http://www.analisadaily.com/news/read/2013/03/01/111259/menulis_untuk_merdeka/#.UTByXlebJlk

      Menulis untuk Merdeka 
      Oleh: Vilisya Bening Hasibuan. 

      Writing is like prostitution. First you do it for love, and then for a 
few close friends, and then for money. Begitu bunyi salah satu petikan dari 
seorang seniman Prancis, Moliere (1622-1673). Sebagai seorang penulis pemula, 
saya tertarik untuk mengembangkan kutipan ini. "Melakukannya untuk cinta, 
kemudian teman dekat lalu uang." Jika dilirik dari segi kata memang terlihat 
sedikit kasar, tetapi bukankah begitu realitanya.
      Mungkin kita sering mendengar ungkapan, menulislah dengan hati dan 
semacamnya. Namun lambut laun yang dikatakan cinta, terkadang juga bisa 
diakhiri dengan uang. Pernah sewaktu-waktu penulis berpikir, apa tujuan dari 
menulis sebenarnya.? Apakah ia hanya sebuah pelengkap keterampilan belaka atau 
hanya sekedar goresan pena yang tidak berarti apa-apa.? 

      Kemudian penulis membuka kembali memoar lama. Sebuah puisi karya Widji 
Thukul seorang aktivis buruh orde baru, yang sampai kini tidak diketahui 
keberadaannya. Tulisannya begitu menyentuh, bebas seperti tidak ada sekat-sekat 
pembatas. Pada zaman itu memang sulit sekali bagi seseorang untuk beraspirasi 
lantang, mungkin hanya pena dan kertas yang mampu berbicara. Ia pun menuangkan 
segala kegundahannya dengan menuliskan keluh kesah serta keinginannya dalam 
bait-bait puisi.

      Lalu siapa yang tidak mengenal Soe Hok Gie, yang menjadikan tulisan 
sebagai senjata untuk melawan apa yang ia katakan dengan tirani. Bahkan 
tulisannya yang tajam itu tidak pernah surut dalam media-media ketika itu. 
Penulis merasa semua orang punya hak untuk menggambarkan segala macam bentuk 
pikiran dalam dirinya. Semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam 
beraspirasi ataupun mengkritisi. Namun yang menjadi persoalan kini, jika semua 
segala bentuk kebebasan itu terbelenggu dalam seni merangkai kata. 

      Semua kian terasa samar tatkala saat menulis bukan lagi menjadi wujud 
kemerdekaan diri. Para penulis pun seakan dibatasi oleh dinding-dinding tebal. 
Saat media yang seharusnya mampu menjadi wadah tidak berpihak lagi bagi para 
penulis 

      Penulis teringat dengan salah satu quote dari Seno Gumira Ajidarma 
"Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara 
untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. 
Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas 
ditimbang-timbang." Seperti yang diungkapkan Seno, semua orang punya harga 
kreativitas yang berbeda, punya gaya penulisan yang berbeda-beda pula dan 
dengan menulislah semua itu tergali.

      Menurut Howard dan Barton (dalam Indriati, 2006:34), menulis adalah 
kegiatan simbolik yang membuahkan makna, bagaikan kegiatan di atas pentas untuk 
menyampaikan makna kepada orang lain, dan cara untuk mengekspresikan diri dan 
alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dari pengertian yang dipaparkan 
diatas, penulis menyimpulkan bahwa menulis adalah sebuah keterampilan yang bisa 
dimiliki oleh siapa saja tidak mengenal kaya atau miskin, pejabat ataupun 
rakyat biasa, asalkan ia mampu mengenal setiap kata yang dirangkai oleh 
huruf-huruf bermakna.

      Peran Media

      Tentu ini tidak luput dari peranan sebuah media kini. Sayangnya 
komersialisasi terlihat begitu nyata, saat para pemilik media memegang kendali 
penuh. Penulis tidak menampik bahwa media massa di Indonesia tidak terlepas 
dari kepemilikan oleh segelintir orang, yang tanpa disadari memiliki pengaruh 
besar dalam arah pemberitaan maupun kepenulisannya masing-masing. Contoh saja 
para penulis artikel atau opini di media massa, terkadang mau tidak mau, agar 
tulisan mereka diterbitkan mereka harus menyesuaikan gaya penulisan serta tema 
yang sudah disuguhkan. 

      Media sebagai wadah dalam wujud pengekspresian itu mulai lari dari 
tujuan, tergerus oleh persaingan yang semakin tajam. Era industrialisasi dan 
kapitalisasi pada media menjadi hambatan saat menulis bukan lagi wujud ekspresi 
kemerdekaan, melainkan wujud lain kepentingan. Lalu apakah masih bisa dikatakan 
bahwa menulis adalah wujud lain dalam memerdekakan diri ?

      Padahal sudah terlihat jelas, media memiliki peranan penting dalam 
membantu masyarakat untuk berekspresi maupun beraspirasi melalui tulisan. Yang 
terjadi kini media pun seakan hanyut oleh euforia laba dan rugi, citra baik dan 
buruk. Maka jangan salah jika banyak berbagai pihak memanfaatkan media dalam 
pencitraan. Media seharusnya mampu menggali keterampilan itu, bukan sekedar 
menggali persaingan dalam bisnis semata. 

      Ketika uang bisa membeli apa saja, harga dari sebuah tulisan pun terasa 
tak bernilai lagi ketika semua itu sudah bercampur dengan komersialisasi. Hak 
memerdekakan diripun kembali terenggut. Media-media yang diharapkan mampu 
menjadi wadah nyatanya tak selalu demikian. Media sudah sebaiknya menjadi 
jembatan bagi jiwa-jiwa yang terkekang bukan malah ikut-ikutan mengekang. Apa 
artinya kebebasan pers itu kini, jika ia hanya dijadikan alat kepentingan oleh 
berbagai pihak.

      Matrealisme dalam Menulis

      Mungkin inilah bukti nyata yang disebut-sebut oleh Moliere dalam 
kutipannya "and then for money." Tanpa disadari sifat matrealisme juga akhirnya 
mulai dianut oleh para penulis. Bagaimana tidak, saat uang menjadi tujuan utama 
bagi para penulis. Saat penulis lupa tujuan awal mereka, untuk apa sebenarnya 
mereka menulis. Bahkan kini untuk menulis saja perlu banyak perjuangan dalam 
memilah-milah kata, materi maupun tema. Seharusnya mereka yang menulis tidak 
perlu terbebani dengan apa yang mereka tulis. Mereka seharusnya merdeka.

      Penulis tidak bermaksud menyalahkan hal tersebut, karena bagaimana pun 
terlalu munafik untuk tidak berbicara uang pada dewasa kini. Dan tidak dapat 
disalahkan sepenuhnya, karena semua itu sudah menjadi hak masing-masing 
pribadi. Yang diharapkan kini sifat matrealisme itu tidak mempengaruhi dalam 
mengekspresikan kata-kata, yang lahir dalam jiwa serta pikiran mereka. Jangan 
hanya sekedar asal nampang dapat duit lalu tidak dapat mempertanggung jawabkan 
apa yang dituliskan. Menulis haruslah independent sebab itulah yang menandakan 
bahwa kita merdeka, bukan terkekang.***

      Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMSU 
dan aktif di Pers Mahasiswa Teropong UMSU/Koran kampus Teropong 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke