Ref: Delegasi DPR pergi ke Belanda untuk mengetahi tentang santet ( 
http://www.tempo.co/read/news/2013/03/22/078468746/Ke-Belanda-Eva-Sundari-Emoh-Tanya-Soal-Santet
 )

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=41409

SABTU, 23 Maret 2013 | 286 Hits



Dukun dan Santet 
Oleh Djoko Suud 


Pekan-pekan ini jagat warta dipenuhi persoalan metafisika. Dari santet yang 
pro-kontra masuk dalam pembahasan revisi KUHP, dan Adi Bing Slamet yang 'marah' 
membuka kedok Eyang Subur. Adakah dukun itu? Benarkah santet itu?

Saya tersenyum mendengar paparan 'penyadaran' Adi Bing Slamet. Saya juga 
tergelak tatkala kakak Iyut ini menceritakan Nurbuat melakukan ritus aneh. Tapi 
adakah syarat aneh dan tingkah aneh itu aneh di kalangan selebritas kita? Tidak 
! Di balik glamoritas para artis dan aktris kita, keanehan itulah yang 'momong' 
batin mereka. Juga di balik garang dan arogansi para penguasa, ada figur aneh 
yang berperanan 'menjaga' eksistensi mereka.

Dalam dunia mistik dikenal dua jagat. Jagat cilik dan jagat gede. Makrokosmos 
dan mikrokosmos. Makrokosmos dikaitkan dengan tampilan phisik. Sedang 
mikrokosmos diasosiasikan sebagai batin. Phisik kuat taklah kuat tanpa ditopang 
keyakinan. Tapi sebaliknya, keyakinan kuat akan mengalahkan phisik yang lemah. 
Itulah yang disebut spirit, yang mempunyai energi ekstra dalam menghadapi 
berbagai aral dan onak kehidupan.

Eksistensial dua jagat ini tidak pernah bertemu. Itu karena jalan yang harus 
dijalani memang beda. Yang satu dihidupi ambisi dan keinginan bersifat duniawi. 
Yang satu lagi disemaikan spirit melepas dominasi duniawi. Disiplin dua-duanya 
pun beda. Yang satu bertumpu pada akal, kalkulasi logis, berseberangan dengan 
hitung-hitungan rasa. Jika kelak berhasil, maka yang satu berkuasa atas raga, 
sedang yang lain berkuasa terhadap batin.

Kekuatan keyakinan yang bersifat metafisis ini menurut saya tidak mengenal 
agama, apalagi politik. Sebab dasar kekuatan itu terletak pada tingkah-laku. 
Kebaikan yang semakin baik akan menambah kekuatan itu, dan kebaikan yang 
tercoreng keburukan akan mendegradasinya. Prinsip 'ngelmu kuwi ginawa kanthi 
laku' (ilmu itu terbawa dari tingkahlaku) seperti suratan Mangkunegara IV dalam 
Wedhatama terasa benar.

Ada apologia terhadap pandangan ini. Dulu di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), 
saban tiga atau enam bulan sekali dilakukan demo membacok tubuh atau menggoreng 
sesuatu di kepala. Itu lancar saja berpuluh-puluh tahun. Tapi sejak 'politik' 
dan 'akal' menggerogori batin mereka, maka semua demo itu berakhir di rumah 
sakit. Gagal! Ini yang membuat demo seperti itu sekarang dihilangkan.

Saya juga pernah hidup dalam komunitas Suku Sasak di Rambanbiak. Dusun ini 
dikenal sebagai 'dusun mistik'. Orang sakit tak perlu dibawa ke dokter, tapi 
melalui ritus penyembuhan yang disebut Pakon. Di tempat ini juga bisa dipakai 
sebagai wisata menuju 'alam lain'. Syarat ritus harus dipatuhi, akal harus 
dibuang jauh, dan yang tak masuk akal itu akhirnya 'faktual'.

Saya juga pernah berbulan-bulan hidup bersama Suku Bunak di Pulau Timor. Saya 
kenal dengan kepala sukunya (Kesar), sarjana, dan rasional. Namun karena dia 
kepala suku, dia wajib memimpin ritus suku untuk melakukan 'penyembahan' 
terhadap Uis Pah, Uis Neno, dan Uis Oel. Dewa Tanah, Dewa Matahari, dan Dewa 
Air. Tiga ritus itu yang paling berat adalah untuk persembahan Uis Neno. Itu 
harus dilakukan di puncak bukit tegak lurus sambil membawa kerbau atau kambing.

Saya heran bercampur kagum tatkala sang kepala suku yang rasional itu bisa 
melakukan hal yang muskil itu. Namun saat santai, sang kepala suku ini jujur 
bicara pada saya, bahwa dia sendiri juga heran dengan apa yang dilakukan. “Saya 
hanya bilang pada diri sendiri, saya kepala suku, saya ikuti petuah tetua adat, 
dan ternyata yang menurut logika tak logis itu akhirnya bisa saya tunaikan. 
Saat-saat seperti itu saya seperti kehilangan kesadaran,” akunya.

Di Bali, seorang balian (dukun) tak sulit untuk mengidentifikasi korban 
laka-lantas atau pembunuhan. Dengan cara mistik mereka dengan gampang 
merekonstruksi kejadian itu. Jasa ini yang acap dipakai aparat penegak hukum 
jika kesulitan melakukan pelacakan. Dengan demikian, jika dirunut, masalah 
mistik memang masih lekat dengan berbagai suku di negeri ini.

Malah di Banyuwangi, ada rumah mewah di pinggir jalan, yang kalau Anda tahu 
profesinya akan membuat bulu kuduk Anda berdiri. Itu adalah rumah tukang pelet. 
Pelet dalam istilah Banyuwangi adalah santet. Mencelakai orang melalui 
benda-benda tertentu yang dikirim ke dalam tubuh korban, agar yang bersangkutan 
binasa. Dan praktek seperti ini masih banyak di berbagai daerah Jawa Timur 
bagian timur ini. Namun adakah dengan fakta itu ancaman hukumannya harus 
dimasukkan dalam KUHP?

Saya setuju dengan yang tak setuju praktek ini dimasukkan dalam revisi KUHP. 
Sebab jika dilakukan, maka akan banyak fitnah yang masuk pengadilan. Toh untuk 
menangkal praktek ini cukup mudah bagi yang mau berbuat baik dan beribadah 
secara benar. Selain, tentu, pasal ini bertolak belakang dari asas hukum, yang 
bersendi pada bukti material.

Dukun dan santet memang ada dan menjadi bagian dari kehidupan bangsa ini. 
Banyak yang percaya 'dunia gaib' ini, tersebar dari pejabat tinggi negara 
sampai rakyat jelata. Saking banyaknya pasien mereka, maka banyak pula aksi 
tipu-tipu. Tak salah jika Orang Jawa menafsirkan dukun itu sebagai kependekan 
'yen ono udune dirukun'. Kalau ada uangnya diakrabi.

Terus bagaimana dong mengukur dukun itu baik dan tidak? Gampang. Karena profesi 
dukun adalah untuk mencari pahala, soal akherat, maka spiritualis yang benar 
adalah yang tidak minta duit untuk pekerjaannya. Itulah spiritualis 
sebenar-benar spiritualis. Spritualis yang dijamin sakti 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke