#MelawanLupa : Percaya atau tidak Mafia MIGAS itu ada ?

Prof. DR Din Syamsuddin dan DR. Rizal Ramli bersama tokoh lain 
mendatangi Mahkamah Konstitusi untuk melakukan Judicial Review UU No 22 
Thn 2001 tentang MIGAS dengan mengatasnamakan PP Muhammadiyah.  Ada 
suasana ‘lain’ yang saya tangkap saat itu.  Media massa sepi dan tidak 
biasanya tokoh tersebut tidak diserbu wartawan. Apalagi momennya saatmendatangi 
MK.Suatu hari ketika seorang teman mengkritisi sebuah blok 
migas, datang seseorang yang menawarkan ‘apel Washington’ asal dia 
berhenti mengoceh soal blok migas tersebut. Jumlahnya kalau dijadikan 
‘apel Malang’ sekitar milyaran. Dengan halus ditolak oleh teman tersebut dan 
menyatakan  aktifisnya tidak memiliki wewenang sama sekali dalam 
hal itu. Sambil bercanda dia katakan, ada yang punya wewenang yang bisa 
dipengaruhi dengan apel Washington itu.

Dua minggu lalu saya 
dapat telepon keluhan dari teman di sekitar Cepu, Kabupaten Blora, Jawa 
Tengah. Mereka mengadakan aksi demo soal tambang migas Blok Cepu. Mereka
 siapkan press release, spanduk dll.  Jangankan media massa nasional, 
media lokal pun tidak ada yang memberitakan.

Pasal 28 ayat 2 UU
 No 22 tahun 2001 tentang Migas yang mengatur harga BBM dilepas ke 
mekanisme pasar telah ditolak MK. Anehnya, Pemerintah tidak menggubris 
putusan MK tersebut karena dengan PP No.36/2004 melalui pasal 72 Ayat 
(2) Pemerintah memberlakukan penjualan Pertamax sesuai harga pasar. Hal 
ini adalah penghianatan terhadap konstitusi. Kenapa Pemerintah berani 
melawan konstitusi ? Ada kekuatan apa di balik ini?

Sekitar 
tahun 2008 DPR RI pernah membentuk Panitia Khusu (Pansus) Migas. Rakyat 
tidak pernah tahu hasil Pansus tersebut. Ironisnya mantan Ketua Pansus 
justru diangkat menjadi menteri.
Terakhir, sebulan lalu Metro TV menyiarkan lewat acara Sarasehan Anak Negeri 
secara gamblang tentang MAFIA MIGAS.Tetapi herannya tidak ditindaklanjuti. DPR 
tetap bungkam. Bahkan sibuk dengan urusan Geng Motor.

Siapa sih Mafia MIGAS itu ? 

Mafia migas konon merupakan mafia tertua di dunia. Mafia migas dalam 
cerita ini adalah perantara (trader) antara pemasok-pemasok minyak 
mentah untuk Pertamina melalui anak perusahaannya, Pertamina Energy 
Trading Limited (PETRAL). Bos dari perantara itu oleh kalangan bisnis 
Singapura disebut Gasoline Father, yaitu Mr. Mohammad Reza Chalid dari 
Global Energy Resources (GER).

Banyak kalangan menuding 
tendernya kurang transparan. Ada permainan fee sampai milyaran.  
”Permainan tetap ada selagi Indonesia masih membeli dengan harga spot, 
yg bisa dibeli sewaktu-waktu dalam jumlah besar” kata pakar manajemen 
Rhenald Kasali (Tabloid PRIORITAS Edisi 8 / 5 – 11 Maret 2012). Sebenarnya DR. 
Rizal Ramli (RR) sudah lama mensinyalir  adanya mafia 
tersebut. Dalam bukunya yang berjudul “Menentukan Jalan Baru Indoensia” 
(April 2009) menyebut MR. Teo Dollars yang pendapatan perharinya 
mencapai USD 600 ribu (Rp. 6 miliar) dan menyetor ke oknum-oknum 
tertentu di Pemerintahan RI.George Aditjondro lebih gamblang 
menulis beberapa anggota keluarga besar SBY yang dibantu oleh 
kroni-kroni mereka memiliki bisnis impor ekspor minyak mentah. Jika dulu Riza 
(Global Energy Resources) membayar premi kepada keluarga Cendana, 
maka sekarang ia membayar komisi ke kelompok Cikeas sebesar 50 sen 
dollar per barrel. Jadi kalau ekspor kita 900 ribu barrel perhari, maka 
yang masuk ke keluarga SBY diperkirakan mencapai USD 450.000 perhari  
ditambah bonus boleh mengekspor minyak mentah sebesar 150 barrel setiap 
hari. Keberadaan sindikat Cikeas ini mendorong Karen Setiawan (Dirut 
Pertamina) mengancam untuk meletakkan jabatan karena tidak tahan 
menghadapi tekanan Cikeas. ( George Junus Aditjondro dalam buku ‘Cikeas 
Makin Menggurita’  hal 67-68).

DR. Rizal Ramli dalam sebuah 
pidato tgl 24 April 2008 menolak kenaikan harga BBM kecuali pemerintah 
berani membabat Mafia Migas tersebut.

Menteri BUMN, Dahlan 
Iskan mengaku risih dengan sorotan publik atas PETRAL.  ”Perlu ada 
perbaikan di tubuh anak perusahaan PERTAMINA itu supaya tak lagi 
dijadikan tempat korupsi dan sarang permainan para mafia minyak,” kata 
Dahlan Iskan.  (Tabloid PRIORITAS, Edisi 8/05-11 Maret 2012 i).

Hubungan Mafia Minyak dengan Pertamina.

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan pemberitaan tentang PETRAL 
yang hendak dibubarkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan, tapi ternyata 
batal dan bahkan sekarang semakin eksis. Dari dulu PETRAL disebut-sebut 
sebagai ‘sarang’ korupsi puluhan triliun mulai dari jaman Orba/Suharto 
sampai sekarang. Anehnya tidak pernah bisa disentuh.

PETRAL 
atau Pertamina Trading Energy Ltd merupakan Perseroan Terbatas anak 
perusahan Pertamina yang bergerak di bidang perdagangan minyak. Saham 
PETRAL  99.83% dimiliki oleh PT. Pertamina dan 0.17%  dimiliki oleh 
Direktur Utama PETRAL, Nawazir sesuai UU / CO Hongkong

Tugas 
utama PETRAL adalah menjamin supply kebutuhan minyak yang dibutuhkan 
Pertamina / Indonesia dengan cara membeli minyak dari luar negeri. Saat 
ini PETRAL memiliki 55 perusahaan yang terdaftar sebagai mitra usaha 
terseleksi. Pengadaan minyak untuk PETRAL dilakukan secara tender 
terbuka. Namun PETRAL juga melakukan pengadaan minyak dengan pembelian 
langsung. Alasannya,  ada jenis minyak tertentu yang tidak dijual bebas 
atau pembelian minyak secara langsung dapat lebih murah dibandingkan 
dengan mekanisme tender terbuka.

Tahun 2011 PETRAL membeli 
266,42 juta barrel minyak. Terdiri dari 65,74 juta barrel minyak mentah 
dan 200,68 juta barrel berupa produk. Harga rata-rata pembelian minyak 
oleh PETRAL adalah USD 113,95 per barel untuk minyak mentah, USD 118,50 
 untuk premium, USD 123,70 untuk solar. Total pembelian minyak PETRAL 
adalah USD 7.4 milyar untuk minyak mentah dan USD 23.2 milyar untuk 
bensin/solar.  Total US$ 30.6 milyar atau setara dengan Rp. 275.5 
triliun per tahun. Itulah jumlah uang yg dikeluarkan Pertamina/negara 
untuk impor minyak. Sekali lagi, uang Pertamina/negara yang dikeluarkan 
untuk membeli minyak impor melalui PETRAL pada tahun 2011 adalah sebesar
  Rp. 275.5 triliun. Jumlah uang yang luar biasa besar dikeluarkan 
negara untuk membeli minyak impor melalui PETRAL. Hal ini tentu saja 
‘tidak pernah luput dari mafia’.

Mafia minyak yang 
disebut-sebut menguasai dan mengendalikan PETRAL adalah Muhammad Riza 
Chalid. Riza diduga menguasai PETRAL selama puluhan tahun. Di samping 
Riza, dulu Tommy Suharto juga disebut-sebut sebagai salah satu mafia 
minyak. Perusahaan Tommy diduga melakukan mark up atau titip US$ 
1-3/barel. Kita sudah tahu siapa Tomy Suharto, tetapi siapakah Muhammad 
Riza Chalid ? Dia adalah WNI keturunan Arab yang dulu dikenal dekat 
dengan Cendana (rumah keluarga Suharto).  Riza, pria berusia 53 tahun 
ini disebut-sebut  ssebagai ‘penguasa abadi’ dalam bisnis impor minyak 
RI. Dulu dia akrab dengan Suharto. Sekarang merapat dengan SBY.

Riza disebut-sebut sebagai sosok yang rendah hati, tapi siapapun 
pejabat Pertamina termasuk Dirut Pertamina akan gemetar dan tunduk jika 
ketemu dengan dia. Siapapun pejabat Pertamina yang melawan kehendak Riza
 akan lenyap alias terpental. Termasuk Ari Soemarno, Dirut Pertamina 
yang dicopot jabatannya. Ari Soemarno dulu terpental dari jabatan Dirut 
Pertamina gara-gara hendak memindahkan PETRAL dari Singapura ke Batam. 
Riza tidak setuju. Ari selanjutnya dipecat. Jika PETRAL berkedudukan di 
Batam / Indonesia tentu pemerintah dan masyarakat luas lebih mudah 
mengawasi operasional PETRAL yang terkenal korup. Rencana Ari Soemarno 
ini tentu dianggap berbahaya. Bisa menganggu kenyamanan ‘Mafia Minyak’ 
yang sudah puluhan tahun menikmati legitnya bisnis minyak.

Para
 perusahaan minyak dan broker minyak internasional mengakui kehebatan 
Riza sebagai ‘God Father’ bisnis impor minyak Indonesia. Di Singapura, 
Muh Riza Chalid dijuluki sebagai ‘Gasoline God Father’.  Lebih separuh 
impor minyak RI dikuasai oleh Riza. Tidak ada yang berani melawannya. 
Beberapa waktu lalu Global Energy Resources,  perusahaan milik Riza 
pernah diusut karena temuan penyimpangan laporan penawaran minyak impor 
ke Pertamina. Tapi kasus tersebut hilang tak berbekas dan para 
penyidiknya diam tak bersuara. Kasus ditutup. Padahal itu diduga hanya 
sebagian kecil saja.

Global Energy Resources milik Riza itu 
adalah induk dari 5 perusahan, yakni Supreme Energy, Orion Oil, 
Paramount Petro, Straits Oil dan Cosmic Petrolium yang berbasis di Spore
 & terdaftar di Virgin Island yang bebas pajak. Kelima perusahaan 
itu merupakan mitra utama Pertamina. Kelompok Riza cs ini juga yang 
diduga selalu menghalangi pembangunan kilang pengolahan BBM dan 
perbaikan kilang minyak di Indonesia. Bahkan penyelesaian PT. TPPI yang 
menghebohkan karena telah merugikan negara, juga diduga tidak terlepas 
dari intervensi kelompok Riza cs. Riza cs mengatur sedemikian rupa agar 
negara RI tergantung oleh impor bensin dan solar. INGAT…!  Impor bensin 
& solar kita 200 juta barel per tahun. Riza cs ini sekarang berhasil
 mengalahkan Dahlan Iskan. Skor 3 : 0 untuk Mafia Minyak. Dahlan Iskan 
keok. Pertama Dahlan gagal bubarkan PETRAL. Kedua gagal memindahkan 
PETRAL ke Indonesia dan ketiga gagal mencegah orang-orang yang menjadi 
boneka Riza cs menjjadi direksi di Pertamina. Dahlan Iskan mengalah. 
Janji Dahlan Iskan untuk mengalahkan BUMN Malaysia, apalagi PETRONAS 
dalam 2 tahun itu menjadi hanya mimpi. Di Pertamina saja Dahlan sudah 
takluk dengan Cikeas.

Siapa Riza cs itu ? Orang yang 
disebut-sebut berada di belakang Riza adalah Bambang Trihatmodjo,  
Rosano Barrack dst. Mereka adalah keluarga dan Genk Cendana. Sekarang 
Genk Cendana berhasil menundukkan Cikeas dan Dahlan Iskan. Semua Direksi
 Pertamina sekarang adalah Pro Mafia Minyak PETRAL. Bukan hanya PETRAL 
yang menjadi ‘boneka’ Riza cs, tetapi juga Pertamina.  Kenapa bisa 
terjadi seperti itu ? Ada informasi lebih yang ‘menyeramkan’.  ‘Aksi 
jalan tol’ Dahlan Iskan beberapa hari lalu disebut oleh teman-teman saya
 sebagai kompensasi frustasi Dahlan menghadapi hegemoni Mafia Minyak. 
Sejak Dahlan Iskan meneriakkkan ‘Bubarkan PETRAL ‘, mafia minyak ini 
bergerak cepat. Lalu melakukan konsolidasi. Masuk ke Cikeas, Istana 
& Lap Banteng (Depkeu).

Bagaimana caranya Riza cs menusuk 
Istana, Cikeas dan Lapangan Banteng ?  Sumber saya menyebutkan, Riza 
dekat dengan Purnomo Y dan Pramono Edhie Wibowo (adik Ny. Ani SBY) sejak
 Edhie masih di Kopassus. Purnomo yang Menteri ESDM  & Edhie ssbagai
 pintu masuk Riza cs ke Cikeas. Riza cs ini sering berkunjung ke Cikeas 
untuk mengamankan praktek mafia di impor minyak Pertamina. Tentu saja 
tidak ada makan siang yang gratis. Selain di jajaran elit politik, 
Riza cs juga sangat dekat dengan Wakil Dirut Perusahaan hulu Migas dan 
Syamsu Alam yang General Managernya  Purnomo Yusgiantoro sewaktu masih 
menjabat sebagai Menteri ESDM bertugas mengamankan kontrak-kontrak 
pembelian minyak impor dari mafia minyak ini. Dahlan Iskan yang meminta 
Pertamina membeli minyak secara langsung, justru ditantang oleh Direksi 
Pertamina,bahwa Pertamina harus membeli via broker. Dahlan Iskan 
‘bengong’ tidak bisa berbicara mendengar ucapan Direksi Pertamina. Dia 
bertekad membenahi Pertamina ternyata mentok sampai di situ. Dahlan 
Iskan ternyata KO berhadapan dengan Mafia Minyak RI yang dikomandani 
Riza. Ini bisnis ratusan triliun per tahun. Dahlan iskan tidak kuat 
melawannya.

Kembali ke Riza. Nama Riza tidak tercantum dalam 
akte Global Energy Resources..Holding perusahaan broker minyak milik 
Riza itu. Dalam akte Global, yang tercatat adalah Iwan Prakoso (WNI), 
Wong Fok Choy dan Fernadez P. Charles. Tapi sesungguhnya Riza adalah 
pemiliknya. Untuk memperkuat posisi Riza cs di Pertamina, sebagian 
Direksi Pertamina yang kurang setuju dengan pembelian minyak via broker 
diganti kemarin. Sekarang semua Direksi Pertamina yang ada merupakan 
kelompok pendukung Riza (sang Mafia Minyak dengan dukungan penuh Istana,
 Cikeas dan Menko). Bukan hanya impor minyak saja Riza cs berkuasa. 
Dalam pembelian atau penampungan batu bara minyak dari Pertamina Riza 
juga berkuasa. Pembelian batu bara minyak dari Pertamina dilakukan oleh 
Orion Oil dan Paramount Petroleum milik Riza Cs. Riza betul-betul 
penguasa minyak RI.

Dulu ada broker besar lain ingin 
mendapatkan jatah impor minyak dari PETRAL/Pertamina. Dia bersama kakak 
tertua Ani SBY datang ke Spore. Dirut PETRAL menyambut kedatangan 
pengusaha itu. Intinya PETRAL siap berikan ‘jatah’ ke pengusaha itu. 
Tetapi kemudian Riza mendatangi Wiwiek. Riza disebut-sebut memberikan 
US$ 400,000 kepada wiwiek agar tidak perlu membantu pengusaha itu. Dan 
Wiwiek pun setuju. Apa yg menjadi motiv SBY sampai bisa dikoptasi oleh 
mafia minyak ? Apa dealnya ? Bagaimana modusnya  ? Bagaimana langkah 
Dahlan Iskan menghadang mereka ?

Ini kisah panjang tentang 
mafia minyak yang selama ini tidak pernah tersentuh. Salah satu skenario
 mafia minyak yang berkolaborasi dengan SBY adalah melalui resufle 
kabinet tahun 2011 lalu. Ada titipan mafia minyak via tangan SBY. 
Purnomo Yusgiantoro yang sudah terlibat sejak sekian lama digeser 
menjadi Menhan. Jero wacik yang demokrat tulen loyalis SBY sebagai 
penggantinya.

Bahaya jika Purnomo Y tetap dipertahankan sebagai
 Menteri ESDM. Nanti info bisa bocor ke Mega, JK atau pihak lain. 
Konspirasi baru ini harus Top Secret. Meski sebenarnya Purnomo Y lah 
yang menjjadi biang dari semua permainan mafia minyak itu. Namun, sesuai
 sifat SBY, dia ingin menguasai semua. Dengan Jero Watjik sebagai 
Menteri ESDM, perampokan mafia minyak ini akan tertutup rapat. Hanya 
Cikeas, Menko Ekonomi, MenESDM, Pertamina & PETRAL. 

“Bermain” di minyak ini luar biasa enak. Korupsi uang APBN tidaklah 
seberapa. BUMN-BUMN ini jauh lebih merugikan negara, tetapi lebih aman 
& mudah. Uang korupsi minyak yang mencapai puluhan triliun ini tidak
 masuk ke Indonesia, melainkan ke rekening-rekening di Hongkong, 
Singapura & Swiss. Ditarik ke RI hanya jika diperlukan. Tentu saja 
uang ratusan juta itu utamanya dicairkan dan ditarik saat menjelang 
Pemilu dan Pilpres. Untuk membiayai kampanye dan money politic. Jadi 
tidak heran jika SBY bisa mempunya dana kampanye belasan triliun untuk 
memenangkan Pemilu dan Pilpres 2009 kemarin.

Pada jaman Orba 
setiap ekspor minyak (bukan impor lho), mafia minyak yang dibeking 
penguasa bisa “titip atau kutip” US$ 1- 3 / barel. Ketika RI mulai impor
 ( di jaman Orba juga) mafia minyak juga kutip dan titip sekian dollar 
juga. Ekspo & impor minyak ada titipan. Bahkan untuk biaya 
pengangkutan minyak dengan kapal tanker pun ada mark up yang merugikan 
negara puluhan juta dollar per tahun. Dari dahulu sampai sekarang, 
pengangkutan minyak Indonesia masih dikuasai oleh pemain lama, yaitu 
Humpuss Intermoda (Tommy Suharto) Cs.

Kembali ke PETRAL, jika 
pembelian minyak kita total 266 juta barel tahun 2011, asumsikan saja 
ada titipan USD 3/barel = US$ 798 juta/tahun. US$ 798 juta itu equivalen
 dengan Rp. 7.2 triliun uang negara yang dirampok oleh mafia minyak. 
Uang itu dibagi-bagikan oleh mafia itu kepada penguasa. Pada tahun 2009 
saja pernah disebut-sebut ada setoran ratusan juta USD dari mafia minyak
 kepada SBY untuk membantu Pemilu dan Pilpres SBY. Korupsi dari 
impor minyak ini sangat luar biasa. Sudah terjadi sejak tahun 1969 dan 
terus dipertahankan oleh penguasa karena dijadikan sumber dana politik.

Di samping dijadikan dana politik tentu saja untuk mengisi kantong 
pejabat-pejabat tertinggi di negara ini. Ratusan turunan tidak akan 
habis, bahkan cenderung bertambah. Karena mafia minyak ini sangat dekat 
dengan kekuasaan, maka kita dapat melihat benang merahnya. Bahkan 
belakangan ini hubungan makin mesra antara mafia dengan Cikeas, Muhamad 
Riza Chalid, Bambang Trihatmodjo, Rosano Barack cs dengan SBY, Pramono 
Edhie, Cikeas, Hatta R, Karen cs. Sumber-sumber saya menyebutkan Riza 
dalam sebulan terakhir ini rajin mengikuti rapat di Cikeas, Istana dan 
kantor Menko Ekonomi. Apakah ada deal-deal khusus ?

Modus korupsi 
mafia minyak ini juga terjadi dengan ‘penipuan’ yang dilakukan oleh 
mafia minyak terhadap kualitas & jenis minyak yang diimpor 
Pertamina. Kilang minyak kita itu disetting hanya bisa mengolah minyak 
produksi Afrika dan Timur Tengah.

Pernah dengar kasus minyak ZATAPI 
yang diusut TEMPO ? Nah, mafia minyak ini seolah-olah impor minyak dari 
Afrika dan Timteng. Padahal minyak yang dibeli dari sana hanya sepertiga atau 
seperempatnya saja. Sisanya dua pertiga atau tiga perempat dibeli 
mafia minyak ini dari produsen / broker minyak yang lain. Transaksinya 
di tengah laut untuk memenuhi sisa kapasitas. Kualitas minyak yang 
dibeli ‘secara gelap’ di tengah laut itu tentu lebih rendah dibanding 
yang tercantum di BL atau dokumen-dokumen pengangkutan kapal. Contohnya, satu 
kapal tangker full capacity nilai minyak sebesar US$ 80-110 juta. 
Di BL tercantum nilai tersebut berikut kuantitas cargonya.

Dengan modus pengisian hanya sopertiga  atau seperempat dari kapasitas, 
mafia minyak tersebut mencampur minyak dengan kualitas rendah dengan 
harga 20-30%  lebih rendah. Berapa untung yang dikeruk oleh mafia minyak
 ini dgn modus pencampuran ? Mari kita hitung dengan cara sederhana. 
Asumsikan nilai impor minyak per kapal tanker USD 100 juta per shipment.
 Kapal dimuat dengan 25% minyak yang sesuai dengan BL impor. Asumsikan 
saja harga minyak impor tersebut sesuai BL USD 100 / barel. Jika 75% 
minyak kualitas rendah yang dibeli di tengah laut itu = USD 70/barel.  
Maka keuntungan mafia minyak USD 75 juta x 30% = USD. 22.5 juta atau Rp.
 210 milyar per shipment.  Inilah modus yang pernah terbongkar. Nah, 
sekarang silahkan rakyat sendiri yang menghitung kerugian negara akibat 
mafia minyak jika nilai impor minyak kita tahun 2011 = Rp. 275 Triliun. 
Ada berapa ratus shipment /kapal tanker yang unloading minyak di RI 
setiap tahun ? Berapa puluh kapal yang melakukan proses pencampuran ini ?

Intinya banyak modus yang dipakai oleh Mafia Minyak tersebut. Mereka 
tahu bahwa perampokan ini perlu dibeking oleh penguasa tertinggi 
republik ini. Dan mafia minyak ini juga telah memasang kaki di 
mana-mana. Termasuk investasi politik kepada calon-calon presiden yang 
berpotensi maju di 2014 mendatang. Mafia minyak ini hanya bisa dibasmi 
dengan 2 cara, yakni revolusi rakyat terhadap regim SBY yang sekarang 
atau pilih presiden RI yang bebas kooptasi mafia. Uang negara kita yang 
dipungut dari pajak rakyat & penjualan sumber daya kekayaan alam 
kita (yang makin menipis karena dirampok) dikorup oleh mafia. Dahlan 
Iskan sebagai Menteri BUMN tidak akan bisa berkutik melawan mafia minyak
 ini, jika rakyat tidak mendukungnya. Dia juga takut dipecat oleh SBY. 
Terbukti Dahlan Iskan terpaksa memberhentikan komisaris-komisaris dan 
direksi-direksi Pertamina yang anti mafia minyak. Sekarang Pertamina 
100% menjadi hamba mafia. Dahlan sendiri hati nuraninya mungkin 
menjerit, tetapi apa daya kuasa tak ada. Rakyat juga menjerit, tetapi 
tak berdaya karena tidak menurunkan penguasa.

Demikian dulu 
kuliah tentang mafia minyak Indonesia yang berkuasa sejak Orba sampai 
sekarang dan bahkan makin menggila belakangan ini. Sekian. Terima kasih.

baca juga :
SIAPA DIREKTUR UTAMA PT PERTAMINA PENGGANTI KAREN AGUSTIAN ? ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/02/medianusantara-siapa-direktur-utama-pt.html

SULITNYA MENGUSUT KORUPSI MAFIA MINYAK PETRAL ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/02/medianusantara-sulitnya-mengusut.html

KOLABORASI MAFIA MINYAK & PENGUASA ==> http://chirpstory.com/li/7702

AKAL2-AN MAFIA MINYAK & ANTEK2 PEMERINTAH ==> http://chirpstory.com/li/7704

TRANSAKSI AKAL2-AN ALA PERTAMINA CS ==> http://chirpstory.com/li/7778

MAFIA DI INDUSTRI MIGAS KITA ==> 
http://globalopini.blogspot.com/2009/01/mafia-di-industri-migas-kita.html

Menelisik Mafia Minyak di Rezim SBY ==> 
http://hutte-stijl.blogspot.com/2012/05/menelisik-mafia-minyak-di-rezim-sby.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke