http://www.analisadaily.com/news/read/2013/03/01/111258/tulis_tulis_dan_tulislah/#.UTBxQlebJlk
Tulis, Tulis, dan Tulislah!
Oleh: Prof. Dr. Albiner Siagian.
Setiap kali saya membaca Harian Analisa, yang pertama saya baca adalah
judul berita utama. Lalu, saya langsung berpindah ke rubrik opini. Saya
berharap saya menemukan hal yang baru di dua halaman ini.
Hal yang baru yang saya harapkan bukan pada topik atau isi artikelnya,
tetapi pada penulisnya. Saya berharap ada penulis baru pada hari itu. Karena
saya sudah membaca Analisa sejak puluhan tahun yang lalu, saya sudah hampir
hafal nama-nama penulis yang biasa menulis di rubrik opini. Karenanya, saya
dapat mengetahui penulisnya adalah pendatang baru atau lama. Walaupun masih
sedikit, penulis baru sudah mewarnai rubrik ini yang secara rata-rata
memberikan kesempatan kepada empat sampai lima artikel setiap hari.
Masih terbatasnya buah pikir yang dituangkan melalui artikel populer di
koran tentu saja banyak penyebabnya. Motivasi menulis, misalnya. Kalau motivasi
dikaitkan dengan imbalan, masuk akallah jumlahnya terbatas. Penyebab lain yang
tak kalah seriusnya adalah keengganan untuk memulai menulis. Pada beberapa kali
memberikan pelatihan penulisan karya ilmiah, termasuk artikel populer, hambatan
yang selalu dikeluhkan peserta adalah sulitnya memulai.
Persoalan kepenulisan ini sudah berulang kali dituangkan di rubrik ini.
Yang terakhir adalah tulisan Saudara Dian Purba bertajuk Masalah-masalah di
Seputar Kepenulisan (Analisa 07/01/2013). Dian Purba mensinyalir kemandekan
penyaluran buah pikir ke tulisan diakibatkan oleh ‘dosa’ Orde Baru yang
mengekang kreativitas dan kebebasan berekspresi. Dian Purba menyebutnya sebagai
keterpurukan intelektualitas.
Kalau sinyalemen Purba benar dan menulis adalah buah dari kreativitas,
maka muara dari persoalan ini adalah keberanian untuk memulai. Kreativitas
harus dibangkitkan. Ide harus dituangkan. Tak soal ide itu ngawur.
Beberapa tulisan soal tulis-menulis itu juga sepakat bahwa keengganan
memulai yang saya anggap sebagai akibat ketidakberanian merupakan penyakit
kronisnya. Maka, obatnya adalah berani, bangkit, dan mulailah! Tidak ada
kontraindikasi untuk obat ini!
Saya beranjak kembali ke soal penulis pemula itu. Biasanya, artikel
penulis baru itu saya baca sampai habis. Saya, lalu, memberikan penilaian di
dalam hati. Saya menyimak bagaimana penulis memindahkan apa yang ada di
pikirannya ke tulisan. Saya juga tak lupa mengamati tatabahasanya. Ada yang
sudah bagus, alur pikirannya mengalir, dan enak dibaca. Akan tetapi, tak
sedikit pula yang masih perlu perbaikan.
Itu tak jadi soal. Itu dapat dimaklumi. Soalnya, walaupun kita sudah
belajar Bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, hal itu tidak cukup menjadikan
kita seorang penulis yang baik. Fakta menunjukkan kita lebih pintar berbahasa
tutur daripada berbahasa tulis.
Kadangkala, maksud hati dapat lebih baik disampaikan melalui tulisan
daripada melalui ucapan. Seorang pria, misalnya, akan lebih leluasa
mengungkapkan perasaannya kepada gadis pujaannya melalui secarik kertas surat
cinta daripada melalui rayuan gombal.
Mengapa demikian? Alasannya, antara lain, adalah ketika seseorang
menyampaikan ide atau maksud melalui tulisan, dia memiliki kesempatan untuk
menyusun kata-katanya dengan baik. Kalau maksud hatinya masih belum mengena,
dia masih bisa memperbaikinya, kalau perlu minta saran dari teman-teman yang
sudah berpengalaman di dunia cinta-menyinta. Hal tersebut tidak selalu dapat
dilakukan jika rayuan disampaikan langsung melalui ucapan. Bisa saja lidahnya
menjadi kelu, bahkan keringat sebesar jagung bercucuran di pipi. Kalau sudah
begini, jangankan puisi cinta yang dapat terucap, sepatah kata pun urung
terlontar.
Kalimat Efektif
Salah satu kesulitan yang sering dihadapi penulis adalah bagaimana
menuangkan ide atau pikiran ke dalam tulisan secara efektif. Keefektifan tidak
semata-mata pada pemakaian kata yang hemat, tetapi pada penyampaian gagasan
yang tepat dan tidak mendua-arti. Untuk ini, kita harus bisa menyusun kalimat
secara efektif.
Sebagai salah satu bentuk komunikasi, artikel ilmiah yang baik, termasuk
artikel populer di koran, haruslah merupakan alat komunikasi yang efektif.
Pesan yang disampaikan harus dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh
pembacanya. Artinya, pembaca dapat memahami isi artikel sebagaimana yang
dikehendaki penulisnya. Jadi, pembaca tidak memiliki penafsiran yang lain
selain yang dimaksudkan penulis.
Menurut Kusnedi (1999), faktor kebahasaan sangat menentukan keefektifan
sesuatu karya tulis ilmiah. Kalimat maupun paragraf yang digunakan harus jelas,
mudah dipahami, dan tidak dapat ditafsirkan lain selain yang dimaksudkan
penulis. Dengan kata lain, kalimat dan paragraf yang digunakan adalah kalimat
dan paragraf yang efektif dan efisien. Kalimat yang efektif memiliki satu topik
yang dibicarakan. Kalau sudah berbeda topiknya, itu harus dinyatakan pada
kalimat lain.
Untuk menilai keefektifan suatu kalimat, marilah kita menyimak kalimat
pembuka pada sebuah artikel yang dimuat pada harian ini. "Rendahnya pendidikan
Indonesia saat ini menjadi boomerang disegala (seharusnya: di segala) aspek,
sebut saja bahwa banyaknya lahan yang berpotensi sebagai sumber devisa akhirnya
dieksploitasi oleh kalangan investor yang menanam modal di Indonesia lantaran
Indonesia belum mampu memanfaatkan kekayaan alamnya secara mandiri."
Ini adalah contoh kalimat yang tidak disampaikan dengan efektif. Apakah
topiknya pendidikan yang rendah, bumerang di segala aspek, potensi lahan, atau
eksploitasi kekayaan alam oleh investor? Itu masih membingungkan.
Untuk menjadikannya efektif, sebaiknya kalimat itu dipecah menjadi tiga
kalimat berikut. Tingkat pendidikan yang rendah di Indonesia berdampak buruk
pada pemanfaatan sumber daya alam. Lahan yang tadinya potensial sebagai sumber
devisa, sekarang itu dieksploitasi oleh investor dari luar negeri. Akibatnya,
kekayaan alam kita lebih banyak dinikmati oleh investor asing daripada
masyarakat Indonesia.
Pemakaian kata bumerang juga kurang tepat karena kalimatnya tidak
menyatakan bahwa rendahnya pendidikan berdampak balik bagai boomerang yang
mengenai tuan sendiri.
Kefektifan kalimat juga sangat ditentukan oleh keterbacaannya.
(Keterbacaan bermakna kemudahan mendapatkan maksud kalimat.) Jumlah kata
penyusun kalimat menentukan keterbacaan. Makin banyak katanya makin rendah
keterbacaannya. Sebaiknya jumlah kata penyusun satu kalimat tidak melebihi 20
kata.
Kalimat yang efektif juga harus memerhatikan fokus kalimat tersebut.
Fokus bagi kalimat "Ali membaca koran" tidak sama dengan "Koran dibaca oleh
Ali", walaupun kalimat tersebut sama-sama menyatakan hal yang sama. Kalimat
pertama berarti Ali-lah yang membaca koran, bukan Budi. Sementara itu, kalimat
kedua berarti bahwa yang dibaca Ali adalah koran, bukan majalah.
Akhirnya, menulis memang tidak mudah, tetapi itu bukan berarti amat
sulit. Yang sulit adalah memulainya. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti
memulai. Caranya hanyalah tulis, tulis, dan tulislah!***
Penulis adalah Guru Besar Tetap USU
[Non-text portions of this message have been removed]