Politik Outsourcing & Turunnya IQ Demokrasi

Apa yang terjadi jika panggung politik dipenuhi oleh bintang iklan, 
artis sinetron hingga pelawak? politik Indonesia mutakhir ditandai 
dengan sebuah gejala yang disebut "politik outsourcing".

Bukan kontestasi antara PKS, PDI Perjuangan dan Demokrat. Tapi ini adalah 
persaingan antara Deddy Mizwar, Rieke Diah Pitaloka dan Dede Yusuf. 
Itulah kesimpulan yang muncul dari hasil pemilihan Gubernur Jawa Barat.

Popularitas tokoh menjadi faktor penentu ketimbang partai politik. 
Apalagi, partai-partai besar baru dihajar skandal: Presiden PKS 
terpental dari jabatan dan dipenjara karena dugaan korupsi impor daging 
sapi. Sementara Ketua Umum Partai Demokrat, baru diganjar status 
tersangka oleh KPK. Kredibilitas partai yang anjlok karena korupsi, 
semakin membuat “faktor ketokohan“ menjadi paling dominan untuk 
menentukan siapa yang akan menang.

Sebelum Pilkada Jawa Barat, 
belasan artis terkenal sudah duluan masuk Senayan: Venna Melinda, 
Angelina Sondakh, Eko Patria hingga Qomar. Beberapa yang lain seperti 
Rano Karno, sukses terpilih dalam Pilkada.

“Inilah politik outsourcing,“ kata pengajar filsafat politik Universitas 
Indonesia Rocky Gerung kepada Deutsche Welle.

Jika di Amerika para artis atau orang beken dipakai untuk mendukung 
kandidat, maka di Indonesia, para selebritas yang justru ikut pemilihan.
 Ini semua, menurut Rocky, terjadi karena partai politik tidak punya 
agenda untuk menyelenggarakan politik bermutu.

Deutsche Welle

Apa yang terjadi, kenapa politik Indonesia tiba-tiba dipenuhi bintang sinetron, 
bintang iklan hingga pelawak?

Rocky Gerung

Karena tidak ada rekrutmen yang dilakukan secara sistematis oleh partai
 politik, maka yang terjadi adalah outsourcing. Ini membuktikan bahwa 
partai-partai yang ada tidak melakukan kaderisasi.

Deutsche Welle

Apa akibat dari model politik outsourcing semacam ini?

Rocky Gerung

Ini akan berdampak pada kemampuan kita untuk mengkomunikasikan kembali 
masalah politik kepada publik. Akibatnya, bahasa yang dipakai adalah 
bahasa populer yang sebetulnya dangkal, padahal kita butuh ucapan 
politisi yang bermutu. Tapi itu tidak mungkin kita peroleh dengan sistem
 yang outsourcing seperti ini, yang mengambil tokoh populer dengan 
pikiran yang terbatas dalam soal gagasan, dalam soal pengetahuan tentang
 konsitusi.

Deutsche Welle

Anda menyebut bahwa ini membuat politik kita menjadi dangkal, bisa anda 
elaborasi?

Rocky Gerung

Artinya kita tidak akan saksikan suatu debat politik dengan kekuatan 
gagasan luar biasa dengan kemampuan untuk menghubungkan suatu isu dengan
 konstitusi. Ini tokoh-tokoh yang nggak mungkin melakukan itu, karena 
sejak awal kapasitasnya tidak dimaksudkan utk melayani soal-soal politik
 yang benar-benar bisa menghasilkan pencerdasan kehidupan 
kewarganegaraan. Ini bukan lapisan yang betul-betul dipersiapkan secara 
sadar untuk merawat Republik. Ini sekedar merawat partai, hanya semacam 
snapshot saja supaya kelihatan bagus. Mereka dipetik sebagai kembang, 
padahal kembang plastik sebetulnya. Saya tidak bicara ini dalam rangka 
untuk melecehkan pilihan publik. Tentu hak orang buat mengumpankan diri 
di dalam popularitas, tapi buat saya ini bukan popularitas dalam 
pengertian berpolitik yang normal.

Deutsche Welle

Apa yang menjadi penyebab diatas ini semua?

Rocky Gerung

Ini pragmatisme yang tiba-tiba harus diselenggarakan karena struktur 
partai kita bukan partai yang menghendaki kader. Semuanya kan di partai 
itu ekslusif, eksklusif dalam feodalisme, ekslusif di dalam dinasti, 
ekslusif di dalam banyak hal. Jadi kalau kita uji lebih mendasar, cara 
kita menyelenggarakan partai politik tidak diwarnai oleh semangat 
citizenship, tapi semangat primordial. Partai tidak merasa harus 
melayani warga negara. Kalau dia melayani warga maka dia harus 
mengucapkan gagasan dalam tata bahasa warga negara. Itu kan minimum 
requirement untuk menyebut diri sebagai partai. Tapi yang terjadi adalah
 bahasa yang paling murah itu yang dipasarkan. Dan itu paling gampang 
melalui public figure. Politisi seleb bukan alat untuk memasarkan 
kewarganegaraan, bukan alat untuk memasarkan konstitusi, bukan alat 
untuk memasarkan akal sehat. Padahal politik membutuhkan rasionalitas, 
cara berpikir konsitusional.

Deutsche Welle

Apa dampak politik yang banal ini?

Rocky Gerung

IQ demokrasi kita pasti turun dalam pemilu mendatang. Padahal kita 
butuh standar IQ demokrasi. Peradaban politik kita turun. Kita bisa 
lihat dari cara metafor diucapkan, cara argumentasi disusun dalam 
kampanye. Kita tidak melihat sensasi pikiran, yang ada hanya sensasi 
dalam bahasa tubuh. Padahal yang kita butuhkan adalah sensasi gagasan, 
yang terjadi adalah konstipasi, orang ngeden saja nggak bisa buang 
angin. Orang-orang hari ini betul-betul beternak politisi, dan 
peternakan itu dikendalikan dua tiga orang yang kita sebut oligarki.

Deutsche Welle

Tahun `50-an, kita bisa membaca perdebatan-perdebatan yang bermutu di 
konstituante. Kenapa sekarang, setelah lebih setengah abad kemudian, 
kita tidak melihat kualitas seperti itu di parlemen?

Rocky Gerung

Dulu airnya bersih sehingga yang muncul adalah ikan salmon yang berani 
berenang melawan arus. Sekarang yang ada adalah ikan buntel yang adanya 
di selokan.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke