http://www.indopos.co.id/index.php/berita-nasional/3266-kemiskinan-belum-dapat-teratasi


Kemiskinan Belum Dapat Teratasi 
  Wednesday, 27 March 2013 07:48 
  Written by Bowo
 




NUSA DUA - Meskipun menuai sukses di berbagai aspek, Millenium Development 
Goals (MDGs) dinilai belum mengatasi kemiskinan. Pasalnya, kemiskinan di 
berbagai negara sampai saat ini belum berkurang, dan muncul dalam banyak wajah 
ketidakberdayaan.

”MDGs yang akan berakhir pada 2015 masih belum berhasil mengatasi kemiskinan. 
Bahkan kesenjangan tidak hanya menjadi masalah di negara-negara miskin, tetapi 
juga di negara-negara berkembang dan maju,” kata Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) saat membuka Indonesia MDG Awards (IMA) 2012 di Hotel Conrad, 
Nusa Dua, Bali, Selasa (26/3).

Menurutnya, MDGs tidak mampu menangani sejumlah isu, seperti penyediaan 
lapangan kerja dan kesenjangan. ”MDGs juga belum menjawab akar persoalan 
pembangunan berkelanjutan, dan mengurangi penyebab kemiskinan,” jelas SBY.Untuk 
mengurangi tingkat kemiskinan ekstrem ini, SBY berharap kebijakan yang perlu 
dilakukan adalah mengurangi beban yang ditanggung masyarakat. Misalnya, sekolah 
dan pengobatan gratis bagi rakyat yang sangat miskin, beras dengan harga yang 
lebih murah. ”Serta memberikan bantuan sosial,termasuk pada yang terkena 
bencana,” lontarnya.

Selain itu, terkait dengan upaya merumuskan agenda pembangunan pasca 2015, SBY 
menyimpulkan setidaknya ada tiga yang perlu dijadikan pertimbangan. Pertama, 
adalah pengalaman. ”Lewat MDGs, kita tahu mana yang berhasil, mana yang 
bermakna, mana yang tidak berhasil,” cetus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat 
ini.

Kedua, tegasnya, lanskap pembangunan telah berubah drastis. Di satu sisi negara 
berkembang saat ini telah menjadi mesin pertumbuhan, di sisi lain geografi 
kemiskinan menunjukkan bahwa sejumlah besar warga dunia yang tergolong miskin 
juga berada di negara berpenghasilan menengah. Ketiga, perlunya kerangka kerja 
yang mampu menjawab tantangan dan peluang saat ini dan di masa depan. 
”Indonesia mengambil posisi menghindari perombakan total terhadap MDGs sebagai 
bentuk agenda pembangunan pasca 2015,” terangnya.

Sementara itu, dalam dialog Youth Media and Development Menteri Pemuda dan 
Olahraga Roy Suryo menambahkan, bahwa target dari MDGs2015 memang sebuah 
keniscayaan karenapada 2020-2030 nantinya akan masuk bonus demografi. ”Artinya, 
adanya usia muda yang akan menjadi besar dan jika tidak tepat ditangani, maka 
bisa menjadi bencana. Ini dapat menjadi peluang dan bisa juga menjadi bencana,” 
cetus dia.

Untuk itu, tambah Roy, pihaknya akan mengsingkronkan bagaimana usia muda bisa 
selaras dengan programnyadan tidak ditinggalkan oleh masyarakat. Maka dengan 
itu, perlu menghubungkan titik dari dahulu, sekarang, dan masa depan. ”Insya 
AllahMenpora akan mengsingkronkan dengan program-program yang ada. Kita akan 
melakukan modifikasi dengan baik, sehingga bisa diterima generasi muda.Salah 
satunya kegiatan pramuka,” tegasnya.

Jadi, lanjut Rot,tahun ini pramuka masuk dalam pelajaran wajib yang bukan lagi 
menjadi kegiatan pilihan. Selain itu, adanya semangat menggabungkan pramuka ini 
ke dalam kegiatan berbasis teknologi. ”Artinya nantinya pramuka tidak dipandang 
menjadi sebuah organisasi peniggalan masa dulu, tapi menjadi masa sekarang,” 
ujarnya.

Roy juga menilai,selama ini kegiatan pramuka ini hanya menjadi baju saja. Jika 
melihat dari sekolah-sekolah yang melakukan kegiatan pramuka, anak-anak 
sekarang hanya mengerti menggunakan baju pramuka, tapi tidak mengerti arti 
patriotisme dan nasionalisme yang mestinya bisa diajarkan. ”Saya yakin nantinya 
pramuka bisa menjadi kegiataan yang disenangi lagi oleh generasi muda,” terang 
dia.(fdi


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke