Ref: Pindah partai bisa mendatangkan berkat rejeki lebih bertumpuk-tumpuk, 
dengan lain kata tidak ada perbedaan antara partai politik di NKRI, terkecuali 
tampang para petinggi partai. 

http://www.shnews.co/detile-15818-pindah-parpol-agar-bisa-%E2%80%9Cnyaleg%E2%80%9D.html


Pindah Parpol agar Bisa “Nyaleg” 
Uparlin Maharadja | Senin, 04 Maret 2013 - 14:07:09 WIB

: 46 




(dok/antara)

Caleg harus cari dana sendiri. 


JAKARTA – Partai politik yang akan maju dalam Pemilu 2014 mulai membuka 
pendaftaran calon legislatif (caleg). Di sejumlah daerah, bursa caleg ini tidak 
hanya diramaikan dengan pendaftaran sejumlah politikus parpol tak lolos Komisi 
Pemilihan Umum (KPU) ke parpol yang lolos KPU agar bisa nyaleg, tapi juga 
diramaikan dengan sejumlah spanduk dan baliho foto diri para bakal caleg. 

Di Pekanbaru, misalnya, perang spanduk dan baliho antarbakal caleg mulai 
terjadi. Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Provinsi Riau mengaku hampir seluruh 
kader kabupaten dan kota telah mendaftarkan namanya sebagai caleg untuk 
bertarung pada Pemilu 2014. 

"Namun berapa total yang mendaftar menjadi caleg, masih menunggu keputusan DPP 
Nasdem di Jakarta," ujar Sekretaris DPD Partai Nasdem ZP Tindaon kepada SH, 
Minggu (3/3) malam. 

Disinggung ada biaya yang harus dikeluarkan guna bisa masuk dalam daftar caleg, 
anggapan tersebut ditepisnya. "Sejauh ini komitmen Nasdem masih tetap dan belum 
ada dikenakan biaya,” ungkapnya. 

Di Tanjungpinang, sejumlah pengurus dan anggota parpol yang tak lolos 
verifikasi KPU ramai-ramai lompat ke Nasdem. Mereka berharap bisa maju sebagai 
caleg dari Nasdem. Minggu (3/3) siang, para politikus parpol gagal ini 
mengenakan jas Nasdem dalam peringatan ulang tahun Nasdem di GOR Kacapuri, 
Tanjungpinang. 

Tampak di antaranya Boby Jayanto, mantan ketua pemimpin cabang Partai Patriot 
yang telah menghantarnya jadi ketua DPRD Kota Tanjungpinang 2004-2009. Ia 
meninggalkan partai berbasis Pemuda Pancasila dan kini menjadi Ketua Dewan 
Pakar Pengurus wilayah Nasdem Provinsi Kepulauan Riau. 

Kemudian Alyas Wello, mantan ketua DPRD Kabupaten Lingga. Ia lompat dari Partai 
Golkar ke Nasdem baru-baru ini dan duduk sebagai ketua pengurus pemimpin 
wilayah Nasdem Kepulauan Riau. Di Kalimantan Barat, sejumlah parpol mengaku 
akan memprioritaskan kader dari parpol sendiri untuk bursa caleg. Alasannya, 
loyalitas, integritas, dan kompetensinya sudah tidak diragukan. 

Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar Suryadman Gidot mengatakan, jikapun mereka 
harus mengambil caleg dari luar parpol maka harus melewati pertimbangan khusus. 
Namun ia tidak menyebut pertimbangan khusus apa yang dimaksud. 

Ketua DPD Partai Golkar Kalbar Morkes Effendy mengatakan, kalaupun calon dari 
luar partai akan diusung, persyaratan administrasi akan lebih teliti. Ketua 
Dewan Pemimpin Wilayah Partai Nasdem Kalbar Syarif Abdullah Alqadrie mengaku 
semua caleg yang akan mereka ajukan berasal dari kader sendiri. 

Bantuan Parpol 

Terkait dengan pendanaan bagi caleg yang hendak maju dalam Pemilu 2014, 
Sekretaris DPW Partai Nasdem Jabar Agus Suparman mengatakan tidak akan ada 
bantuan dana segar dari parpol. Caleg hanya dibantu dalam bentuk kebutuhan 
kampanye. 

"Misalnya kaus, bendera, pamflet, serta tim kampanye. Partai tidak memberikan 
dana segar bagi caleg," katanya. Bantuan bagi caleg ini diberikan untuk seluruh 
caleg setiap daerah pemilihan (dapil). 

Bantuan partai itu tetap dianggap penting bagi caleg di daerah-daerah guna 
bertarung di pemilu 2014. Selain mendongkrak suara, dengan bantuan-bantuan itu 
diharapkan dapat memperkuat soliditas partai dan sesama anggota partai. 

Untuk mendaftar sebagai caleg, Agus memastikan tidak ada pungutan apa pun. 
Ketua DPD di daerah tidak diperbolehkan memungut biaya apa-apa bagi caleg yang 
mendaftar. Ancaman sanksi tegas diterapkan. "Kalau ada yang ketahuan memungut 
biaya bagi caleg, sanksinya langsung dipecat," kata Agus. 

Namun apabila ada caleg yang mengeluarkan dana pribadi guna kampanye, menurut 
Agus, partai jelas tidak menghalangi. Selama dana kampanye itu dialokasikan 
tidak untuk politik uang maupun politik transaksional yang selama ini telanjur 
mengakar di negeri ini. Menyinggung timbal balik dari caleg terhadap bantuan 
yang diberikan partai, Agus menyatakan sejauh ini belum diatur hal itu. 

"Tentu saja nantinya caleg yang sudah masuk daftar tetap harus menandatangani 
pakta integritas," jelasnya. 

Di Jakarta, Bendahara Umum Partai Golkar Bambang Susatyo menegaskan Partai 
Golkar tidak menarik biaya apa pun dari para calon legislatif, baik untuk DPRD 
maupun DPR. “Tidak boleh. Kalau ada laporan, kami akan tindak lanjuti dengan 
sanksi keras,” ujarnya. 

Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo juga menegaskan biaya psikotes bakal calon legislatif 
se- Indonesia dibayar oleh masing-masing pribadi caleg secara gotong royong. 
“Biaya tes urine nantinya juga dibebankan ke caleg. Dana kampanye pileg nanti 
prinsipnya gotong royong,” jelasnya. Hal ini, menurutnya, berlaku dari caleg 
untuk DPRD dan DPR. Tidak ada instruksi untuk memungut secara khusus untuk 
biaya pendaftaran. 

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy juga menegaskan tidak 
ada biaya yang dipungut kepada caleg. “Ini berlaku di semua tingkatan struktur 
partai. Tidak boleh memungut apa pun dari caleg untuk DPRD dan DPR,” ujarnya. 

Sementara itu, Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi menjelaskan semua calon 
legislatif dari Partai Gerindra hanya membayar formulir Rp 50. 000. Sementara 
itu, hal lain diserahkan ke masing-masing caleg. “Untuk kebutuhan para caleg 
tergantung daerah masing-masing. Ada yang sudah siap, ada yang belum siap,” 
jelasnya. 

Ia membenarkan para saksi akan dibayar oleh para caleg. Namun para saksi 
disiapkan oleh partai. “Ini masih didiskusikan apakah caleg bayar langsung 
ataukan dikumpulkan oleh partai,” ujarnya. (Parlyn Simanungkalit/Aju/Didit 
Ernanto/Web Warouw) 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke