Ref: Siwa dan guru daerah terpencil  dibawa ke Jakarta  untuk mengajukan 
pertanyaan?  Agaknya, tak dapat diragukan bahwa  solusi  dari masalah  yang 
diajukan memakan waktu seperti  listrik di Maluku.

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=40&id=41333

UMAT, 08 Maret 2013 | 507 Hits


Dahlan Iskan Dihujani Curhatan Guru dan Siswa Daerah Terpencil


Jakarta, AE— Menteri BUMN Dahlan Iskan menghadiri pertemuan dengan ratusan guru 
dan siswa daerah terpencil di kantornya untuk memberikan bantuan dari PT 
Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Dahlan dihujani curhatan guru dan siswa 
seputar masalah pendidikan.

iapa yang mau bertanya kepada saya?” tanya Dahlan kepada guru dan siswa di 
kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (7/3/2013).

Menanggapi Dahlan, dengan cepat guru dan siswa mengangkat tangan dan langsung 
bertanya kepada mantan Dirut PLN ini. Banyak di antara mereka yang mengeluhkan 
fasilitas sekolah yang tidak layak untuk dihuni puluhan siswa untuk belajar. 
Lalu bagaimana tanggapan Dahlan ?
“Rasanya ada program revitalisasi dan pembangunan sekolah di program 
Kemendikbud. Karena ada anggaran pendidikan sebesar Rp 320 triliun. Saya akan 
cek nanti di Kemendikbud dan saya akan bilang ke menterinya,” tegas Dahlan.

Kemudian Dahlan juga mengomentari keluhan guru dan siswa dari Papua, Ketapang, 
dan Simeuleu (Aceh) terkait masalah listrik dan internet. 

“Kemarin kami rapat di Menko agar PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) 
diprioritaskan di Timur Indonesia bukan di Pulau Jawa. Saya akan sampaikan 
keluhan ini di Menteri ESDM. Untuk internet saya minta Telkom atasi ini. Ini 
gampang untuk Telkom, karena mereka labanya Rp 13 triliun,” ujarnya.
Kemudian di akhir kalimat, Dahlan mengingatkan, untuk berprestasi ia tidak 
percaya dengan faktor tempat. Menurutnya di manapun kita berada, kita bisa 
berprestasi.

“Apakah permintaan bisa dipenuhi, yang penting ke sini dulu (Jakarta), bukan 
untuk merasa rendah diri. Seharusnya bangga kami datang dari pulau terpencil 
dan jauh datang ke sini. Untuk bisa beprestasi bisa di manapun tempatnya dan 
saya tidak percaya tempat menentukan prestasi. Kepada siswa yang mempunyai 
prestasi harus mempunyai kelakukan yang baik agar masa depannya pasti cerah,” 
cetusnya.(dtc)

++++

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=41352


Butuh 270 Tahun, Baru Maluku Terang


AMBON,AE.- Keterbelakangan di Maluku masih tetap nampak, meski pemerintah telah 
mengklaim berhasil menurunkan tingkat kemiskinan jauh dari angka saat konflik 
kemanusiaan tahun 1999 lalu. 

Ketidaktersediaan fasilitas pendidikan yang memadai, dan fasilitas penerangan 
atau listerik terbatas membuat tingkat kesejahteraan masyarakat masih jauh dari 
harapan.

Sejak menyatakan bersama Indonesia tahun 1945 silam, hingga kini masih banyak 
masyarakat di desa-desa tidak pernah merasakan manfaat dari listerik sebagai 
sarana multi fungsi. Pasalnya dari 1024 desa di Maluku, sebanyak 270 desa tidak 
pernah dialiri aliran listerik melalui Perusahaan Listerik Negara. Kalau pun 
ada, masyarakat tidak bisa menggunakan sepanjang 24 jam. 

Temuan ini didasarkan pada hasil inventarisasi yang dilakukan Dinas Enegri dan 
Sumberdaya Mineral (ESDM). “Sesuai hasil inventarisasi yang dilakukan Dinas 
ESDM, kurang lebih 270 desa yang ada di Maluku belum teraliri listrik,” ungkap 
Kepala Dinas ESDM Maluku Martha Nanlohy kepada koran ini pekan, kemarin. 

Desa–desa tersebut tersebar di hampir semua kabupaten/kota yakni Kabupaten 
Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat (MTB), Maluku Barat Daya, Aru, Buru 
Selatan, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat (SBB), dan Maluku Tengah. 
Kecuali Kota Ambon yang semua desa sudah teraliri listerik. 

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah membangun komunikasi dengan 
pemerintah pusat termasuk PLN. Tahun ini, Dinas ESDM Maluku mendapatkan bantuan 
listrik masuk desa dari PT PLN Pusat. “Bantuannya sebanyak 53 desa. Ini 
direalisasikan setelah kita dengan komisi D DPRD Maluku ke Jakarta untuk 
menemui Direktur Utama PT PLN Pusat. Kita kebagian bantuan untuk 53 desa dan 
itu telah diproses. Mudahan-mudahan dalam waktu dekat bisa teraliri listrik,” 
ungkapnya. 

Kendati telah mendapatkan bantuan listrik untuk 53 desa di Maluku, Nanlohy 
mengaku belum sepenuhnya desa-desa di Maluku teraliri listrik. “Kita masih 
punya 270 desa lagi yang belum teraliri listrik. Kita harus upayakan agar 
desa-desa di Maluku ini semuanya harus diteraliri listrik,” sebutnya.
Untuk program listrik masuk desa tidak dianggarkan dari APBN, semuanya 
dibebankan kepada APBD Provinsi Maluku. Kalau APBD Maluku satu tahun hanya bisa 
untuk satu desa. Karena itu kalau ada 270 desa lebih, otomatis 270 tahun lagi 
kedepan baru seluruh desa di Maluku bisa teraliri listrik.

“Satu tahun kita hanya bisa bikin satu desa. Bayangkan saja, kalau ada 270 desa 
yang belum, otomatis 270 tahun kedepan baru semua desa bisa teraliri listrik,” 
pungkasnya. 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke