http://www.analisadaily.com/news/read/2013/03/09/113145/harga_keperawanan_seorang_perempuan/#.UTpnpVdstpk

      Harga Keperawanan Seorang Perempuan 
      Oleh: Hodariyah. 

      Peristiwa nahas beberapa hari lalu yang terjadi pada Annisa Azwar, 
mahasiswi Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, yang melompat dari angkot 
berkahir dengan kematian. Annisa melompat karena khawatir dirinya menjadi 
sasaran kejahatan, seperti pemerkosaan. Sudah jamak kita mafhumi pemerkosaan di 
angkot sering terjadi. Korban yang awalnya ingin cepat sampai di tempat tujuan 
dengan mengendarai angkot. Tetapi saat naik, ia diperlakukan tidak manusiawi 
dan meloncat turun dari angkot. Siapapun akan trauma dengan maraknya 
pemerkosaan yang terjadi di dalam angkot.
      Maka apa yang dilakukan oleh Annisa Azwar secara tidak langsung merupakan 
simbol perlawanan terhadap kejahatan kelamin yang selama ini sering diberitakan 
di banyak media. Ia ingin menunjukkan bahwa kehormatan dirinya sebagai seorang 
perempuan lebih berharga dari keselamatan fisiknya, termasuk luka dan kematain 
sekalipun. Annisa telah menunjukkan kepada semua laki-laki dan juga perempuan 
bahwa kehormatan dirinya tak terbanding apapun. Bahkan ia rela menghembuskan 
nafas terakhirnya demi menjaga kehormatan dirinya. Sungguh sebuah pengorbanan 
yang luar biasa, demi menjaga kehormatan dirinya.

      Di tengah menjamurnya seks bebas di kalangan anak-anak muda. Kita 
disuguhkan dengan kisah memilukan yang ditunjukan oleh Annisa. Seperti sebuah 
paradoks yang melawan kejahilan anak-anak muda masa kini. Sudah bukan rahasia 
lagi jika banyak anak perempuan yang sudah kehilangan keperawanannnya lantaran 
melakukan hubungan seks di luar nikah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang 
hamil di luar nikah. 

      Berdasarkan hasil penelitian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 
(BKKBN) tahun 2011, 51 dari 100 remaja putri di kota besar tidak perawan lagi. 
Sedangkan bersadar penelitian dari Australia National University (ANU) dan 
Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2010/2011 di 
Jakarta, Tangerang, dan Bekasi dengan jumlah sampel 3006 responden usia 17-24, 
menunjukkan 20,9 % remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. 
Dan 38,7 % remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah 
menikah.

      Data tersebut sungguh membuat kita miris. Karena bagi perempuan menjaga 
kehormatan dirinya bukan lagi menjadi sesuatu yang berharga. Meraka sudah tidak 
lagi menganggap keperawanan sebagai sebuah kebanggaan yang mesti dipertahankan 
sebelum dirinya menikah dengan suaminya yang sah. Keperawanan hari ini bagi 
perempuan yang "lupa" dirinya sendiri sudah tidak berharga lagi. Bahkan tidak 
sedikit perempuan yang jadi pekerja seks komersial (PSK). 

      Yang sangat kita resahkan, menjamurnya pacaran dikalangan anak-anak muda 
sudah banyak membuat mereka lupa terhadap harga keperawanan yang ia miliki. 
Dengan alasan cinta mereka banyak menggadaikan keperawanannya untuk memenuhi 
nafsu birahi cowoknya. Tanpa berpikir panjang banyak akibat dari mereka 
melakukan seks bebas. Sehingga tak hayal penyesalan selalu datang di akhir.

      Dari beberapa penelitian yang ada, rata-rata keperawanan perempuan 
digadaikan pada pacarnya. Percintaan muda-mudi hari ini telah menyeret mereka 
pada kesesatan jalan hidup yang memilukan. Dewasa ini jarang sekali perempuan 
yang berpikir panjang ke depan. Mereka banyak menyukai kenikmatan sesaat, yang 
membawa petaka seumur hidup. Bayangkan betapa sangat malangnya nasib seorang 
perempuan yang keperawanannnya direnggut, kemudian ditinggal mentah-mentah. 
Bahkan yang lebih parah, mereka sampai hamil di luar nikah, kemudian 
ditinggakan begitu saja seperti pepatah, habis manis sepah dibuang. Setelah 
semuanya dinikmati oleh lelaki pengecut, mereka ditelantarkan dengan membawa 
penderitaan hidup.

      Masa depan perempuan yang kehilangan keperawanannya, apalagi sampai hamil 
di luar nikah jelas sangat buram. Mereka menanggung penderitaan hidup yang 
begitu mendalam. Masyarakat akan mengucilkan perempuan yang demikian. Karena 
dalam masyarakat agamis seperti di Indonesia, harga keperawanan tak ternilai 
dengan uang sebesar apapun. 

      Keparawanan merupakan mahkota seorang perempuan yang mesti dijaga dengan 
baik. Perempuan yang kehilangan keperawanannnya akan menanggung beban batin 
yang mengganggu hidup. Trauma akan peristiwa memilukan itu senantiasa 
mengganggu ketenangan hidupnya. Ia akan merasakan penyesalan mendalam. 
Seolah-olah dunia ini sudah tidak memberikan harapan hidup yang indah lagi.

      Bukan hanya masa depan dirinya yang menjadi buram. Tetapi juga anak yang 
dikandungnya. Ketika lahir anak tersebut lahir, dia akan mengalami penderitaan 
hidup lantaran dilahirkan dari hasil seks di luar nikah. Ia juga akan mendapat 
perlakukan buruk dari masyarakat di sekitarnya. Bahkan olok-olokan "anak zina" 
seringkali ditemukan dalam masyarakat. Sungguh sangat memprihatinkan, seorang 
anak yang tak berdosa menanggung akibat buruk dari perilaku ibunya yang tidak 
tahu diri. Seorang ibu yang menyerahkan keperawanannya kepada lelaki pengecut 
yang juga tidak tahu diri dan berjiwa binatang.

      Selain diri dan anak yang dikandung yang mendapat penderitaan hidup. 
Tentu nama baik keluarga dan lembaga pendidikan juga tercemar. Orang tua dan 
guru-gurunya menanggung pelecehan dari masyarakat. Seolah mereka tidak becus 
mendidik perempuan tersebut. Walaupun sebenarnya, perempuan tersebut yang tidak 
tahu diri, sehingga matanya dibutakan akan kebenaran. Gaya hidup di dunia 
modern telah menyeret dirinya pada sebuah keadaan di mana mereka lupa harga 
keperawanan seorang perempuan. Tanpa merasa mereka menggadaikan masa depannya 
pada seorang lelaki bejat yang tak bertanggung jawab. Setelah itu mereka 
menyesal, bahkan hingga ajal menjemput.

      Maka tindakan yang dilakukan Annisa perlu menjadi cerminan bagi perempuan 
masa kini, ia merelakan dirinya terluka hingga meninggal dunia demi menjaga 
kehormatan dirinya sebagai seorang perempuan. Peristiwa ini menjadi tamparan 
moral bagi perempuan yang selama ini tersesat jalan hidupnya. 

      Annisa hendak menunjukkan bahwa harga keperawanan seorang perempuan tak 
ada taranya. Bahkan denga nayawa sekalipun. Maka dia merelakan dirinya 
terjerembab jatuh dari anggkot demi menjaga kehormatan dirinya. Sesuatu yang 
sangat sulit kita temukan pada anak-anak perempuan masa kini. Semoga peristiwa 
ini mampu menggugah kesadaran para perempuan akan harga sebuah keperawanan! ***

      Aktivis Gender dan Akademisi Universitas Trunojoyo Bangkalan Madura  


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke