http://www.antaranews.com/berita/365008/demokrasi-indonesia-punya-wajah-ganda
Demokrasi Indonesia punya wajah ganda
Minggu, 24 Maret 2013 02:26 WIB | 

 
Prof Dr Didik J Rachbini (ANTARA News/Imam Santoso)

  Ada daerah yang rakyatnya masih pragmatis menghadapi demokrasi dan ada yang 
sudah dewasa yaitu yang tidak terpengaruh dengan kekuatan uang," 
Den Haag (ANTARA News) - Politikus Didik J Rachbini mengungkapkan, saat ini 
demokrasi di Indonesia masih mempunyai wajah ganda yaitu wajah tradisional dan 
wajah modern sehingga setiap parpol akhirnya mempunyai strategi yang berbeda 
untuk meraih dukungan di satu wilayah.

"Ada daerah yang rakyatnya masih pragmatis menghadapi demokrasi dan ada yang 
sudah dewasa yaitu yang tidak terpengaruh dengan kekuatan uang," katanya pada 
Diskusi "Lingkar Inspirasi: Demokrasi Berkualitas" di Pasar Malam Indonesia 
2013 di Lapangan Malieveld, Den Haag, Belanda, Sabtu.

Ia mengungkapkan, sebuah survei di Mojokerto, Jatim dengan 400 responden dan 
tingkat error lima persen menunjukkan 39,6 persen responden akan memilih parpol 
atau calon legislatif yang memberikan mereka uang, sembako, perbaikan jalan di 
kampungnya dan modal usaha.

"Riset seperti itu banyak dipakai parpol dan politisi agar mereka bisa meraih 
dukungan. Artinya membeli demokrasi di daerah tertentu itu mudah yaitu dengan 
menebar uang," katanya.

Namun, fenomena Pilkada Jakarta 2012, mencerminkan wajah lain dari demokrasi di 
Indonesia karena menurut survei elektabilitas Hidayat Nurwahid, salah satu 
calon saat itu mencapai 60 persen, sementara Jokowi yang datang dari daerah 
hanya 20-30 persen, namun faktanya Jokowi meraih dukungan luar biasa dari 
rakyat.

"Rakyat seperti tidak dibeli dengan uang, dana baksos atau bagi-bagi sembako. 
Salah satu dukungan besar terhadap Jokowi adalah media dan para sukarelawan 
yang bekerja tanpa dibayar," katanya.

Fenomena lain dari demokrasi di Indonesia, adalah pudarnya pertarungan ideologi 
antarparpol karena sudah tidak ada lagi parpol di Indonesia yang arah 
politiknya kiri , kanan, dan tengah.

Sementara Prof Firmansah, Staf Khusus Presiden bidang ekonomi mengatakan, 
Indonesia merupakan satu negara yang menjadi perhatian dunia karena mampu 
mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil di tengah krisis sekaligus mampu 
mengembangkan demokrasinya.

"Pascareformasi, media sangat bebas, dan kemudian disusul dengan aturan tujuh 
pemilihan langsung yaitu presiden, DPR, DPRD, DPD, gubernur dan bupati, dan 
kepala desa," katanya.

Di tengah tumbuhnya demokrasi, laju pertumbuhan ekonomi sudah mencapai di atas 
enam persen per tahun dan pertumbuhan investasi yang terus meningkat. "Tahun 
2013 ini ditargetkan tercipta satu juta lapangan kerja baru dan itu optimis 
tercapai antara lain dengan realisasi program MP3EI di enam koridor senilai 
Rp545 triliun," katanya.

Ia mengajak semua komponen untuk makin menguatkan demokrasi untuk menjaga 
pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

"Saya bersyukur Pilkada di Sumatera Utara dan Jawa Barat tidak menimbulkan 
gejolak yang menganggu perekonomian, itu salah satu tanda rakyat kita sudah 
dewasa dalam berdemokrasi," katanya.

Pembicara lain pada acara itu adalah Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Sidiq, Yuke 
Mayaratih dari Partai Gerindra perwakilan Belanda, Burhan Aziz dari Perwakilan 
PDI Perjuangan Belanda, Enggartiasto Lukita dari Partai NasDem dan Tugas Ahli 
Ditjen IKP Kementerian Kominfo Ahmed Kurnia.

Acara itu merupakan kerja sama antara KBRI Den Hagg, Persatuan Pelajar 
Indonesia (PPI) dan Kementerian Kominfo, dalam rangka memeriahkan gelaran Pasar 
Malam Indonesia 2013. 

(B013/Z002)
Editor: Tasrief Tarmizi

+++++

http://www.antaranews.com/berita/356807/fadli-zon-demokrasi-kriminal-akibat-lemahnya-desain-politik

Fadli Zon: "demokrasi kriminal" akibat lemahnya desain politik
Selasa, 5 Februari 2013 22:56 WIB | 2541 Views

 
Wakil ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. (FOTO ANTARA/Reno Esnir)

  Pertumbuhan demokrasi kita cenderung diiringi pertumbuhan praktik korupsi, 
mulai dari korupsi anggaran, skandal bank, hingga kasus makelar impor. 
Kesalahan utama karena memang desain politik kita dibentuk tanpa sistem hukum 
yang kuat," 

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon berpendapat 
bahwa maraknya praktik korupsi saat ini merupakan isyarat adanya suatu yang 
salah dengan demokrasi yang disebabkan oleh desain politik yang lemah.

"Pertumbuhan demokrasi kita cenderung diiringi pertumbuhan praktik korupsi, 
mulai dari korupsi anggaran, skandal bank, hingga kasus makelar impor. 
Kesalahan utama karena memang desain politik kita dibentuk tanpa sistem hukum 
yang kuat," kata Fadli dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, desain politik di Indonesia yang tidak didukung dengan sistem 
hukum yang kuat sangat mendorong praktik politik yang `diwarnai` dengan tindak 
korupsi oleh para politikus.

"Akibatnya hukum tak berwibawa dan menjadi subordinasi politik. Para koruptor 
bisa menjadi penguasa. Dengan posisi itulah, desain hukum kita direkayasa, 
inilah yang saya sebut dengan demokrasi kriminal," ujarnya.

Fadli mengatakan demokrasi di Indonesia memang tampak kuat dengan diadakannya 
pemilihan umum langsung, pemilihan kepala daerah (pilkada), serta kebebasan 
media dan partai politik.

Namun, lebih lanjut dikatakannya, supremasi hukum sebenarnya tidak benar-benar 
berjalan.

"Hasilnya, demokrasi kita tumbuh, tapi tak berkembang, yang ada justru 
demokrasi yang `cacat`," kata Fadli. 

Dia menambahkan, modus operandi yang sering dilakukan para koruptor dalam era 
demokrasi yang cenderung tidak baik sekarang ini adalah dengan menggunakan 
sumber daya keuangannya untuk ikut berpolitik dan mengambil alih kekuasaan 
melalui pemilu.

"Sehingga ketika sudah berkuasa, korupsinya semakin hebat. Bahkan, mereka bisa 
melemahkan sistem hukum untuk melancarkan praktik korupsi maka terbentuklah 
rezim demokrasi kriminal," tuturnya. 

Selanjutnya, Fadli menilai sistem hukum dan demokrasi yang dianggap `rusak` 
saat ini merupakan keadaan yang sangat kondusif bagi para koruptor untuk 
menjadi penguasa. 

"Kolaborasi antar kekuatan uang dan popularitas menenggelamkan politikus yang 
benar-benar amanah dan punya kapasitas sehingga wajar jika kesejahteraan rakyat 
sulit untuk ditingkatkan," ujarnya. 
(Y012)


++++


http://www.antaranews.com/berita/359669/legislator-demokrasi-di-indonesia-alami-kemajuan

Legislator: demokrasi di Indonesia alami kemajuan
Jumat, 22 Februari 2013 01:25 WIB | 


              Meskipun dengan banyak risiko,dampak dan implikasi, saya kira 
wajar karena masih dalam proses dan belum betul-betul dalam titik yang 
sempurna," 

Palangka Raya (ANTARA News) - Anggota Komisi II DPR RI Rahadi Zakaria 
menyatakan demokrasi di Indonesia sudah banyak mengalami kemajuan.

"Meskipun dengan banyak risiko,dampak dan implikasi, saya kira wajar karena 
masih dalam proses dan belum betul-betul dalam titik yang sempurna," kata 
Rahadi di Palangka Raya, Kamis.

Kendati kedaulatan rakyat sudah banyak kemajuan, namun politisi PDIP ini 
menghendaki agar demokrasi jangan hanya melaksanakan sistem demokrasi 
prosedural saja tapi juga demokrasi substansial.

Menurutnya, yang harus dibenahi dalam demokrasi saat ini yakni meningkatkan 
kesadaran masing-masing individu masyarakat baik pejabat, aktivitis, LSM maupun 
partai. 

"Paling tidak diperlukan kesadaran adanya pencerahan kepada masyarakat, oleh 
pemerintah. kalangan pendidik, partai politik dan aktivitas yang bergerak di 
lapangan," tuturnya.

"Karena demokrasi di Indonesia bukan sesuatu yang baru, tapi karena digaungkan 
demkorasi. Jadi semua pihak harus bertanggung jawab untuk memahami apa itu 
kedaulatan rakyat," katanya.

Ia juga mengakui pendidikan politik di kalangan pelajar sudah mulai 
diperkenalkan, salah satunya dengan adanya pelajaran PPKN yang di dalamnya ada 
unsur pendidikan politik.
(ANT)

Editor: Ruslan Burhani


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke