Ref: Arti manis dari “tak sejahter” adalah miskin

http://www.analisadaily.com/news/read/2013/03/02/111538/kaya_tapi_tak_sejahtera/#.UTH0Flcj5lk

      Kaya Tapi Tak Sejahtera
     
      KIRA-kira, demikianlah kesimpulan yang bisa dipetik dari materi yang 
dipaparkan Direktur Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Centre Universitas Syiah 
Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Iskandarsyah Madjid, dalam diskusi bulanan yang 
diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Aceh, Kamis (28/2).
      Iskandarsyah memaparkan, tahun ini, Aceh memiliki anggaran (APBA) senilai 
Rp11,7 triliun. Akan tetapi, dana sebanyak itu tidak menjamin masyarakat Aceh 
bisa sejahtera atau menikmati uang itu. Karena, sebagian besar dana itu 
dibelanjakan ke luar daerah. Itu disebabkan provinsi paling Barat Indonesia ini 
tidak memiliki banyak industri, sehingga banyak bahan kebutuhan pembangunan 
didatangkan dari luar daerah.

      Tak tanggung-tanggung, dalam perkiraannya, setidaknya 70 persen dari dana 
tersebut digunakan untuk belanja ke luar daerah. Ironisnya, katanya, semakin 
besar alokasi APBA setiap tahun, maka kian bertambah pula jumlah uang yang 
beredar ke luar Aceh. Jadi, tak mengherankan meski Aceh termasuk ke dalam tujuh 
provinsi terkaya di Indonesia, tapi sekaligus provinsi ketujuh termiskin di 
negara ini!

      Tidak ada yang meragukan kekayaan alam Aceh. Banyak produk berkualitas 
yang dimiliki "Tanah Rencong" tersebut. Sebut saja kopi Gayo yang citarasanya 
dan terutama kualitasnya dikenal secara global. Demikian pula minyak nilam dari 
Aceh Selatan yang mayoritas diekspor ke pasar dunia seperti Eropa dan Asia. 

      Akan tetapi, dua dari banyak komoditas (kekayaan alam) tersebut hingga 
sekarang ini masih belum mampu mengangkat kesejahteraan para petaninya. Umumnya 
taraf ekonomi para petaninya masih mencemaskan. Penikmat laba terbesar justru 
daerah lain. Karena, komoditas ini diekspor melalui daerah lain.

      Di samping itu, persoalan lain yang dihadapi Aceh adalah fokus 
pengelolaan kekayaan alamnya. Sebagai gambaran nyata, hingga saat ini salah 
satu sektor unggulan dan sangat potensial guna memicu dan meningkatkan 
kesejahteraan masyarakatnya adalah sektor pertanian dan perikanan. Sebab, 
keduanya masih dominan sebagai penyerap tenaga kerja sekaligus penyumbang 
pertumbuhan terbesar ekonomi "Serambi Mekkah".

      Kenyataannya, sampai saat ini belum tampak hasil pengelolaan kedua sektor 
ini yang benar-benar menggembirakan. Kecuali untuk produksi padi atau gabah 
yang memang sejak dulu surplus sehingga Aceh swasembada sekaligus menjadi 
sumber pangan nasional, justru berbagai kebutuhan lainnya dari sektor pertanian 
didatangkan dari luar daerah.

      Aceh memiliki Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, plus sebagian Aceh 
Besar. Keduanya mirip dengan Tanah Karo atau Berastagi. Sayangnya, potensi Aceh 
Tengah dan Bener Meriah untuk menjadi sentra produksi hortikultura, belum 
digarap maksimal. Akibatnya, hingga detik ini, Aceh masih harus memasok 
kebutuhan berbagai jenis tanaman pangan itu dari Tanah Karo atau Berastagi.

      Jika industri diyakini menjadi motor pembangunan ekonomi tercepat, justru 
dunia industri berbasis hasil pertanian maupun perikanan dan kelautan di Aceh 
nyaris tidak muncul, jika tidak ingin dinyatakan sebagai fatamorgana. Padahal, 
dengan munculnya nilai tambah sebagai hasil industrialisasi, selain mampu 
membantu menaikkan pendapatan petani juga mengurangi jumlah belanja ke luar 
daerah.

      Harus diakui, untuk menghentikan sama sekali penggunaan anggaran daerah 
untuk belanja ke daerah lain adalah mustahil. Sebab, Aceh sendiri sebagaimana 
juga daerah-daerah lainnya di negara ini tidak memiliki semua sumber daya yang 
dibtuhkan untuk pembangunan sehingga mau tak mau harus mendatangkan dari luar 
daerah bahkan mancanegara.

      Yang paling realistis adalah upaya menekannya. Pemerintah Aceh dituntut 
merealisasikan rencana pembangunannya seakurat mungkin, khususnya terkait 
dengan potensi-potensi utamanya atau berbasis keunggulan daerah yang tidak 
dimiliki daerah lain. 

      Dunia usaha lokal didorong dan difasilitasi untuk turut menggarap 
potensi-potensi ini. Aceh belum bisa mengharapkan keterlibatan dunia usaha 
besar untuk datang dan mengelola potensi itu karena masih tingginya 
problematika yang dihadapi investor luar daerah atau asing. 

      Singkatnya, Aceh harus berani secara swadaya dan mandiri membangun 
daerahnya sendiri. Cuma dengan langkah demikian dan diiringi berbagai 
keberhasilannya, maka kekayaan "Serambi Mekkah" tersebut benar-benar mampu 
memberikan kesejahteraan yang memang diimpikan sejak lama. Upaya itu harus 
dimulai saat ini juga jika tidak ingin lebih terpuruk dan kemudian hanya 
menyesali nasib! 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke