http://www.shnews.co/detile-16032-demokrasi-dalam-dramaturgi-politik-oligarkis.html


Demokrasi dalam Dramaturgi Politik Oligarkis 
Thomas Koten* | Kamis, 07 Maret 2013 - 14:29:24 WIB

: 192 



Watak serakah elite menghilangkan dimensi luhur kenegaraan.


Asupan dramaturgi politik tak henti-hentinya dipertontonkan para politikus di 
depan publik. Publik pun menyaksikan drama-drama politik itu dengan penilaian 
masing-masing. 

Salah satu drama politik yang paling aktual adalah pengunduran diri mantan 
Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum yang diwarnai pidato pengunduran 
diri yang dikatakannya sebagai lembaran pertama dari halaman-halaman 
selanjutnya. 

Dramaturgi dipopulerkan Aristoteles, filsuf besar zaman Yunani kuno dalam 
karyanya, Poetics. Aristoteles mendeskripsikan penampilan atau pemanggungan 
drama-drama politik yang berakhir tragis, serius penuh sinisme, ataupun 
kisah-kisah komedi. 

Menurut Aristoteles, manusia adalah aktor yang berusaha menggabungkan 
karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan 
dramanya sendiri”. 

Celakanya, semua drama yang dipertontonkan para politikus selalu 
mengatasnamakan demokrasi. Tidak heran demokrasi pun akhirnya terus “dicurigai” 
sebagai kotak pandora bagi segala kebejatan dan ketidakpatutan. Bahkan, 
demokrasi dan partai politik yang diagungkan untuk mentransendensikan 
penderitaan rakyat dan memberikan pencerdasan politik rakyat, dalam prakteknya 
lebih dimanfaatkan untuk kepentingan para politikus, termasuk dipakai menjarah 
uang negara. 

Selain itu, demokrasi memerlukan moralitas dan etika publik yang tertanam dalam 
setiap pelaku demokrasi dalam bentuk kebajikan, ternyata dalam praktiknya pun 
selalu dikhianati dan senantiasa berjalan tanpa moralitas dan etika publik. 

Demokrasi yang harus menjadi jendela pikiran dan batin setiap warga, terutama 
para politikus agar pembangunan sosial, ekonomi, dan politik dapat berjalan 
sesuai dengan cita-cita negara kesejahteraan, semakin jauh panggang dari api. 

Bahayanya, proyek keberhasilan demokrasi di negeri ini bisa sekadar menjadi 
bayang-bayang semu, dan Indonesia dapat terjerembab ke dalam situasi bad turn 
in politics (perkembangan buruk), autokrasi lama. Semua ini dapat terjadi jika 
“pembusukan” demokrasi tidak segera dimurnikan para politikus di partai politik 
dan di Senayan dengan cara mengedepankan kearifan dan keadaban politik. 

Dari Demokrasi ke Oligarki 

Diskursus mengenai fungsi kearifan dan keadaban politik, khususnya dalam 
demokrasi, bukan sesuatu yang baru di era modern. Filsuf-filsuf Yunani kuno 
seperti Aristoteles dan Plato telah lebih awal membincangkan secara serius 
persoalan-persoalan ini. 

Bahwa demokrasi bagi kedua filsuf itu tidak lebih dari sebuah sistem politik 
karena terbalut berbagai kepentingan. Atau, etika dan moralitas dijadikan 
subordinat politik. Ingat, politik adalah seni hidup bersama dalam mengelola 
negara dengan panduan etika publik, yang membuat warga dan pelaku politik tidak 
sekadar hidup, melainkan hidup dengan bijak (euzen). 

Itu pula yang kita lihat sekarang ini. Demi pemenuhan kepentingan diri yang 
egois, demokrasi dikamuflase dan aneka pembusukan politik dilakukan tak peduli 
persoalan riil di balik panggung drama. Alih-alih, sebagai katalisator dan 
artikulator rakyat, mereka hanya memperjuangkan kepentingan diri dan kelompok. 

Partai-partai politik pun bukan dikembangkan untuk memberikan pencerdasan 
politik rakyat, tetapi seperti kata Andreas Ufen (2009), berkembang menjadi 
“partai-partai kartel”, yakni partai yang melekat pada negara, teralienasi dari 
masyarakat dan didominasi para elite negara. 

Alan Hamlin juga pernah mencemaskan hal ini, para politikus dan penguasa 
berjalan tanpa kearifan, dan keadaban politik yang mengkhianati etika dengan 
banyaknya politikus terlibat kasus suap dan korupsi, hanya akan membentuk 
seruan yang menyakitkan; setop demokratisasi. 

Pada saat ini memang ketidakpedulian politik terhadap etika politik dan 
moralitas demokrasi menegas. Bagi mereka, seruan soal etika politik dan 
moralitas demokrasi hanyalah igauan para pengamat yang cemburu tidak kebagian 
kekuasaan. 

Ini karena kekuasaan bagi mereka adalah hasil pertarungan menang-kalah dalam 
politik, dan ujung sebuah persekongkolan para politikus yang memiliki 
kepentingan yang sama, kekuasaan untuk kekuasaan. Di sini demokrasi pun 
sebenarnya sudah mati di tangan para politikus atau hanya berputar dalam 
sirkulasi elite-pelaku persekongkolan politik. 

Benar kata Mattei Dagon (2003) bahwa sirkulasi elite pada akhirnya merujuk pada 
posisi piramidal kekuasaan. Tetap ada sentrum yang mengendalikan arah politik 
maupun di mana posisi publik akan ditaruh dalam kepentingan para elite. Banyak 
politikus sekarang ini menunjukkan diri tanpa malu sebagai titik akhir dari 
demokrasi piramidal itu. 

Secara terbuka mereka menunjukkan perilaku destruktif meskipun sama sekali 
tidak bersentuhan dengan kepentingan publik. Mereka pun menciptakan lahan subur 
bagi tumbuh dan menyebarnya virus suap, korupsi, serta persekongkolan dan 
perselingkuhan politik. 

Selain itu, ketidakberanian para politikus dalam membela kepentingan rakyat dan 
hanya berorientasi pada kekuasaan dan materi, merupakan bukti nyata kekerdilan 
dan kebusukan dalam cara berpikir dan berpolitik. 

Semua ini merupakan cermin nyata konfigurasi politik Indonesia saat ini. Dalam 
Moh Mahfud MD (2006) disebut konfigurasi politik oligarkis, konfigurasi politik 
yang didominasi kelompok elite yang mengerjakan politik melalui 
transaksi-transaksi yang saling memberikan keuntungan politik. 

Etika dan Moral Baru 

Dengan sensasi politik transaksional yang penuh persekongkolan dan 
perselingkuhan di antara politikus yang oligarkis, bukan saja menjerembabkan 
kekuasaan dalam pembusukan dan membunuh demokrasi, melainkan telah menistakan 
kekuasaan itu sendiri. Dalam istilah George Bataille, kaum elite yang bersikap 
aneh telah “memarodi diri sendiri”. Fukuyama (2005) menulis, watak serakah 
elite menghilangkan dimensi luhur kenegaraan. 

Jika ingin watak mulianya negara tetap dan selalu tumbuh, demokrasi substansif 
harus ditumbuhkembangkan untuk menggairahkan kontrol publik. Namun, itu lebih 
dimungkinkan jika dalam masyarakat tumbuh suatu tata moral baru, dan dipandu 
suatu sikap etika yang baru pula. Dari etika baru dapat mendorong lahirnya tata 
moral baru, dan seterusnya. Dengan lahir dan tumbuhnya tata moral baru, 
kecerahan hidup dalam masyarakat dan bangsa dapat tercipta. 

Yang sangat dibutuhkan saat itu adalah segera dibangun arus politik responsif 
untuk mendorong perubahan politik ideal, yang dapat melahirkan 
konfigurasi-konfigurasi politik demokratis serba etis dan penuh moralitas. 

Namun, semua ini tergantung pada apakah kaum elite negeri, seperti para 
politikus di partai politik dan para wakil rakyat di Senayan, sanggup merakit 
kebesaran jiwanya demi membangun kebangsaan dengan mengutamakan kesejahteraan 
rakyat di atas puing-puing kejahatan yang mengumpal alur demokratisasi. 

*Penulis adalah Direktur Social Developoment Center 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke