Ref:  Brutalisme negara ini  bisa terus berlangsung, karena dipelihara, sebab 
ada keuntungannya. Mana mau diperlihara yang merugikan? 

http://www.gatra.com/fokus-berita/25752-tni-vs-polri-cermin-brutalisme-negeri-ini.html

TNI vs POLRI Cermin Brutalisme Negeri Ini 

  Created on Friday, 08 March 2013 06:43 
  Published Date 

 
Mapolres OKU dibakar (ANTARA/Nila Tina)
Jakarta, GATRAnews - Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Pepatah itu 
pas untuk menggambarkan kejadian berdarah pada Kamis (7/3/2013) pagi di Ogan 
Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Kota kecil yang damai itu, tiba-tiba 
terkoyak oleh aksi brutalisme aparat TNI melawan Polisi. 
Sungguh, kejadian memalukan itu menjadi cermin bagi negeri ini yang kerap 
dilanda aksi gegap gempita bentrok warga di berbagai daerah. Betapa tidak, dua 
pasukan yang seharusnya menjadi garda depan dalam pengamanan warga dan 
penegakan hukum, justru mempertontonkan aksi brutal hingga memangsa banyak 
korban.

Bagaimana mungkin penduduk negeri ini akur dan damai jika aparat penegak hukum 
saling baku pukul. Polisi yang semestinya melindungi rakyat, dan TNI yang 
sepatutnya menjaga ketertiban dan keamanan, malah menciptakan huru hara di 
tengah warga.

Bentrok berdarah antara TNI dan Polri di kota kecil itu menjadi cermin 
brutalisme di negeri tercinta ini. Atas nama korp dan solidaritas antar teman, 
puluhan anggota Batalyon Armed 15/ 105 TNI Tarik Martapura meluruk dan membakar 
Mapolres OKU.

Amuk massa sekitar 90 anggota TNI itu dipicu oleh kabar meninggalnya salah 
seorang anggota TNI bernama Pratu Heru Oktavinus, anggota Batalyon 15/ 105, 
pada 27 Januari 2013. Heru tewas karena ditembak mati oleh anggota Polisi Lalu 
Lintas Polres OKU Brigadir Wijaya saat terlibat perkelahian di Desa Sukajadi, 
OKU.

Perkelahian malam itu bermula saat Brigadir Wijaya dan sejumlah polisi lalu 
lintas menggelar razia kendaraan bermotor. Setelah melakukan razia, Brigadir 
Wijaya duduk di Pos Polisi 902, Jalan Lintas Tengah Sumatra.

Lalu, melintaslah rombongan Pratu Heru Oktavianus yang berjumlah lima motor. 
Mereka baru pulang dari acara sunatan di Lorong Duku, Kelurahan Kemala Raja, 
Baturaja Timur, OKU, melintas di depan pos. Saat berada di lokasi razia, Pratu 
Heru yang tertinggal dari rombongannya dihentikan, namun berhasil meloloskan 
diri sambil menghina polisi.

Mendengar hinaan itu, Brigadir Wijaya menjadi naik pitam dan mengejar Briptu 
Heru. Brigadir Wijaya berhasil menyusul Briptu Heru. Dia kemudian menendang 
motor Briptu Heru hingga terjatuh. Kemudian, terjadilah percekcokan yang 
berujung pada adu fisik. Namun kemudian, Brigadir Wijaya menembak Briptu Heru 
dua kali. Satu tembakan mengenai punggung, satu lagi menembus leher.

Briptu Heru kemudian dibawa ke Rumah Sakit Santo Antonius Baturaja. Namun 
beberapa saat kemudian dia tewas. Sejak itulah situasi di Baturaja, OKU, 
menjadi tegang. Mapolres OKU dijaga ketat untuk mengantisipasi kemungkinan 
serangan. Hingga akhirnya, polisi menetapkan Brigadir Wijaya sebagai tersangka 
tunggal kasus pembunuhan Briptu Heru.

Tanpa Komando

Dua bulan berlalu, tak ada kejelasan penanganan kasus tersebut. Hal itu membuat 
para tentara di barak Batalyon 15/ 105 naik pitam. Teman-teman Heru dari 
Batalyon Armed 15/ 105 TNI mendatangi Mapolres OKU pada Kamis pagi pukul 07.30 
WIB. Mereka menggunakan truk dan motor. Sebagian dari tentara itu juga membawa 
sangkur. Mereka datang ke Mapolres OKU untuk menanyakan perkembangan kasus 
penembakan Heru.

"Mereka bergerak tanpa sepengetahuan pimpinan," kata Kadiv Humas Polri Irjen 
Suhardi Alius di kantor Humas Mabes Polri, Kamis (7/3/2013). Mediasi pun tidak 
berjalan mulus. "Pembicaraan tidak berlangsung lama, lalu situasinya mendadak 
tak terkendali dan menjadi perusakan," ujar Suhardi.

Entah apa yang terjadi, pada pukul 09.30 WIB, para tentara itu naik pitam. 
Mereka merusak dan membakar Mapolres OKU. "Mungkin mereka tidak mendapat 
jawaban yang memuaskan. Maka terjadi keributan yang berujung dengan 
pembakaran," kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Laksamana Muda Iskandar 
Sitompul kepada.

Akibatnya, sebagian kantor Polres OKU ludes dilalap si jago merah. Selain itu, 
4 mobil dan 70 motor turut dirusak dan dibakar. Kekacauan ini juga menyebabkan 
16 tahanan kabur, lainnya dievakuasi.

Tak hanya itu, aksi brutal ini juga menyebabkan tiga anggota Polres OKU terluka 
dan harus dirawat di ruhah sakit. Mereka adalah Briptu Berlin Mandala yang 
mengalami luka tusuk di dada dan tangan, Aiptu Marwani luka tusuk di paha, dan 
Bripka M yang mengalami luka bakar.

Usai melakukan pembakaran, puluhan anggota Batalyon 15/ 105 itu meninggalkan 
Mapolres OKU yang sebagian telah habis dilahap api. Namun, para tentara itu 
tidak berhenti melakukan perusakan. Di perjalanan, mereka juga menghancurkan 
dua pos lalu lintas dan pos sub sektor. Mereka bahkan menyerbu Mapolsek 
Martapura. Akibatnya, Kapolsek Martapura Kompol Ridwan terluka dan dalam 
kondisi kritis.

"Kapolsek dalam keadaan luka cukup parah dan diterbangkan ke Sumsel untuk 
dievakuasi, semoga bisa diselamatkan jiwanya," kata Suhardi. Namun dia 
memastikan, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

Suhardi menyesalkan tindakan brutal puluhan anggota TNI. Pihaknya mendesak 
Mabes TNI untuk mengungkap kasus pembakaran dan penyerangan yang mengakibatkan 
empat anggota polisi mengalami luka tusuk.

Masalah Kesejahteraan

Komisi III DPR pun mengutuk keras peristiwa pembakaran kantor Polres Ogan 
Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Disinyalir, pembakaran kantor polisi itu 
dilakukan oleh oknum anggota TNI.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Aziz Syamsudin, meminta agar aparat kepolisian dan 
TNI proaktif dalam mengusut tuntas peristiwa itu. Menurutnya, oknum pembakaran 
itu harus segera ditindak sesuai hukum yang berlaku di tanah air.

"Perlu dilakukan penyelesaian tegas dan terukur serta segera turun ke lapangan 
secara bersama Polri dan TNI. Dan menindak tegas pelaku yang membakar," kata 
Aziz kepada wartawan, Jakarta, Kamis (7/3/2013).

Menurut dia, peristiwa pembakaran itu diduga akibat masalah perbedaan tingkat 
kesejahteraan aparat kepolisian dan TNI, yang berkembang ke masalah-masalah 
dalam kehidupan sehari-hari dan berujung kepada konflik berkepanjangan. 
"Masalah kedua, koordinasi yang tidak dilakukan secara berkelanjutan," kata 
Aziz.

Untuk itu, Aziz berinisiatif melakukan rapat gabungan antara Komisi III dengan 
Komisi I DPR. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan guna meminta 
pertanggungjawaban aparat Kepolisian dan TNI atas peristiwa tersebut. Sebab, 
peristiwa itu telah menciderai kondite aparat penegak hukum, khususnya 
Kepolisian dan TNI. Selain itu, peristiwa itu memberikan contoh yang tidak baik 
kepada rakyat. (HP)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke