Ref: Tanpa elit menguncang pun, pemerintahanmu akan tumpang bubar amblas, 
karena masa jabatan berakhir. Tetapi, kalau ingin terus berkuasa silahkan saja, 
monggo-monggo plisssss.

http://www.shnews.co/detile-15875-sby-tak-perlu-mengeluh-lagi.html

SBY Tak Perlu Mengeluh Lagi 
Tajuk Rencana | Selasa, 05 Maret 2013 - 13:19:46 WIB

: 138 




(dok/antara)

SBY mengaku ada elite politik yang sedang mengguncang pemerintahan.


Sebelum bertolak ke Jerman, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali 
melontarkan keluhannya mengenai situasi politik nasional. Ia bahkan menuding 
kelompok tertentu berencana mericuhkan negara dengan tujuan mengguncang 
politik, khususnya menuju pemilu tahun depan. 

"Saya telah mendapatkan informasi tersebut, bahkan sebagian dari intelijen. 
Saya hanya berharap kepada para elite politik dan kelompok-kelompok tertentu, 
tetaplah berada dalam koridor demokrasi," katanya sebelum naik pesawat. 

Itu tudingan yang sangat serius. Namun kita bingung menangkap arah pernyataan 
SBY tersebut, siapa kelompok yang dimaksud dan bagaimana gerakan yang mereka 
rencanakan. Keluhan seperti itu bukan yang pertama kali dilontarkan SBY. Namun, 
seperti pada setiap keluhannya, ia hanya meninggalkan tanda tanya bagi publik, 
bahkan kebingungan dan sikap masa bodoh. 

Setahun lalu, SBY juga berbicara di depan para kader Partai Demokrat di puri 
Cikeas. Ia mengatakan ada pihak-pihak yang menjadikannya sebagai sasaran tembak 
dan ingin menjatuhkannya dari kursi kepresidenan. Ketika itu, kekisruhan yang 
merisaukan hati SBY adalah demo dan polemik menentang rencana pemerintah 
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). 

Kali ini SBY mengeluhkan hantaman badai berkaitan dengan penanganan kasus 
Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terutama setelah penetapan 
Anas Urbaningrum sebagai tersangka. SBY membenarkan sebagai dampak kasus ini, 
timbul kesan bahwa masalah ini sengaja ditarik ke ranah politik, padahal 
menurutnya, penetapan tersangka Anas adalah murni sebagai proses hukum. 

Jadi, latar belakang kerisauan hatinya adalah kasus Anas. Tapi, apalagi yang 
dirisaukannya, toh Anas sudah kalah dan mundur dari partainya. 

Apakah SBY belum percaya diri segera menggelar KLB untuk menempatkan loyalisnya 
memimpin Demokrat? Apakah karena anaknya, Edhie Baskoro (Ibas), mulai 
disinggung-singgung menerima uang haram Hambalang? Apakah ia mengkhawatirkan 
kekalahan Partai Demokrat pada Pemilu 2014 sehingga calon presiden yang ia 
dukung sulit terpilih? Banyak pertanyaan lain bisa diajukan berkaitan dengan 
hal-hal yang bisa mengganggu pikirannya, karena banyaknya persoalan yang 
berpusar di sekitarnya. 

Tapi kalau SBY mencoba menginsinuasi publik dengan tuduhan konyol adanya 
kelompok yang akan menciptakan kerusuhan menjelang pemilu, itu sia-sia saja. 
Publik sudah mafhum, SBY akan sampai pada akhir masa kekuasaanya karena 
partai-partai pun berkepentingan untuk itu. Toh tinggal setahun lagi, apa 
gunanya ribut. 

Lebih baik, sebetulnya, SBY melontarkan pernyataan yang produktif dan 
mencerahkan. Misalnya mengenai tekadnya untuk membersihkan Partai Demokrat dan 
aparat pemerintahannya dari benalu koruptor. Siapa pun mereka, tanpa pandang 
bulu, ia akan tindak dan menyerahkannya pada proses hukum. SBY bisa meyakinkan 
rakyat bahwa sisa pemerintahannya akan diabdikan untuk meningkatkan 
kesejahteraan rakyat dan memberantas korupsi demi terciptanya pemerintahan yang 
bersih. 

Keluhan SBY itu tidak ada manfaatnya. Ia justru mengobarkan rasa saling curiga 
di antara rakyatnya sendiri, menuding kelompok yang tidak jelas, jangan-jangan 
bayangannya sendiri. Itu tipikal cara-cara lama, tidak efektif tapi terus 
dilakukannya. 

Maka banyak kelompok yang menjuluki SBY sebagai “Presiden yang suka mengeluh”. 
Julukan itu tentu tidak menguntungkan bagi citra SBY sendiri. Maka ia harus 
mengubah kebiasaannya itu agar tidak melekat sebagai citra yang merugikannya. 

Apa yang ia risaukan sebenarnya terkait dengan kebijakan politiknya sendiri. 
Maka, seperti kata pepatah, “Memercik air di dulang akan terkena wajah 
sendiri”, persoalan-persoalan tersebut lebih disebabkan kegagalan birokrasi 
partai dan pemerintahnya bekerja transparan, bersih, dan taat hukum. 

Apakah SBY akan meninggalkan kekuasaannya tahun depan dengan kenangan manis, 
atau justru masih dihantui berbagai persoalan yang bisa menyulitkannya 
kemudian? Itu semua terpulang kepada SBY sendiri. 

Tapi sangat bijaksana misi SBY setahun ke depan lebih mencerahkan dan 
menimbulkan harapan baru. Ia tidak perlu lagi mengeluh karena tidak ada 
gunanya. Ia justru harus menyatakan visi yang jelas, bagaimana menyejahterakan 
rakyat, memberantas korupsi, serta menegakkan hukum dan keadilan. 

  

  

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke