http://www.analisadaily.com/news/read/2013/03/09/113146/menjadikan_perempuan_sebagai_subyek/#.UTppEVdstpk

      Menjadikan Perempuan sebagai Subyek 
      Oleh: Hidayat Banjar. 


      Setiap tanggal 8 Maret, seluruh perempuan di dunia memeringati Hari 
Perempuan Sedunia atau Women Day. Dijadikannya tanggal 8 Maret sebagai 
International Women Day karena pada tanggal yang sama di tahun 1917, perempuan 
di Rusia, untuk pertama kalinya diberikan hak suara oleh pemerintah Rusia. 
Inilah yang menjadi tonggak awal peringatan bagi seluruh perempuan dunia.
      Mengapa masih perlu membuat hari khusus untuk merayakan kaum perempuan 
sedunia? Di Indonesia, berdasarkan catatan Komisi Nasional Perempuan terus saja 
terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan. Jenis kekerasan yang paling banyak 
adalah secara seksual dan dalam ranah privat. Bahkan mayoritas korbannya masih 
berada di bawah umur. Pelakunya sendiri mulai dari yang berpendidikan tinggi 
hingga kalangan menengah ke atas. 

      Masih Rendah

      Sementara itu, keterwakilan perempuan dalam parlemen belum terlihat 
signifikan. Bahkan dalam Pemilu 2014, yang tinggal setahun lagi, keterwakilan 
30 persen perempuan, juga perlu dipertanyakan. Apa karena banyak perempuan 
apatis, suaranya tidak terlalu didengar dan tidak banyak berpengaruh pada 
kebijakan yang dikeluarkan?  

      Kedudukan perempuan sebagai sebagai penentu keputusan masih rendah, 
begitu pula akses terhadap sumber daya. Hal ini digarisbawahi oleh 
ketidaksetaraan yang masih terus berlanjut, seperti : 

      - Masih rendahnya perwakilan perempuan dalam posisi yang berpengaruh 
dalam dunia politik dan ekonomi dunia (siapa yang mengendalikan globalisasi?); 

      - Perempuan masih mendominasi angka kaum miskin; berlanjutnya kekerasan 
terhadap perempuan; 

      - Adanya pemisahan jenis kelamin (gender gap) dalam pendidikan dan 
besar-kecilnya gaji. 

      Hak yang sama bagi setiap warga negara, seharusnya bersifat universal, 
masih belum berlaku bagi perempuan. Kaum perempuan belum mendapatkan sumber 
daya yang memungkinkan mereka untuk menggunakan hak sebagai warga negara. 

      Pekerjaan-pekerjaan reproduktif tanpa imbalan masih dibebankan di pundak 
perempuan di seluruh dunia. Perempuan masih melakukan pekerjaan-pekerjaan 
reproduktif, merawat orang sakit dan jompo, merawat keluarga dan rumah tangga 
setiap hari, baik secara fisik maupun psikologis. 

      Pekerjaan jenis ini diperlukan di setiap penjuru dunia, tapi masih belum 
diberikan imbalan, dan orang cenderung menganggap perempuan harus dan mau 
melakukan pekerjaan seperti ini. Kita ingin dunia mengakui pentingnya pekerjaan 
seperti ini dan itu merupakan tanggung jawab bersama. 

      Bekerjasama

      Oleh karena itu, Hari Perempuan Sedunia adalah peringatan untuk 
mengarahkan fokus dunia pada hal-hal di atas dan juga masalah-masalah perempuan 
lainnya. Pada hari ini, saatnya perempuan untuk membina jaringan, menyusun 
strategi dan bergerak; tunjukkan keberadaan, suara, dan visi pada dunia. 
Melalui Hari Perempuan Sedunia, perempuan harus bekerjasama dengan kaum pria 
mengenai kesetaraan gender. Karena, hanya dengan kerjasamalah perubahan bisa 
terjadi. 

      Kaum perempuan perlu diingatkan, jangan terjebak pada sekadar jargon. 
Lihat substansinya, apakah di balik jargon itu, tidak justru mengesploitasi 
kaum perempun. Jargon memberdayakan ekonomi perempuan, misalnya, jika tidak 
mengantarkan perempuan sebagai subyek, justru akan jatuh pada perilaku 
ekspolitasi. 

      Lihatlah di masyarakat tradisional kita, sang istri mencangkul di sawah 
atau ladang, sementara suami nongkrong di warung kopi. Pada titik ini bukan 
memberdayakan ekonomi perempuan, melainkan mengesplotasi perempuan.

      Begitu juga dengan ungkapan tiga ur: kasur dapur dan sumur, jangan 
buru-buru ditolak. Jika perempuan hanya boleh (dipaksa) untuk urusan dapur, 
kasur dan sumur, jelas membelenggu kehidupannya dan ini harus dilawan. Tetapi 
jika sang perempuan memang suka ke dapur memasak dan merasa nikmat dengan 
tugas-tugas itu, apa salahnya?

      Sebagai Subyek

      Ya, sejatinya perjuangan kaum perempuan adalah menjadikannya sebagai 
subyek. Bahkan, dalam urusan ranjang pun, perempuan harus jadi subyek sehingga 
dapat menikmatinya, tak sekadar hanya untuk memuaskan suami (pasangan), jadi 
semacam got tempat penyaluran sperma. Pertemuan perempuan dan lelaki seyogianya 
adalah pertemuan subyek dan subyek. Bukan subyek dengan obyek.

      Bila perempuan dapat menjadi subyek, sesungguhnya kaum Hawa ini adalah 
makhluk yang kuat. Sekali lagi, agar kekuatan perempuan maksimal, tentu harus 
jadi subyek, bukan obyek atau malah hadi budak. 

      Kekuatan perempuan ada di kelemahlembutan dan kesabarannya. Perhatikanlah 
dalam kehidupan nyata bila dapat menjadi subyek tak sedikit istri yang 
kehilangan suami (karena meninggal) dapat mengayuh bahtera rumah tangga dengan 
baik dan benar. Anak-anak dapat bersekolah dan pada akhirnya berhasil mencapai 
cita-cita.

      Sebaliknya, jika suami kehilangan istri, kerap kita lihat akan terjadi 
kekacauan pendidikan anak-anak. Itulah perempuan, makhluk yang kuat dan 
sekaligus menarik, terlebih jika ia dapat berperan sebagai subyek (ibu). Bahkan 
di dalam Al-Quran, ada ayat yang khusus membicarakan kaum perempuan (An-Nisa).

      Dari jaman Adam, perempuan begitu menarik; keindahannya, ketulusannya, 
ketabahannya, kelemahlembutannya dan lain sebagainya. Adam saja tak 
memertimbangkan macam-macam ketika Hawa memintanya untuk memakan buah khuldi, 
sehingga kita pun ada di muka bumi ini.

      Padahal sebelumnya, sang ular jelmaan setan tak dapat merayu Adam untuk 
memakan buah paling nikmat itu. Tetapi ketika Hawa meminta, Adam pun memakannya 
dengan suka cita.

      Lisystrata

      Kedasyatan perempuan juga dilukisakan dalam lakon Lisystrata. Ketika itu 
terjadi perempuran antara Sparta dan Athena yang tak habis-habisnya. Peradaban 
pun ambruk. Manusia, perlahan tapi pasti menuju degradasi moral yang nyaris ke 
titik nadir. Maka muncullah Lisystrata dengan gagasan mogok seks. 

      Pahlawan perempuan ini dapat memengaruhi wanita-wanita di Sparta maupun 
Athena untuk melakukan pemogokan seks. Ketika malam, usai perang, para lelaki 
mau minta ‘jatah’, maka para perempuan menolaknya. 

      Awalnya, para lelaki memang dapat bertahan. Lama kelamaan, kaum lelaki 
sempoyongan juga tak diberi kebutuhan yang sangat mendasar tersebut, khirnya 
mau memenuhi permintaan kaum perempuan untuk menghentikan perang. Sebab, jika 
perang terus berlangsung, kaum perempuan tak kan mau berhubungan seks.

      Demikianlah perempuan, di balik kelemahlembutannya, tesimpan kekuatan 
yang maha dasyat: dapat menghentikan peperangan. Makanya Presiden pertama 
Republik Indonesia Soekarno mengatakan: perempuan adalah tiang negara, rusak 
perempuan maka rusak pula negara.

      Lihat pulalah, kasus-kasus korupsi, penjualan wanita dan lain sebagainya, 
sesungguhnya tak terlepas dari peran perempuan. Lelaki-lelaki yang punya 
jabatan didorong oleh kaum perempuan agar memenuhi keinginan materialisme, 
bahkan hedonisme dengan korupsi. Padahal keingian tersebut bagai lautan tak 
bertepi, tiada kenal batas. Di balik penjualan-penjualan wanita, ternyata 
pelakunya juga kaum perempuan.

      Maka itu, sekaitan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia, mari sama 
kita – kaum perempuan dan lelaki – bergandengan tangan untuk menjaga kaum 
perempuan agar senantiasa dapat berperan sebagai subyek. Karena sesungguhnya, 
perempuan dapat menjadi ibu suci seperti Bunda Tresa, tapi dapat juga berperan 
sebagai spion (mata-mata) kawakan seperti Matahari. ***

      Peminat Masalah Sosial dan Budaya Menetap di Medan 
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke