Ref: Di NKRI berbagai hal aneh atau tidak aneh bisa saja terjadi dan oleh 
karena itu oknom di belakang layar atau siluman yang tidak terlihat oleh mata 
manusia pun bisa dicalonkan dan dipilih menjadi ketua partai politik, sebab 
yang penting ialah agama cocok, etnik cocok dan memiliki fulus lebih dari 
cocok.  Cocok agama, cocok etnik, tetapi fulus senin kemis jangan harap akan 
dimodekan, begitulah hukum yang tidak tertulis dalam dunia kleptokrasi.

http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/memilih-ketum-tanpa-kelihatan-sang-kandidat/33054

Demokrasi Ala Partai Demokrat

Memilih Ketum Tanpa Kelihatan Sang Kandidat
Sabtu, 30 Maret 2013 | 18:47

 Kongres Partai Demokrat.[Antara] Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di 
Hotel Inna Bali Beach, Sanur, Bali, menunjukkan praktik demokrasi yang luar 
biasa dalam sebuah partai penguasa (the ruling party).   

Hanya dalam tempo sekitar tiga jam sejak KLB mulai berlangsung pada pukul 14.00 
Wita, peserta KLB telah berhasil memilih Ketua Umum DPP Partai Demokrat baru 
sebagai pengganti Anas Urbaningrum.   

Anas menyatakan berhenti pada 23 Februari lalu, setelah ditetapkan sebagai 
tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan keterlibatannya 
dalam kasus korupsi.   

KLB berlangsung mulus, tanpa perdebatan, tanpa interupsi, tanpa aksi walk out, 
bahkan tanpa unjuk rasa sebagaimana yang pernah dipertontonkan oleh partai atau 
organisasi kemasyarakatan lain yang sedang berkongres.   

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku pendiri, ketua dewan pembina, 
ketua majelis tinggi dan ketua dewan kehormatan, tidak hadir pada pembukaan 
KLB, meskipun telah berada di hotel tempat penyelenggaraan KLB itu beberapa jam 
sebelum pembukaan, memunculkan indikasi bahwa prosesi pemilihan akan 
berlangsung seperti layaknya calon pengantin Jawa yang "dipingit" terlebih 
dahulu.   

Hingga peserta KLB mengakhiri persidangan pemilihan ketua umum secara 
musyawarah dan mufakat, Yudhoyono tidak masuk ke arena KLB. Yudhoyono hanya 
hadir pada penutupan KLB dalam kapasitas sudah menjadi Ketua Umum DPP Partai 
Demokrat.   

Sidang pun praktis berlangsung hanya dalam satu sesi setelah acara pembukaan 
yang dilakukan oleh Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro, 
putra bungsu Yudhoyono.   

Empat ketua dewan pengurus daerah (DPD) tingkat provinsi yang berasal dari 
Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Papua menyampaikan 
pemandangan umum sebagai perwakilan DPD dari kawasan Sumatera, Jawa, Kalimantan 
dan Indonesia Timur. 

Dalam pemandangan umum tersebut, mereka sepakat memilih Yudhoyono sebagai Ketua 
Umum dan suara yang disampaikan juga sudah mengatasnamakan 497 dewan pengurus 
cabang (DPC) tingkat kabupaten dan kota.   

Meminta Kesediaan SBY 

Peserta KLB kemudian mendelegasikan tujuh orang pimpinan sidang untuk meminta 
kesediaan Yudhoyono. Ketujuh orang itu adalah EE Mangindaan, Edhie Baskoro, 
Jhonny Allen, Syarif Hasan, Toto Riyanto, Max Sopacua, dan Amir Syamsuddin, 
menemui Yudhoyono ke salah satu ruangan di lantai 7 hotel tersebut. Sidang pun 
diskors selama 15 menit.   

Setelah sidang dimulai kembali, EE Mangindaan yang juga Menteri Perhubungan 
menyampaikan bahwa Yudhoyono akhirnya bersedia menjadi Ketua Umum DPP Partai 
Demokrat menggantikan Anas Urbaningrum hingga 2015.   

"Sesuai dengan kesepakatan, kami bertujuh telah bertemu dengan Bapak SBY. 
Beliau tidak mudah memutuskan, karena beliau memikirkan tugas kenegaraan," kata 
Mangindaan yang pernah menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.   

Mangindaan menceritakan bahwa mereka melihat suasana batin Yudhoyono ketika 
meminta kesediaannya menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.   

Yudhoyono, kata Mangindaan, menceritakan soal tugas-tugas yang diembannya 
selaku Presiden sebagai amanah rakyat dalam memimpin negeri ini.   

Yudhoyono dalam pertemuan dengan tujuh delegasi peserta KLB akhirnya bersedia 
menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat dengan dua syarat.   

"Syaratnya adalah jabatan ketua umum yang akan saya jalankan ini adalah 
benar-benar bersifat sementara," kata Yudhoyono sebagaimana disampaikan 
Mangindaan.   

