BUKTI MENGHORMATI LELUHUR
Ceng Beng Mempererat Silaturahmi
Kamis, 28 Maret 2013 - 11:21:13 WIB
BAGANSIAPIAPI - Sejak 25 Maret lalu, masyarakat Tionghoa mulai melakukan ritual
sembahyang Ceng Beng (sembahyang kubur). Ritual yang akan berakhir sampai tgl
14 April mendatang ini sudah dimulai ribuan tahun yang lalu di dataran Tiongkok
memberikan makna yang cukup mendalam, yaitu menumbuhkan rasa bakti kepada orang
tua atau leluhur yang telah mendahului kita.
Hal ini karena tradisi bagi warga Tionghoa sangat mengedepankan bakti sebagai
keharusan dalam keluarga. Tapi, belakangan ini di karenakan tuntutan jaman dan
makin minimnya waktu berkumpul bagi sesama anggota keluarga, makna Ceng Beng
menjadi moment penting.
''Antara lain yaitu menumbuhkan tali silahturahmi antar anggota keluarga,
maupun antar sesama masyarakat satu daerah asal serta menumbuhkan rasa
kecintaan kepada kampung halaman. Dan juga bisa berperan menggerakan sedikit
ekonomi baik secara nasional maupun lokal (masyarakat sekitar kuburan dan
kampung halaman)," sebut Tokoh Tionghoa Rohil Siswaja Muljadi kepada MRNetwork,
Rabu (27/3).
Ceng Beng secara harfiah, sebut Siswaja, berarti 'Terang dan Jelas' dan
dihitung 15 hari setelah perayaan hari chunhun (posisi matahari berada tepat di
khatulistiwa). Biasanya perayaan Ceng Beng selalu jatuh pada 5 April, tapi
tahun ini bergeser pada 4 April dikarenakan tahun ini merupakan tahun kabisat.
Festival Ceng Beng sendiri diciptakan oleh Kaisar Xuanzong pada tahun 732
dinasti Tang.
''Dengan alasan orang Cina kuno mengadakan upacara pemujaan nenek moyang dengan
cara terlalu mahal dan rumit. Dalam usaha untuk menurunkan biaya tersebut,
Kaisar Xuanzong mengumumkan penghormatan tersebut cukup dilakukan dengan
mengunjungi kuburan nenek moyang pada hari Ceng Beng," jelasnya.
Tata cara pelaksanaan Ceng beng dilakukan dengan menyiapkan beberapa makanan
khas kesukaan leluhur dan buah buahan serta kertas sembahyang, kertas lain yang
turut dipersiapkan ada juga berupa barang-barang perlengkapan berupa mobil, hp,
tv, baju, emas dan semuanya berbahan kertas di masukan ke dalam kotak kertas.
"Persembahan ini akan dibakar, setelah melakukan sembahyang di kuburan.
Disamping itu, juga disediakan kertas berwarna warni untuk di taruh diatas
kuburan. Terkadang selain menyiapkan makanan untuk sembahyang leluhur, juga
disiapkan makanan khusus para peziarah yang akan makan bersama dikuburan
setelah acara ritual selesai," urainya.
Dikatakannya, moment seperti ini bisa dijadikan ajang berkumpulnya seluruh
keluarga dalam melakukan ritual Ceng Beng. "Ini menjadi sarana untuk saling
bersilahturahmi. Bahkan, di daerah Sumut, moment Ceng Beng menjadi tradisi
untuk melakukan reuni satu kampung," timpalnya.
Ceng Beng, umumnya dilakukan oleh masyarakat Tionghoa yang masih beragama
Buddha, Tao dan Kong Fu Cu. "Sedangkan bagi keturunannya yang sudah pindah
agama, sudah menjadi hal yang enggan untuk melakukan ritual Ceng Beng. Padahal,
melakukan ritual sembahyang Ceng Beng sangat baik selain untuk menghormati
leluhur dan mengenang jasa-jasa leluhur kepada kita atau keluarga, kita juga
bisa terus menjalin hubungan silahturahmi antar keluarga yang mungkin sudah
lama tidak saling bertemu," jelasnya.
Ditambahkannya, ada makna yang tersirat dari ritual ceng Beng ini, yaitu bakti,
penghormatan kepada leluhur, keselarasan dan harmoni bersama dengan keluarga.
"Karena, kita harus menyadari bahwa kita bisa berada di dunia juga karena
adanya leluhur kita. Ceng Beng sendiri di Umat Islam sebenarnya juga ada, yaitu
membersihkan kuburan beberapa hari sebelum lebaran, sedang umat Kristen juga
melakukannya di tanggal kematian Yesus kristus, atau disebut Jumat agung dengan
membersihkan kuburan keluarganya, jadi sebenarnya semua agama mengajarkan hal
tersebut. Tetapi, momentnya yang berbeda-beda. jadi bagi kita yang mempunyai
agama berbeda dengan orang tua kita, semestinya juga bisa melakukan hal
tersebut tanpa punya pikiran yg negatif," ajaknya.
Ceng Beng merupakan salah satu hari besar yang diperingati oleh masyarakat
Tionghoa, selain Imlek, Cap Go Meh, sembahyang Pho To (bulan tujuh), sembahyang
kue bulan (bulan delapan tanggal 15 lunar).
"Di Tiongkok, hari Ceng Beng diliburkan oleh pemerintah disana. Sementara untuk
di Riau, khususnya kabupaten Rokan Hilir, beberapa tahun yang lalu bapak Bupati
H Annas Maamun pernah menghimbau agar masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi dan
sekitarnya yang punya kuburan leluhur di Bagansiapiapi agar tidak
memindahkannya ke kota mereka menetap sekarang. Hal ini dikarenakan menyebabkan
masyarakat Tionghoa akan enggan pulang kampung dan tidak mengunjungi kampung
halaman Bagansiapiapi," papar Siswaja.
Karena, sebutnya, hal ini bisa mempengaruhi keberadaan dan keramaian Kota
Bagansiapiapi dalam jangka panjang. Pemkab dalam hal ini perlu menyiasati
dengan membangun fasilitas jalan dan kuburan yang nyaman dan memfasilitasi
pembakaran mayat/jenazah (Krematorium) yang belum ada di Bagansiapiapi dan di
pengaruhi oleh kondisi tanah perkuburan Bagansiapipai yang cendrung berair
karena tanah rawa.
''Sehingga masyarakat Tionghoa cendrung membawa jenazah ke kota lain seperti
Pekanbaru untuk dikubur atau dikremasikan, dengan di fasilitasinya krematorium
di Bagansiapiapi akan sangat membantu masyarakat Tionghoa dan pada akhirnya
masyarakat juga akan mendukung kebijakan Pemkab Rohil untuk dengan tidak
memindahkan kuburan leluhur ke luar daerah. Semoga hal ini menjadi perhatian
kita bersama. Selamat melaksanakan ritual Ceng Beng. Semoga kita semua selalu
berbahagia," sebutnya. (Naj)