http://www.hidayatullah.com/read/27600/08/03/2013/jk:-toleransi-di-indonesia-sangat-baik.html
JK: Toleransi di Indonesia Sangat Baik
Mantan Wapres Jusuf Kalla.
Jum'at, 08 Maret 2013
Hidayatullah.com--Mantan Wakil Presidem Jusuf Kalla (JK) menegaskan, toleransi
di Indonesia sangat baik. Hal ini bisa dilihat dan dibuktikan dari beberapa
perspektif. Dari hari libur nasional adalah hari libur semua agama.
“Ini tidak terjadi di negara mana pun di dunia,” tegas JK.
Hal ini disampaikan saat menjadi pembicara pertama pada acara Launching Laporan
Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia 2012, di Hotel Akmani Jakarta, Kamis
(7/3/2013).
Sebelumnya saat membuka acara, Pgs. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag
Prof. Machasin mengemukakan, Indonesia merupakan negara yang sangat toleran.
Hal ini misalnya bisa dilihat dari adanya hari libur nasional dalam perayaan
hari besar agama-agama minoritas.
“Konghucu di Indonesia jumlahnya hanya 4 -5 juta, tapi hari raya-nya dijadikan
hari libur nasional. Umat Islam di Prancis dan Jerman sekitar 10%, tapi Idul
Fitri dan Idul Adha tidak dijadikan hari libur oleh mereka,” kata Machasin.
Dari sisi kepemimpinan, JK mengatakan bahwa pada tahun 2007, dari 33 gubernur
di Indonesia, 10 di antaranya adalah non muslim. Kalau sekarang 8 gubernur.
Dari sisi pemerintahan, pada zaman orde baru, semua kementerian penting pernah
dijabat oleh non-Muslim. Hal ini merupakan sesuatu yang mungkin tidak pernah
terjadi di Amerika sekalipun bahwa ada kementerian strategis dipegang oleh
muslim selaku minoritas di sana.
Menguatkan JK, Slamet Effendy Yusuf, pengurus PBNU, menegaskan bahwa toleransi
di Indonesia tidak hanya sekedar masalah pergaulan, tetapi bahkan sampai pada
masalah political sharing. “Sejak kemerdekaan, tidak ada satu pun kabinet yang
tidak bercampur antara muslim dan non muslim,” tegas Slamet, dalam laman
Kemenag.
Karenanya, Slamet mendorong agar toleransi dipahami pada struktur yang lebih
luas; tidak sekdar interaksi antaragama, tapi juga pada wilayah sharing, pada
ranah politik maupun sosial. “Ini sesuatu yang hampir tidak terjadi di negara
lain,” tambah Slamet.
Sedang Asrori S. Karni, praktisi media, menilai, laporan tahunan Puslitbang
Kehidupan Keagamaan ini penting untuk dikembangkan. “Laporan komprehensif
seperti ini dapat menyajikan keseimbangan pasokan informasi pada media massa
sehingga opini publik yang terbentuk oleh publikasi media bisa berimbang.
Laporan ini sepatutnya bisa menjadi bahan dasar penjelasan resmi pejabat
publik,” kata Asrori.
Terkait masalah penyelesaian kasus keagamaan, Asrori memandang perlunya
membekali keterampilan resolusi konflik terhadap perangkat KUA. “KUA perlu
dibekali keterampilan resolusi konflik karena mereka merupakan unsur
Kementerian Agama yang berada pada garda terdepan,” ujar Asrori.*
Rep: Insan Kamil
Red: Syaiful Irwan
[Non-text portions of this message have been removed]