Semua yang dilakukan sementara demi proses penyelamatan dan konsolidasi partai. 
"Paling lama dua tahun," kata Yudhoyono.   

Yudhoyono menginginkan kongres mendatang berlangsung pada 2015, setelah seluruh 
proses Pemilu DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wapres pada 2014 
selesai.   

Syarat kedua, kata Yudhoyono, supaya bisa berkonsentrasi, dan menjalankan tugas 
kenegaraan, tugas-tugas ketua umum akan dilaksanakan oleh pengurus harian di 
bawah ketua harian, di bawah pimpinan ketua harian.   

Setelah menceritakan pertemuan dengan Yudhoyono di hadapan seluruh peserta 
kongres, Mangindaan menanyakan apakah dapat disetujui, lalu terdengar bunyi 
palu diketok di meja dan suara "setujuuu..." dari peserta kongres. 

Tiga Pasal 

Keputusan itu pun kemudian dituangkan dalam Surat Keputusan KLB Partai Demokrat 
Nomor 04/PD/2013 tentang Ketua Umum Terpilih Partai Demokrat 2013-2015.   

Tiga keputusan yang dituangkan dalam tiga pasal itu adalah, pertama, memilih, 
mengangkat, dan menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Ketua Umum DPP 
Partai Demokrat untuk masa bakti 2013-2015.   

Pasal kedua, memberikan mandat kepada ketua umum terpilih untuk membentuk 
formatur dalam rangka menyempurnakan kepengurusan.   

Pasal ketiga, keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan di Denpasar 30 
Maret 2013 pukul 17.00 wita.   Proses KLB yang berlangsung mulus tak terlepas 
dari sejumlah pertemuan Yudhoyono dengan pimpinan DPP dan DPD Partai Demokrat 
seluruh Indonesia saat menjelang kongres hingga dua pertemuan terakhir pada 
Jumat (29/3) malam dan Sabtu (30/3) pagi.   

Perubahan Kepengurusan Yudhoyono akan memimpin formatur untuk menyusun 
kepengurusan lengkap.   Majelis Tinggi Partai Demokrat telah menyerahkan 
sebanyak 14 nama calon ketua harian kepada ketua DPD Partai Demokrat seluruh 
Indonesia, kata Ketua DPD Sulawesi Tenggara Muhammad Endang.   

"Pagi tadi, saat dikumpulkan oleh SBY di Nusa Dua, Bali, kami disodorkan 
nama-nama calon ketua harian," kata Endang.   Ke-14 nama calon ketua harian 
yang disodorkan itu adalah Gubernur Jatim Soekarwo selaku Ketua DPD Partai 
Demokrat Jawa Timur, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi selaku 
Ketua DPD Partai Demokrat Nusa Tenggara Barat, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus 
selaku Ketua DPD Partai Demokrat Jambi, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR 
Nurhayati Ali Assegaf, Max Sopacua, Jhonny Allen, Direktur Eksekutif DPP Partai 
Demokrat Totok Riyanto, Sutan Bhatoegana, Roy Suryo, Syarif Hasan, EE 
Mangindaan, Jero Wacik dan Amir Syamsuddin.   

Untuk terhindar dari anggapan sebagai partai dinasti, Edhie Baskoro alias Ibas 
diperkirakan akan mengundurkan diri dari jabatan Sekretaris Jenderal dengan 
alasan akan melanjutkan pendidikan Program Doktoral (S3) ke luar negeri.   

"Saya mendapat kabar kalau Mas Ibas akan melanjutkan pendidikan S3," kata 
anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melanie Leimena Suharli.   

Melanie mengatakan, Ibas akan kembali berpolitik pada 2015 setelah selesai 
pendidikan dan pada tahun tersebut dia akan lebih matang dalam berpolitik.   
Dia menambahkan, mundurnya Ibas dikarenakan adanya keinginan DPD dan DPC 
Yudhoyono menjadi Ketua Umum. 

"Tidak mungkin, bapak jadi Ketua umum dan anaknya jadi Sekjen," katanya.   

Ia menyebutkan, mundurnya Ibas sebagai Sekjen bukan berarti Partai Demokrat 
kehilangan tokoh muda.   "Tokoh muda tidak hilang di Demokrat. Masih banyak 
politisi muda. Ibas sedang berkonsentrasi dan mematangkan politiknya," kata 
Wakil Ketua MPR itu.   

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua mengatakan, hal tersebut sudah 
diantisipasi apabila SBY sebagai ketua umum dan sekjennya anaknnya sendiri.   

Babak baru komposisi kepengurusan lengkap DPP Partai Demokrat berada pada Ketua 
Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin tim formatur.   

Demokrasi a la Partai Demokrat telah menunjukkan bahwa keputusan tidak selalu 
harus diambil melalui pemungutan suara (voting). [Ant/L-8]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke