dinilainya pembohong? Rahayaan menyebut, Ketua Umum DPD PDIP 
Megawati Soekarnoputri, Ketua DPD PDIP Maluku dan Tim Penjaringan Gubernur dan 
Wakil Gubernur Maluku DPD PDIP Maluku. ‘’Mereka-mereka itu yang akan saya 
gugat. Semuanya, kecuali pak Alexander Litaay,’’ sebutnya.

Disinggung soal banyaknya dana yang dikucurkan, Rahayaan menjelaskan kalau uang 
yang diambil PDIP secara institusi cukup banyak, belum lagi person per person 
yang tidak perlu dibuka. ‘’Kita daftar saja harus setor, setelah itu katanya 
mau survey dan harus setor lagi. Kalau ditambah dengan sosialisasi selama ini 
sudah hampir dua miliar rupiah yang saya keluarkan,’’ katanya.

Bagaimana kalau PDIP harus kembalikan dana tersebut? ‘’Harus kembalikan dana 
saya. Bila perlu dikembalikan tiga kali liput. Sebab kami sudah merasa 
dikibuli,’’ tandasnya
Sementara itu, Setelah melalui proses panjang PDIP akhirnya memutuskan Herman 
Koedoeboen-Daud Sangadji. Penetapan Koedoeboen-Sangadji memantik kekecewan 
kader partai karena kader partai tak diusung.

Pantauan Ambon Ekspres kemarin di DPD PDIP Maluku, sekitar pukul 01.wit rapat 
kerja khusus untuk mensosialisaiskan pasangan yang akan diusung. PDIP awalnya 
menduetkan Alex Retraubun-Jusuf Latuconsina. Entah kenapa dua figur ini mundur. 
DPP PDIP kemudian sengaja memaketkan Bito Temmar-Alex Litaay. Namun, ide DPP 
ditolak mentah-mentah oleh Litaay. PDIP kemudian memilih Herman Kordoboen-Daud 
Sangadji.

Penetapan Koedoboen memantik reaksi kader PDIP pendukung Temmar dan Litaay. 
Mereka tidak setuju Koedoboen di usung.’’PDIP akan kalah. Nah, kalau PDIP 
kalah, Komarudin Watubun harus bertanggungjawab. Partai model apa ini,’’kata 
salah satu kader PDIP Jhon Kelmanutu.

Salah satu fungsionaris DPD PDIP Maluku, Robi Tutuhatunewa menyesalkan sikap 
elit partai. Kata dia, Koedoeboen diusung menunjukan ada kesalahan struktural 
dari DPP hingga DPD PDIP Maluku.’’DPP mesti evaluasi kinerja Ketua DPD PDIP 
Maluku, Karel Albert Ralahalu,’’kesalnya.

Dia mengaku, Litaay dan Temmar sangat layak diusung sebagai balon 
gubernur.’’Temmar dan Litaay sangat layak dan memiliki nilai jual. Tapi kenapa 
Koedoeboen dipilih,’’ tandasnya.

Tak hanya Kelmanutu dan Tutuhatunewa, sejumlah kader PDIP lainya juga meluapkan 
kekesalanya terhadap keputusan DPP PDIP.’’Kita akan mundur kalau calon yang 
ditetapkan tetap diusung. Kita akan mundur dari partai ini,’’ancam mereka.

Ketua DPP PDIP Komarudin Watubun mengaku, pihaknya menetapkan 
Koedoboen-Sangadji melalui proses panjang.’’Kita usung mereka karena mereka 
memiliki pengalaman. APBD Maluku kecil tapi banyak penyimpangan. Makanya kita 
ingin figur yang bersih,’’ terang Watubun, tanpa sadar kalau kader mereka 
sendiri yang dulu menjabat sebagai Gubernur Maluku.

Soal parameter yang diigunakan untuk menetapkan Kodoeboen-Sangadji. Ini karena 
sesuai SK 031-A yang menyebutkan kader partai diusung jika memiliki fraksi 
utuh, elektabilitas, dan soliditas partai.’’Kodoeboen ini jaksa yang banyak 
membebaskan kader PDIP zaman orde baru. Koedoeboen juga mantan Bupati Malra 
yang diusung PDIP. Survey bukan ukuran. Jadi perbedaan itu hal yang biasa dalam 
berdemokrasi,’’sebutnya.

Ralahalu menambahkan, kinerja Koedoboen ketika memimpin Malra tidak diragukan 
lagi.’’ Di Maluku ini anggaran begitu besar. Kita harap calon yang diusung 
nantinya terpilih bisa memanfaatkan anggaran yang ada untuk kemakmuran 
rakyat,’’jelasnya. (OPE/SOJ)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke