Ref: Mengapa disuarakan “jangan sengsarakan rakyat”, kalau DPR adalah singkatan 
dari Dewan Penindas Rakyat?. Bukankah jelas tugas mereka untuk sengsarakan 
rakyat. Kalau mereka tidak sengsarakan rakyat berarti mereka makan gaji buta! 
hehehehe

http://www.shnews.co/detile-16480-jangan-sengsarakan-rakyat.html


Jangan Sengsarakan Rakyat 
Senin, 18 Maret 2013 - 13:30:25 WIB

: 64 



(dok/AP Photo)

Pemerintah harus lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi rakyat,


BERITA mengejutkan dari pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan para 
pemimpin redaksi media massa, Jumat (15/3) lalu, yaitu isu demo besar 25 Maret 
2013 yang didengungkan sekelompok orang yang berkeinginan menggulingkan 
dirinya. Kelompok itu, kata presiden, akan membentuk presidium untuk memimpin 
Indonesia hingga 2014. 

Namun, presiden katanya yakin, semua pihak, semua masyarakat bisa berpikir 
jernih dan sudah mengetahui demokrasi yang terjadi di Indonesia. Masyarakat 
mendukung demokrasi, namun tidak akan melakukan pelanggaran konstitusi. 

Menurut SBY, mengenai pergantian kekuasaan, sudah ada sistem dan aturan yang 
berlaku, karena itu, presiden tidak akan terganggu dengan isu ini. Para 
pemimpin redaksi diminta tidak risau karena isu demo massal 25 Maret 2013 
seperti biasa tidak akan terjadi dan tidak didukung masyarakat. 

Karena isu demo massal itu diungkapkan presiden, tentu keakuratannya A-1 sesuai 
dengan hasil analisis intelijen, tidak persangkaan belaka. Sekaligus siapa yang 
menggagas serta alasan demo massal itu tentu sudah diketahui pemerintah. Sesuai 
dengan fungsi, tugas dan tanggung jawab pemerintah, isu demo massal itu tidak 
akan terjadi, melainkan telah dilakukan cara-cara pencegahannya secara 
persuasif dan tidak menggunakan tindakan represif atau tekanan fisik. 

Kalau hanya menyerahkan pada kejernihan berpikir masyarakat dan pengetahuan 
masyarakat tentang demokrasi, tidak cukup dan memadai. Oleh karena itu, kita 
yakin presiden telah memberikan jaminan kepada para pemimpin redaksi media 
massa bahwa isu demo itu tidak akan terjadi. Presiden dan seluruh jajaran 
pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu tentu berupaya tidak hanya mencegah 
terjadinya demo massal tanggal 23 Maret. 

Pemerintah juga kita harapkan mengetahui akar persoalan mengapa ada pihak yang 
merencanakan demo massal itu serta apa tuntutannya, apakah wajar atau 
mengada-ada, apalagi hanya untuk melampiaskan dendam. Tentu perlu diadakan 
pendekatan bahwa kelangsungan bangsa dan peningkatan kesejahteraan serta 
pemeliharaan kedamaian masyarakat ini adalah tanggung jawab bersama seluruh 
pemimpin bangsa, baik formal maupun nonformal. 

Sesuai dengan perkembangan demokrasi, menurut hemat kita, tidak zamannya lagi 
melempar isu untuk meredam gejolak sosial atau mengalihkan perhatian 
masyarakat, apalagi penangkapan dan penghilangan para aktivis seperti masa 
lampau. 

Dengan diungkapkan presiden tentang adanya isu demo massal tersebut, terutama 
keyakinan presiden bahwa demo itu tidak akan terjadi, menunjukkan bahwa 
presiden dan aparat pemerintah telah mampu menyelesaikan dan akan berusaha 
mengatasi akar persoalan sebagai alasan munculnya isu demo massal tersebut 
secara konstruktif sebagai negarawan sejati dalam menyelesaikan masalah-masalah 
kenegaraan. 

Kepada para pihak, siapa pun dan apa pun latar belakangnya akan adanya upaya 
demo massal yang disinyalir presiden tersebut, kita mengimbau bahwa apa pun 
alasan serta upayanya dalam menyatakan protes dan ketidaksetujuan dengan apa 
yang dilakukan pemerintah, hendaknya tidak menyengsarakan rakyat. 

Perlu diketahui, rakyat ini sedang sengsara, beli bawang putih dan bawang merah 
saja tidak bisa; selain harganya mahal, bawangnya saja tidak ada. Sebagai 
negara agraris yang butuh bibit tanaman pangan dan hortikultura, ternyata 
perusahaan penyelenggara pembibitan itu saja jadi lahan korupsi. Daging sapi 
sebagai pemenuhan kebutuhan protein, makanan dan gizi terjadi korupsi yang 
mengagetkan. Alquran yang diharapkan menambah iman dan takwa warga terjadi 
korupsi yang tidak kepalang. 

Rakyat ini sedang meriang, sakit, kelaparan. Oleh karenanya, jangan lagi 
ditambah dengan keresahan dan kerusuhan. Kalau demo massal itu terjadi, kita 
tidak tahu “mengadu” kepada siapa, serta bagaimana menghindari dan 
menanggulangi akibatnya sebagaimana terjadi pada 1988. 

Oleh karena itu, kita berharap kepada semua pihak untuk kembali mendahulukan 
keamanan dan kenyamanan serta kesejahteraan rakyat, tidak justru sebaliknya 
menambah kesengsaraan. Semua pihak kembali kepada fungsi, tugas dan tanggung 
jawab masing-masing sesuai dengan porsi dan tugas pokok yang dimilikinya untuk 
meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara serta taraf hidup rakyat. 

Adanya pihak yang berkeinginan menggulingkan presiden dan membentuk presidium 
untuk memimpin Indonesia hingga 2014, kita hanya kembali mengimbau, segala 
sesuatunya hendaknya tidak menyengsarakan masyarakat, sebab penggulingan dan 
pembentukan presidium bukan jalan satu-satunya memperbaiki kehidupan bangsa, 
negara dan masyarakat. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke