Pilihlah Partai dan Pemimpin Munafik, Jika Ingin Kehancuran 
Selasa, 19 Mar 2013
 Cetak |  Kirim

Pilihlah Partai dan Pemimpin Munafik, Jika Ingin Kehancuran 
Jakarta (voa-islam.com) Mereka tidak pernah bisa jujur, amanah,  menjadi 
tauladan,dan berpihak kepada kebenaran. Karena sifat munafik yang sudah menjadi 
karakter dasar mereka. Hati mereka sudah rusak dan busuk, karena sifat nifak 
yang tertanam dalam di lubuk hati mereka.

Betapa sedikitnya rakyat  atau umat, yang bisa memahami karakter dan sifatnya 
penuh dengan kemunafikan itu. Mereka para munafikin selalu berlaku manis 
mukanya. Bergaul dengan orang-orang Mukmin dan Muslim, dan memperlihatkan jati 
dirinya sebagai orang-orang yang cinta kepada kebenaran. Tetapi, sejatinya 
mereka sangat memusuhi Islam, kebenaran, dan segala kemuliaan.

Laku  dusta, menipu, dan janji-janji palsu, suka tebar pesona (tp-tp), guna 
mengelabuhi rakyat dan umat, sudah menjadi karakter dasar mereka. Namun, para 
munafikin itu sangat ahli membungkus segala perbuatan yang penuh dengan 
kemunafikan itu, serta seakan menjadi indah belaka.

Berlaku korup, tamak, rakus, menumpuk-numpuk harta dengan cara tidak halal, 
sangat ambisius, mengejar jabatan dan kekuasaan, hanya sekadar memenuhi hawa 
nafsu, dan bukan dalam rangka menegakkan kebenaran dan membela kemuliaan 
kebenaran Islam. Tetapi, para munafikin itu, memberi pembenaran dengan dalil 
dan ayat, seakan-akan yang dilakukan itu, bisa menjadi sangat logis, dan masuk 
akal.

Satu-satunya keahlian para munafikin berlaku dusta dan menipu. Perbuatan dusta 
dan suka menipu itu, mereka kemas dengan berbagai alibi, yang membuat rakyat 
dan umat, tertipu dengan cara-cara yang mereka lakukan. Betapa rakyat dan umat 
ini, tak pernah bisa memahami jati diri para munafikin, dan berulangkali 
menjadi korban para munafikin.

Apalagi, saat menjelang akan berlangsungnya peristiwa politik, lima tahuhan 
sekali, para munafikin itu, dan dukungan para ahli dan media, bisa menyulap 
jati dirinya menjadi sosok manusia, yang bersih, jujur, amanah, dan selalu 
memperhatikan kebenaran, kejujuran, dan berpihak kepada kebenaran dan rakyat 
dan umat. Rakyat digiring dengan berbagai opini yang dibuat para munafikin itu, 
dan terus menjerumuskan rakyat dan umat ke jurang kehancuran.

Indonesia selama lebih satu abad dipimpin para munafikin yang sebenarnya 
menjadi perpanjangan tangan para musuh-musuh Allah, Rasul dan Mukmin. Jika 
sekarang ini Indonesia menjadi bangkrut, dan dikuasai kafir asing, baik sumber 
dan alamnya, ekonominya, politiknya yang membebek kepada musuh-musuh Allah, 
Rasul, dan Mukmin, karena memang negeri ini dikuasai dan dibawah kendali para 
munafikin.

Para munafikin yang sudah menguasai Indonesia itu, pasti akan berbuat apa saja, 
demi kemuliaan dan kemegahan orang-orang kafir, dan yang menjadi musuh Allah, 
Rasul dan Mukmin. Mereka tidak pernah membiarkan sedetikpun, terutama bagi 
Mukmin akan mendapatkan kesenangan, kebahagiaan, dan menegakkan agamanya.

Karena itu, diantara ciri-ciri orang-orang munafik itu, seperti yang sangat 
lazim, seperti :

Pertama, Gembira dengan musibah yang menimpa kaum Mukminin, dan bersedih dengan 
kemenangan Mukminin.

Seperti dikatakan oleh Allah Ta'ala dalam firmannya, yang menggambarkan betapa 
kebencian orang-orang munafik terhadap Mukmin.

"Dan jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika 
kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan 
bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan 
kepadamu.  Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan". (QS 
: At-Taubah : 120)

Betapa kebencian orangn-orang munafik terhadap kauam Mukminin. Sepanjang 
sejarah. Sejak dakwah pertama Rasulullah Shallahu Alaihi wassalam, kebencian 
mereka sudah sangat nampak dengan terbuka.

Mereka meneriakkan permusuhan itu dengan suara yang paling lantang dan paling 
kuat daripada teriakkan orang-orang sebelum mereka. Diantara mereka mereka yang 
mendengar bahwa kaum Mukminin memperoleh kemenangan dalam jihad, memperoleh 
kemajuan dalam dakwah kepada Allah, seperti dalam membangun masjid, markas 
dakwah, pusat-pusat kajian ilmu pengetahuan dan dakwah, dukungan  masyarakat, 
maka wajah mereka menampakkan muka yang sangat masam.

Kedua, Menyeru kemunkaran dan mencegah kebaikan (ma'ruf).

Seperti digambarkan oleh Allah Ta'ala, bagaimana sejatinya orang-orang munafik 
itu, yang selalu berkubang dengan kemunkaran dan menolak kebaikan. Betapapun 
mereka akan menampakkan seakan mencintai kebenaran.

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang 
lain adalah sama. Mereka menyuruh membuar yang munkar, dan melarang berbuat 
ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka lupa kepada Allah, maka 
Allahpun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang yang 
fasik". (QS : At-Taubah : 67)

Melakukan perbuatan yang ma'ruf (baik) dan menyeru kepada kebaikan adalah 
perbuatan yang dibenci oleh orang-orang munafik dan menyulut kemarahan mereka.  
Karena tindakan itu berarti menegakkan Islam. Selamanya mereka tidak 
menghendaki itu terjadi. Semua orang munafik itu, hanya menyeru kepada 
perbuatan munkar (jahat).

Mereka menyeru perbuatan syirik kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya. 
Orang-orang munafik juga menakut-nakuti orang-orang Mukmin yang ingin 
menegakkan agama Allah. Dengan berbagai cara yang sangat keji. Mereka berusaha 
menebarkan hal-hal yang sangat menjijikkan kepada kaum Mukminin.

Ketiga, mendirikan organisasi, partai dan pusat-pusat kegiatan kekufuran serta 
menutup jalan menuju Allah serta upaya memecah belah kaum Muslimin.

Betapa dewasa ini, sedikit sekali orang yang menyadari akan kecenderungan sifat 
ini. Banyak orang munafik telah berhasil mendirikan organisasi, partai politik, 
pusat-pusat kajian, dan lembaga yang tujuan hanya menjadi sarana (wasilah) dan 
membawa misi permusuhan dengan segala bentuk kebhatilan yang diarahkan 
menghancurkan kaum Muslimin.

Mereka menyampaikan propagandis dan kedustaan kepada rakyat dan kaum Muslimin. 
Dengan cara itu mereka bermaksud menghancurkan kaum Muslimin. Membuat kaum 
Muslimin bercerai-berai, saling bermusuhan, dan akhirnya mereka menjadi sangat 
lemah, dan akan dengan mudah dikuasai oleh orang-orang kafir, yang menjadi 
majikan orang-orang munafik.

Orang-orang munafik yang menjadi kaki tangan orang-orang kafir dengan dukungan 
dana yang tidak terbatas, menggerakkan seluruh kemampuan dan kekuatannya 
bertujuan menghancurkan orang-orang Mukmin. Mereka tidak ingin orang-orang 
Mukmin kuat dan menang.

Adanya organisasi, partai politik, pusat-pusat kajian, dan lembaga swadaya 
masyarakat (LSM), dan media kristen dan sekuler, tidak lain alat  orang kafir, 
semua itu hanya alat rekayasa dan tipu muslihat, dan kedustaan, serta 
menyebarkan permusuhan diantara kaum Muslimin. Dengan cara-cara itu berusaha 
menghancurkan kaum Muslimin.

"Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada  orang-orang yang mendirikan masjid 
untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafirran dan 
untuk memecah belah antara orangn-orang Mukminserta menunggu kedatangan 
orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka 
sesungguhnya bersumpah, "Kami tidak menghendaki selain kebaikan, Dan Allah 
menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta(dalam sumpahnya). 
(QS : At-Taubah : 9)

Langkah-langkah mereka lakukan tidak hanya berhenti dalam kekufuran atau 
menebarkan keburukan dan mematai-matai rahasia kaum Muslimin saja.Bahkan, upaya 
mereka hingga memecah belah kaum Muslimin, baik dengan menggunakan cara memicu 
perpecahan yang radikal maupun dengan cara politik adu-domba. Membuat 
permusuhan diantnara kelompok-kelompok kaum Muslimin.

Betapa buruknya kaum Munafik yang ada, dan mereka tidak pernah ridha terhadap 
keadaan kaum Muslimin yang ada, dan pasti akan membuat rekayasa menghancurkan 
secara sistematif. Melalui organisasi, partai politik,  pusat-pusat kajian dan 
medai massa, tujuan mengarahkan kaum Muslimin meninggalkan agama mereka.

Orang-orang manufik yang menguasai organisasi, partai politik, pusat-pusat 
kajian, dan pemerintahan, akhirnya hanya akan membawa kehancuran belaka. Semua 
sudah dibuktikan dengn sangat faktual empirik. Selama kurun waktu yang panjang, 
termasuk di Indonesia. Wallahu'alam.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke