Ref: Siapa yang sering memberi komando tembak di tempat? http://www.shnews.co/detile-16554-hilangkan-kesan-salah-tangkap-dan-main-tembak.html
Hilangkan Kesan Salah Tangkap dan Main Tembak Ninuk Cucu Suwanti | Selasa, 19 Maret 2013 - 14:33:08 WIB : 73 (dok/antara) Densus 88 diminta profesional. JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 harus bekerja secara profesional dalam memberantas aksi terorisme di Indonesia. Dengan demikian, tidak terjadi lagi salah tangkap apalagi salah tembak pada orang-orang yang belum dipastikan sebagai terduga teroris. Penegasan itu disampaikan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafi'i Ma'arif, ketika dihubungi SH di Jakarta, Senin (18/3) siang. "Bahwa teroris harus dilawan, itu kita dukung 100 persen. Namun Densus 88 harus tetap profesional, jangan sampai ada pesan asing apalagi didanai asing," katanya. Ditanya, apakah ia sepakat jika Densus 88 dibubarkan menyusul beredarnya video yang menayangkan aksi kekerasan kepada terduga terorisme, Ahmad Syafi'i Ma'arif menyatakan tidak setuju dengan ide pembubaran Densus 88. "Karena itu, Densus harus profesional, tunjukkan pada bangsa ini. Jangan dibuat-buat," imbuhnya. Terpisah, Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana Terorisme Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Siane Indriani mengungkapkan, pihaknya akhir Februari 2013 mendapatkan sejumlah rekaman video kekerasan dan penganiayaan yang diduga dilakukan Densus 88 terhadap sejumlah terduga teroris. "Setelah melakukan pemantauan dan penyelidikan melalui wawancara dengan saksi serta meninjau langsung ke lapangan diperoleh data, fakta, dan informasi bahwa peristiwa yang terekam dalam video kekerasan yang diduga dilakukan oleh Densus 88 adalah benar-benar terjadi pada 22 Januari 2007 di Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso," ungkapnya. Menurutnya, fakta pelaku tindakan kekerasan dan penyiksaan dalam video itu di antaranya dilakukan oleh beberapa anggota Densus 88. Setidaknya, pada peristiwa tersebut terdapat sekurang-kurangnya tiga orang ditembak di lokasi kejadian. Di antaranya, Icang (meninggal dunia di tempat), Rasiman (pada bagian kaki kanan meskipun sudah menyerah, bertelanjang dan mengangkat tangan), dan Wiwin (pada bagian dada tembus punggung, meskipun sudah menyerah, mengangkat tangan dan sudah telanjang dada hanya menggunakan celana dalam). "Meskipun sudah terluka, Wiwin masih diinterograsi bahkan dilecehkan dengan kata bernuansa SARA. Selain itu, Tugiran dan Rasiman yang juga mengalami penganiayaan. Mereka mengalami siksaan-siksaan sejak di lokasi dalam perjalanan hingga ketika diinterograsi di Mapolres Poso. Kejadian dalam video itu merupakan salah satu peristiwa yang tidak terlepas dari rangkaian kejadian-kejadian sebelumnya," ujarnya. Karena itu, Komnas HAM, kata dia, mendesak Kapolri Jenderal Timur Pradopo mempertanggungjawabkan kasus ini dan segera mengusut tuntas pelanggaran HAM serius yang diduga dilakukan anggota Densus 88. ”Kapolri harus menindak para pelaku, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak dalam peristiwa penyiksaan dalam video itu, “ tegasnya. Ia menyatakan, Kapolri juga harus mengusut tuntas terjadinya tindakan kekerasan yang berlebihan pada peristiwa 22 Januari 2007 sehingga menyebabkan 12 korban tewas yang bukan merupakan DPO dan melakukan autopsi ulang kepada seluruh korban. "Komnas HAM juga mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberikan perlindungan keamanan terhadap para saksi dan korban pada peristiwa ini serta mendesak pemerintah melakukan evaluasi dan pengawasan yang sangat ketat terhadap pola kerja pemberantasan terorisme, khususnya terhadap Densus 88,” ia menambahkan. Masih Buron Terkait kasus perampokan toko emas “Terus Jaya” di Jalan Tubagus Angke RT 08/10, Tambora, Jakarta Barat, yang diduga terkait jaringan terorisme, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/3) siang, menyatakan, dua terduga teroris yang turut merampok toko emas itu hingga kini masih buron. Pihaknya masih melakukan pengejaran dari pengembangan kasus untuk memperjelas terduga teroris ini masuk dalam kelompok mana. "Ada dua nama yang masih dikejar dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) berdasarkan kejadian di Jalan Tubagus Angke," katanya. Kedua terduga teroris yang buron berinisial ED dan SH. Boy menambahkan, aksi gerombolan perampok toko emas “Terus Jaya” bukanlah kawanan perampok baru. Itu karena pelaku membutuhkan harta agar bisa menjalankan aksi terornya. "Dari pemeriksaan sementara terungkap ada tiga lokasi (perampokan) yang pelakunya sama. Ini menguatkan dugaan mereka kelompok fa'i," ujarnya. Berdasarkan pemeriksaan dan pendalaman yang dilakukan, Polri mengutarakan ada tiga lokasi yang menjadi sasaran kelompok ini. Di antaranya, sebuah kios telepon genggam di Bantar Gebang, kantor pos di Serua Ciputat, serta sebuah toko material di daerah Pertukangan, Jakarta Selatan. Boy menambahkan, salah satu target aksi teroris adalah Markas Brimob di Kelapa Dua, Wetan, Depok, Jawa Barat. Hal tersebut terungkap berdasarkan tindak lanjut penangkapan tujuh perampok toko emas “Terus Jaya” yang diperkuat dengan ditemukannya bahan peledak oleh aparat Subdit Resmob Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya saat penggerebekan dilakukan pada Jumat (15/3) di Kampung Mustikasari RT 02/RW 03 Kota Bekasi, Jawa Barat. "Mereka ini merupakan jaringan tanpa nama berkait dengan kelompok teroris Depok, Solo, dan Aceh," katanya. Sumber : Sinar Harapan [Non-text portions of this message have been removed]
