Saran Agus Condro Prayitno Buat Anas Urbaningrum : Jangan Pakai Bahasa Samar

Pasca ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi 
(KPK), mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kerap 
melontarkan pernyataaan bersayap yang kemudian ditafsirkan beragam oleh 
media. Anas seolah-olah menggiring kasus hukumnya ke ranah politik, 
dengan sejumlah pernyataan yang tersamar. Jika ingin meraih simpati publik ada 
baiknya Anas jujur dan terbuka. Jangan meniru langkah Nazaruddin. Jika Anas 
bersikap kooperatif, publik akan 
mengingat baik sosok Anas.

Ini sekedar saran yang disampaikan 
oleh Agus Condro Prayitno, mantan politisi Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan (PDIP) yang menjadi justice collaborator dalam kasus suap 
pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI)tahun 2004.

“Anas kalau memang mempunyai niat membantu negara, membuka keruwetan 
kasus Hambalang ini, kalau punya bukti serahkan ke KPK. Jangan pakai 
bahasa samar, jangan berpolitik, tapi menjunjung penegakan hukum," ujar 
Agus kepada pers, Selasa (05/03).

Agus adalah orang yang 
pertama kali mengungkap skandal cek pelawat yang diterima anggota DPR 
pada pemilihan DGS BI yang dimenangkan Miranda Swaray Goeltom itu. Pada 
2010, ia melapor ke KPK. Skandal itu pun akhirnya terkuak. Puluhan 
anggota DPR divonis, termasuk istri mantan Wakapolri Adang Darojatun, 
Nunun Nurbaetie. Skandal itu juga membuat Agus Condro harus mendekam di 
penjara. Ia dijatuhi vonis 1 tahun 3 bulan, tapi mendapat keringanan 
karena menjadi justice collaborator.

"Anas ini politisi muda, 
tentu masih panjang jalannya. Dari segi moral tentu menjadi sorotan. 
Alangkah baiknya Anas berikan sumbangan pada pemberantasan korupsi, 
untuk kebaikan negeri ini. Publik mungkin bisa dikelabui, tapi Tuhan tak
 bisa dibohongi. Tinggal Anas memilih," ujar Agus.

Agus 
meyakini, penetapan Anas sebagai tersangka tak ada unsur intervensi 
politik. Ia bercerita tentang kelucuan politisi. Kala Anas belum menjadi
 tersangka, banyak politisi yang menuding KPK diintervensi sehingga 
tidak berani menjerat Anas. Akan tetapi, ketika Anas benar-banr jadi 
tersangka, KPK tetap saja dituding diintervensi. “KPK juga diisi 
manusia, tapi saya yakin di KPK itu masih ada yang memiliki integritas. 
Saya yakin dengan Bambang Widjojanto, Busyro Muqoddas, Adnan Pandu, dan 
Zulkarnaen juga yang lainnya.”

Agus yakin, KPK tidak akan 
berani menetapkan seseorang sebagai tersangka kalau tidak ada bukti 
kuat, karena nanti bisa kalah di pengadilan. Ia menyarankan, jika Anas 
ingin meraih simpati publik sebaiknya bersikap jujur dan terbuka. Jangan
 meniru langkah Nazaruddin. Anas mesti memikirkan masa depan politiknya.
 Akan baik kalau dia bersikap kooperatif, publik akan mengingat baik 
sosok Anas.

“Jangan seakan-akan mengesankan dizalimi, apalagi 
mengesankan KPK diintervensi. Anas kalau tidak merasa bersalah siapkan 
bukti untuk di pengadilan atau lebih baik bicara ke KPK dengan bukti," 
tandas pria yang kini hidup tenang di Batang, Jawa Tengah itu.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke