http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/03/04/mj422i-presiden-sby-seorang-paranoid

'Presiden SBY Seorang Paranoid'
Senin, 04 Maret 2013, 07:44 WIB 
Komentar : 3   
Konpers Pasca penetapan APBN-P 2012-sby-abror: Konpers Presiden SBY Pasca 
Penetapan APBN-P 2012 di Istana Negara Jakarta, Sabtu malam (31/3). Haji Abror 
rizki/Rumgapres// 
- 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) 
Ari Dwipayana menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah sering 
menyatakan keadaan negara terancam. Ini mengesankan ia adalah seorang yang 
paranoid. 

Menurut Ari, setiap ada ketegangan elite politik, ada manuver politik, maupun 
ada kelompok oposisi yang tidak menyukai kebijakannya, SBY selalu merasa 
teradapat ancaman negara.

Padahal itu merupakan bagian dari dinamika politik dan demokrasi saja. 
"Presiden terlalu mempersonalisasi ancaman negara. Ini terlalu berlebihan," 
katanya saat dihubungi Republika, Ahad (3/3).

Dalam proses politik, kata Ari, merupakan hal yang wajar jika terdapat politisi 
yang  berbeda pendapat dengan SBY. Selama perbedaan pendapat itu masih dalam 
koridor konstitusi dan tidak melanggar konstitusi itu tidak masalah. 

Ancaman negara itu, Ari menerangkan, seperti aksi kudeta pengambilalihan 
kekuasaan secara paksa, gerakan separatisme, dan disintegrasi. Selain itu juga 
aksi yang mengganggu jalannya pemerintah seperti aksi mensabotase kegiatan 
ekonomi secara menyeluruh dan aksi yang melumpuhkan pelayanan publik.

SBY merasa terancam, kata Ari, bukan hanya kali ini saja. Dulu SBY juga merasa 
akan ditembak teroris. Jika memang ada gerakan semacam itu, seharusnya SBY 
cukup menyampaikannya kepada Kepolisian dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk 
menangkap mereka yang mengganggu keamanan SBY.

"Tidak perlu disampaikan kepada publik jika memang terdapat konspirasi," 
katanya menegaskan.

Jika kritik terhadap SBY saja dianggap ancaman, ujar Ari, maka itu terlalu 
berlebihan. Jika ada pihak yang tidak menyukai langkah SBY dalam mengatur 
negara itu merupakan dinamika demokrasi. Seharusnya tidak dianggap sebagai 
ancaman.

Dulu pada era Soeharto, Petisi 50 terhadap Soeharto dianggap sebagai ancaman 
negara. Ini merupakan bentuk personalisasi ancaman negara. Kadang personalisasi 
ancaman negara merupakan sebuah cara untuk membungkam oposisi agar mereka 
lumpuh. Jika ini menjadi cara memberangus oposisi maka demokrasi bisa terancam.

      Reporter : Dyah Ratna Meta Novia 
      Redaktur : Djibril Muhammad 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke