----- Original Message ----- 
From: ASAHAN 

Kolom IBRAHIM ISA -- "LUKA - LAMA " YANG TAK PERNAH "NUTUP" ,,,"TAK PERNAH 
TERLUPAKAN" BAGI PARA KORBAN

  
Peristiwa G30S (suharto) dan akibatnya hanya bisa diselesaikan dengan 
revolusi dan mendirikan Kekuasaan Rakyat. Selain itu tidak ada jalan lain, 
tidak ada cara lain dan tidak mungkin ada penyelesaian lain. Ini bukan masalah 
luka lama atau luka baru tapi masaalah siapa menghancurkan siapa. 
Kekuatan rakyat memang sedang hancur, tapi pasti akan tumbuh dan bangkit 
kembali. Tidak ada perdamaian dengan musuh, tidak ada ilusi terhadap musuh.
ASAHAN.

----- Original Message ----- 
From: "isa" >
To: "WAHANA NEWS" [email protected]>
Sent: Saturday, March 02, 2013 2:37 PM
Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- "LUKA - LAMA " YANG TAK PERNAH 
"NUTUP" ,,,"TAK PERNAH TERLUPAKAN" BAGI PARA KORBAN

*Kolom IBRAHIM ISA*

*Sabtu, 02 Maret 2013**
------------------------*

"*LUKA - LAMA " YANG TAK PERNAH "NUTUP" ,*

"*TAK PERNAH TERLUPAKAN" BAGI PARA KORBAN*

Kemarin, Jum'at 02 Maret 2013, di ruangan ini disiarkan tulisan
*Andjarsari Paramaditha, *jurnalis "The Jakarta Globe", berjudul "*The
Act of Killing' Reopens Old, Long-Buried Wounds in Indonesia". *Dalam
bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyinya*"Jagal", Membuka Kembali
Luka-luka Lama Yang Dalam Waktu Panjang Dikubur di Indonesia".*

** * **

Andjarsari Paramadhita menuangkan kesan dan tanggapannya dalam tulisan
tentang film produksi film-maker berbangsa Amerika*Joshua Oppenheimer*,
berjudul "The Act of Killing". Sebuah film yang dewasa ini sudah
dipertunjukkan di pelbagai festival film internasional dan memperoleh
pengharagaan AWARD. Joshua Oppenheimer mendokumentasikan tutur cerita
Anwar Congo dan kawan-kawannya, dari organisasi Pemuda Pancasila. Anwar
Congo dan kawan-kawannya yang terlibat dalam pembunuhan masal periode
1965, setelah gagalnya G30S, adalah mantan preman, gangster Medan yang
menguasai bioskop-bioskop Medan pada tahun 60-an abad lalu.

Membaca judul artikel yang menggugah dan menyentuh hati nurani ini, -- 
tersirat dalam fikiran:

Sebenarnya "luka-luka lama" akibat pembantaian masal oleh aparat negara
(TNI, Polisi, preman-preman dan regu-regu pembantai yang diregisir oleh
penguasa militer di bawah Jendral Suharto pada periode 1965/66/67 dst
terhadap warga tak bersalah**anggota dan bukan anggota PKI, simpatisan
PKI dan pendukung Presiden Sukarno), tak pernah pulih.

Tak terhindarkan fikiran wajar akan berreaksi: Apa para korban
pelanggaran HAM terbesar oleh aparat kekuasaan negara RI sekitar periode
pertengahan tahun 60-an abad lalu, ---

*PERNAH MELUPAKAN PENDERITAAN MEREKA AKIBAT KESEWENANG-WENANGAN APARAT??
Apa luka-luka lama yang disebabkan oleh persekusi rezim Orde Baru, itu
pernah "sembuh" ? Apakah luka-luka lama yang dikubur dalam-dalam oleh
penguasa tsb PERNAH TERTUTUP??*

Masuk di akalkah, -- para korban pelanggaran HAM berat oleh aparat
negara di sekitar Peristiwa 1965, akan berhenti mempersoalkan, mengapa
bapak, ibu, suami, anak, dan anggota keluarga mereka di "amankan" oleh
aparat negara dan dipenjarakan. Dibuang ke Pulau Buru. Bahkan dibunuh
secara ekstra judisial.

Apakah kesalahan mereka, maka sampai diperlakukan sewenang-wenang
demikiuan oleh penguasa negara? Selama itu mereka tetap setia pada
negara Republik Indonesia dan patuh mendukung politik kepala negara dan
pemerintahan Presiden Sukarno? Bisakah dikatakan abnormal, -- bila
keluarga para korban itu masih bertanya-tanya dimana bapak, ibu, anak
dan keluarga mereka itu? Dan bila dibunuh aparat, dimana kuburan mereka
itu?

Jelas luka-luka lama itu tidak mungkin dilupakan terutama oleh para
korban. Adalah kewajiban penguasa negara dewasa ini, untuk menjernihkan
masalah-masalah sejarah bangsa ini.

Seperti dikatakan a.l oleh Joshua Oppenheimer: *"For Indonesians old
enough to remember the genocide, the film makes it impossible to
continue denying what everybody in that generation already knew. They
are closer to the perpetrators . . . . . ".*

Terjemahan bebas: ---- "*Untuk orang-orang Indonesia yang cukup umurnya
untuk mengingat kembali genosida (1965/66/68dst), film tsb (The Act of
Killing''") tidak memungkinkannya lagi untuk terus-terusan membantah apa
yang sudah diketahui oleh semua orang dari generasi tsb. Mereka lebih
dekat dengan para pelaku (genosida) itu . . . "*

** * **

Sementara petinggi tentara dan birokrasi kekuasaan sekarang dan politisi
serta elite yang lahir dalam buaian, dibesarkan dan didewasakan rezim
Orde Baru dan sekarang berada dalam posisi kekuasaan dan unggul di
bidang finansil dan ekonomi, - - - -*lebih-lebih lagi* mereka-mereka
yang terlibat dalam pelanggaran HAM berat sekitar periode 1965, ------ 
dari waktu ke waktu membuat pernyataan absurd sbb:

"Apa yang sudah terjadi di sekitar periode itu (maksudnya pelanggaran
HAM berat sekitar Peristiw 1965) *itu masa lampau*. Kita harus melihat
ke depan. Mempersoalkan masalah Peristiwa 1965 akan "membuka kembali
luka-luka lama".

Juga elite di DPR yang golongannya terlibat dalam pelanggaran HAM berat
tidak ketiggalan mengeluarkan *suara sumbang.* Mereka mengkhawatirkan
langkah keterbukaan terhadap publik, dikatakannya, yang justru (akan)
menimbulkan kegaduhan baru. Ini dikatakan oleh anggota Komisi II DPR RI,
Salim Mengga. Celetuknya: "Keterbukaan dokumen G30S-PKI harus
dikoordinasikan dengan lembaga lain, karena (kalau tidak) akan
menimbulkan kegaduhan."

Pernyataan dan dalih yang diutarakan oleh mereka-mereka itu, semata-mata
untuk mencegah terbukanya bagi masyarakat umum, apa yang sebenarnya
terjadi dalam sejarah bangsa ini sekitar Peristiwa 1965. Itulah
sebabnya, Kejaksaan Agung menggunakn berbagai taktik dan muslihat, yang
hakikatnya menolak Rekomendasi dan Kesimpulan KomansHAMN tertanggal 23
Juli 2012. KomnasHAM dalam rekomendasinya itu mengungkap keterlibatan
aparat negara dalam pelanggaran HAM berat, serta menyarankan Kejaksaan
Agung mengambil tindakan lanjut.

Itulah pula sebabnya mereka berusaha mencegah dibukanya arsip Lembaga
Negara Arsip Nasional Republik Indonesia, ANRI, bagi masyarakat umum.
Ingat canang Peneliti Senior LIPI *Prof* *Dr Asvi Warman Adam: "ARSIP
BANGSA KOK DISEMBUNYIKAN?*

** * **
http://synergyprofit.com

Kirim email ke