http://www.theglobejournal.com/Kesehatan/angka-gizi-buruk-di-aceh-tinggi-nagan-raya-dan-pidie-teratas/index.php

Angka Gizi Buruk di Aceh Tinggi, Nagan Raya dan Pidie Teratas
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Rabu, 27 Februari 2013 09:14 WIB

 Dok : google.comIlustrasi

Banda Aceh - Meskipun Aceh sudah memiliki Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), namun 
data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) menemukan angka bayi gizi buruk masih tinggi 
dari rata-rata nasional. Walaupun secara umum kesehatan Aceh sudah membaik, 
bahkan sudah melampaui target Mellennium Development Goals (MDGs). 
Informasi ini disampaikan oleh Kasi Promosi dan Informasi Dinkes Aceh, 
Saifullah Abdul Ghani. Dia menjelaskan secara persentase Aceh masih memiliki 
7,1 persen bayi yang mengalami gizi buruk. Sedangkan tingkat nasional lebih 
rendah dari Aceh yaitu hanya 4,1 persen.

"Ini tentu kita harus berbenah, angka gizi buruk itu jauh dari rata-rata 
nasional," katanya kemarin pada The Globe Journal. Selasa (26/2/2013)

Gizi buruk ini, akibat dari orang tua bayi tidak memberikan asupan gizi yang 
cukup. Selebihnya masih kurangnya minat masyarakat untuk mengantarkan bayinya 
untuk diperiksa di Posyandu. Pahadal, katanya, semua itu saat ini sudah 
tersedia secara gratis.

Lain hal lagi saat kehamilan, jelasnya, ibu yang sedang mengandung tidak rutin 
memeriksa kandungannya pada tenaga medis. Hal ini juga berkaibat fatal terhadap 
keberlangsungan kesehatan sibayi didalam kandungan.

"Kalau rutin ibu hamil memeriksa secara teratur pada bidan setempat, itu akan 
bisa terhindar," imbuhnya.

Saifullah yang juga merangkap sebagai Humas JKA menambahkan, daerah yang 
terparah mengalami gizi buruk ada di Kabupaten Nagan Raya mencapai 82 anak, 
kemudian di susul Kebupaten Pidie 60 anak dan Aceh Tamiang 36 anak.

Dari data yang dihimpun oleh The Globe Journal. Kabupaten Aceh Tamiang 
merupakan salah satu daerah yang banyak mengalami gangguan kesehatan. Dari 
kematian Ibu melahirkan, gizi buruk sampai tingkat kematian bayi juga masih 
relative tinggi.

Pada tahun 2012, kematian bayi di Aceh Taming menduduki peringkat pertama 
sebanyak 20 orang, kemudian disusul Simeulu 15 orang dan Aceh Singkil 13 orang.

Demikian juga dengan angka kematian ibu melahirkan, Aceh Taming juga masuk 
dalam 3 besar. Kematian ibu melahirkan yang paling banyak terjadi di Aceh Utara 
20 orang, lalu Aceh Timur 12 orang dan kemudian Aceh Tamiang 13 orang.

Dari data diatas, menunjukkan bahwa di Aceh Tamiang masih mengalami banyak 
terjadi gangguan kesehatan untuk ibu dan anak.

+++++

http://www.thejakartapost.com/news/2013/02/26/infant-malnutrition-increases-ntb.html

Infant malnutrition increases in NTB
Panca Nugraha, The Jakarta Post, Mataram | Archipelago | Tue, February 26 2013, 
12:23 PM 
A- A A+ 
Malnutrition remains a serious problem for West Nusa Tenggara (NTB). During the 
past year, 13 out of 93 malnourished children under five, who were receiving 
medical treatment at NTB General Hospital (RSUP), died.

In 2011, the hospital treated 72 infants with malnutrition, 12 of whom died.

The RSUP NTB deputy director for care services, Lalu Ahmadijaya, said that 
malnutrition-related complications caused the death of most of the children. 
“Most of them died of lung inflammation and acute infections,” he told 
journalists on Monday.

In many cases, fatality is caused by parents’ reluctance to take their children 
to community health centers (Puskesmas) or hospital. Children were admitted to 
RSUP NTB only when their illness was already at advanced stage.

Most malnourished patients often suffer from complications such as pneumonitis, 
pleuritis, tuberculosis, digestive tract infections, and birth defects.

“Most of the patients have illnesses that cause weight loss. Almost none of the 
children are malnourished because they lack food,” said Ahmadijaya.

Poor parenting and unhygienic living conditions remain the leading causes of 
malnutrition. Early detection through the primary health care system in 
community health centers does not yet function optimally. Parents remain unable 
or unwilling to take their children to health care facilities for checkups.

As of February, the RSUP NTB has treated 11 patients for malnourishment. All 
have complications. Four remain at the hospital.

Egi Ervina, a two-year-old from Bayan in Lombok Utara, was admitted to RSUP NTB 
a week ago. He has lung inflammation and cardiac dysfunction. He weighs only 
eight kilograms and his stomach is swollen.

“Doctors diagnosed him with malnutrition. We brought him here because he was 
short of breath,” Egi’s mother, Siti Nasfiah, 23, told journalists at Room 213 
of the hospital’s Dahlia ward.

Erna Maryati, a three-month-old infant from Narmada in Lombok Barat, has been 
treated at the hospital for a month. She was diagnosed with disorders in her 
mouth. She also suffers from tuberculosis and heart problems.

Dewi Sangawati, pediatrician at RSUP NTB and member of that malnutrition team 
at the hospital, said it took quite a long time for malnourished children to 
recover.

“They have to recover from their complications first, and then we can start to 
manage their body weight by giving them adequate amounts of nutrition,” she 
said, adding that few parents in the province had the awareness to bring their 
children to integrated health posts (Posyandu). (ebf)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke