http://www.metrotvnews.com/front/kolom/2013/03/22/317/Indonesia-dalam-Laporan-Pembangunan-Internasional/metrokolom

Indonesia dalam Laporan Pembangunan Internasional


Metro Kolom | Jumat, 22 Maret 2013 WIB

Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan tiap tahun menunjukan posisi 
terakhir Indonesia pada angka 121 di antara 175 negara yang diukur. Indikator 
HDI adalah pendapatan perkapita, rata-rata tahun pendidikan dan harapan hidup. 
Sebagai perbandingan Malaysia (64), China (101), Thailand (103), Guyana (118) 
dan Botswana (119). Malaysia, negara tetangga kita yang sering dimaki-maki 
ternyata masuk negara high achiever. Artinya mampu meningkatkan kualitas hidup 
warga negaranya secara umum dalam waktu singkat. 

Lebih dari angka-angka yang ditunjukkan adalah pelajaran tentang bagaimana 
sumber daya pembangunan digunakan untuk meninkatkan kualitas hidup manusia, dan 
bukan hanya angka pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan. Dengan kata lain, 
Indonesia harus meninjau kembali kerangka pembangunannya. 

Selama ini warga negara yang terdidik seakan bisa terbawa dan terkecoh oleh 
pemerintah dan politisi bahwa urusan pembangunan adalah menjaa stabilitas 
pertumbuhan dan berapa banyak berkurangnya jumlah orang miskin. Kita seakan 
terseret menjauhi pemikiran yang lebih kritis tentang arti pembangunan yang 
sesungguhnya. Tentu saja pemerintah dan politisi merasa sangat nyaman dengan 
indikator artifisial karena menyembunyikan hal-hal seperti ketimpangan, risiko 
sosial dan ekonomi, serta mutu pelayanan publik.

Nah, sekarang saatnya para kaum terdidik menuntut pmerintah dan politisi yang 
jauh lebih pintar dan mau bekerja keras. Caranya? Mengangkat kembali 
dimensi-dimensi kritis tentang makna pembangunan. UNDP menggunakan kata 
development friendly, yaitu pembangunan yang tidak meningkatkan risiko sosial 
ekonomi, termasuk risiko ekslusi (kalah dalam persaingan), kekerasan dalam 
masyarakat, dan pertentangan antar kelompok. Negara juga tidak mengandalakan 
pendapatan negara dari industri ekstraktif yang dampak multiplikasi 
ketrampilannya pendek namun mengeruk bumi. Integrasi sosial merupakan bagian 
dari perhatian dan kebijakan negara.

Adalah perkembangan yang baik bahwa beberapa studi pembangunan di tingkat 
internasional kembali memasukan pikiran-pikiran tentang kerangka pembangunan. 
Selama beberapa puluh tahun ke belakang, pemikiran baru tentang pembangunan 
menjadi mandek. Namun ini bukan berarti tidak terjadi inovasi pembangunan di 
belahan negara lain. Mungkin di negara Eropa yang sebelumnya menjadi kiblat 
pemikiran pembangunan terjadi semacam kemandekan, namun di negara Asia Timur 
dan Amerika Latin mereka maju terus dengan berbagai inovasi sosial dan ekonomi. 

Asia Timur mencontohkan banyak inovasi kebijakan pemerintah yang bertujuan 
meningkatkan kemampuan bersaing di tingkat global bagi unit usaha dalam 
berbagai level teknologi produksi. Persoalan social security ditangani dengan 
skema-skema jaring sosial yang dibayar dengan perkembangan yang terjadi karena 
struktur ekonomi. Sedangkan negara-negara Amerika Latin, juga India, memberikan 
pengetahuan dari pengalaman menggabungkan antara indikator kohesi sosial dengan 
pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang lebih awal. 

Pelajaran yang diambil dari model negara pembangunan di Asia Timur adalah bahwa 
negara sangat memikirkan bagaimana model pendidikan dan pelatihan ketrampilan 
sejalan dengan skema perkembangan struktur ekonomi yang ditetapkan untuk 
dicapai. Negara memfasilitasi terjadinya transformasi sosial dan ekonomi. Namun 
sebelum melakukan itu, negara melakukan koherensi institusional bagi 
lembaga-lembaganya sendiri. Di Indonesia, sebaliknya, terjadi pelemahan 
institusional setelah kementerian dipenetrasi kepentingan partai politik.

Pemikiran lain muncul dari suatu program riset di Belanda bekerja sama dengan 
universitas di Indonesia. Pada dasarnya program riset ini ingin melihat arah 
dari transformasi kewarganegaraan di Indonesia setelah menjalani lima belas 
tahun reformasi. Akan diteliti arah dan kemampuan kelompok-kelompok masyarakat 
dalam berinteraksi dengan negara. Apakah setelah hiruk pikuk kebebasan politik 
kemudian warga negara mampu membuat negara dan politisi mengambil kebijakan 
pembangunan yang mensejahterakan secara ekonomi dan sosial? 

Program riset ini beranjak melebihi analisa konvensional yang melihat hubungan 
positif antara demokrasi dan kesejahteraan. Indonesia telah mempunyai sistem 
politik yang secara formal demokratis. Namun siapakah yang menikmati sistem 
politik baru ini? Jika bukan masyarakat luas, tapi segelintir orang, dimana 
letak salahnya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, studi akan menganalisa tiga wilayah. 
Pertama, kapasitas birokrasi negara sebagai penyedia dan fasilitator. Sebagai 
penyedia, perannya lebih sederhana sejauh punya sumber daya dan tahu jenis 
kebutuhan masyarakat. Namun peran kedua jauh lebih sulit karena membutuhkan 
kecakapan yang lebih tinggi: mengembangkan komunikasi dengan kelompok 
masyarakat dan mengetahui dimensi-dimensi potensial yang dimiliki masyarakat 
agar dapat menjadi kekuatan tersendiri. Sebagai contoh kasus, tahukah 
pemerintah tentang apa yang dibutuhkan UKM selain permodalan? Bahkan elemen 
modal mempunyai dimensi yang beragam. 

Wilayah yang kedua dipandang menentukan arah pembangunan Indonesia adalah 
seberapa jauh wilayah ekonomi bayangan dapat dikontrol. Seperti diketahui, sisi 
berbahaya dari ekonomi bayangan adalah ekonomi ilegal. Berbeda dengan kegiatan 
ekonomi bayangan sektor informal, ekonomi ilegal memproteksi kepentingan 
terselubung. Namun secara umum, ekonomi bayangan adalah wilayah dimana  
intervensi negara yang baik tidak bisa dilakukan, seperti peningkatan 
ketrampilan, standar upah, keselamatan kerja, dan yang lainnya.

Wilayah ketiga adalah karakter wilayah publik. Berbeda dengan pandangan umum 
yang menyatakan arena publik yang ramai dan terbuka lebih mampu mengontrol 
pemerintah. Belum tentu. Seperti yang kita lihat di Indonesia saat ini, korupsi 
semakin luas dan mendalam meskipun kita bisa mengangkat skandalnya ke arena 
publik. Benar bahwa arena publik adalah wilayah kontestasi. Namun semua 
keriuhan itu tidak banyak arti jika tidak mampu mendorong proses reformasi 
institusional. Salah satu kemalangan sejarah politik Indonesia adalah 
meletakkkan institusi perwakilan seperti yang ada sekarang mendominasi arus 
komunikasi politik antara arena publik dan kebijakan. Akan tetapi, jangan 
terkejut jika hasil studi nanti akan juga menunjukkan kelemahan-kelemahan 
organisasi masyarakat sendiri.

Meuthia Ganie-Rochman, sosiolog organisasi dan mengajar di Universitas 
Indonesia.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke