REf: Apakah perusahaan KA tidak bertanggung jawab atas keselamatan penumpang?

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/02/5/143141/Bagi-Penumpang-KRL-Ekonomi-Keamanan-Hanya-Jadi-Nomor-Dua


Bagi Penumpang KRL Ekonomi, Keamanan Hanya Jadi Nomor Dua
Selasa, 02 April 2013 | 07:33 WIB
 
ANTARA/Andika Wahyu

Metrotvnews.com, Jakarta: Rencana penghapusan KRL non-AC Jabodetabek dengan 
mengedepankan alibi faktor keamanan dikritisi sejumlah pihak. Bagi kalangan 
pengguna loyal, keamanan dan kenyamanan kereta api jenis ini dipandang bukan 
prioritas. Yang terpenting, sampai di lokasi tujuan. Jika itu dihapus, 
dikhawatirkan akan semakin menuai gejolak sosial.

Psikolog Universitas Indonesia Guritnaningsih mengatakan jika dianalogikan 
dengan teori Kebutuhan Abraham Maslow, para penumpang KRL non-AC ini baru 
sampai tahap kebutuhan dasar. 

Artinya, mereka tidak lagi mementingkan seberapa bagus kualitas keamanan dan 
kenyamanan kereta yang ditumpangi. Yang paling penting, dapat tiba di tempat 
bekerja dengan cepat dan tepat waktu, dengan ongkos yang murah.

"Golongan (pengguna kereta) kelas ekonomi ini masih sampai tahap basic needs. 
Mereka belum mementingkan keamanan dan kenyamanan. Duduk di atas kereta, enggak 
peduli jatuh, yang penting sampai," jelasnya, Senin (1/4).

Lantaran itu, sambungnya, para penumpang ekonomi ini tidak ambil pusing dengan 
alasan penghapusan KRL non-AC. Jikapun alasan itu terus dipaksakan, ia 
mengkhawatirkan akan terjadi resistensi lebih jauh. Sebagaimana yang terjadi 
dengan demonstrasi para pengguna moda transportasi itu di Bekasi, beberapa hari 
lalu. 

Hal itu, menurut Guritnaningsih, tidak menjadi pertimbangan para pengambil 
kebijakan. Bahwa, tidak ada riset sosial mendalam terkait penghapusan KRL 
terseebut.

"Ya itu tadi, nantinya muncul gejolak-gejolak di masyarakat. Bisa jadi dalam 
bentuk protes-protes," katanya.

Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) Tri Handoyo menyatakan 
pihaknya memang mengutamakan faktor keselamatan (safety) sebagai pertimbangan 
perizinan operasional kereta. 

Dengan kondisi KRL non-AC yang disebunya memprihatinkan, pihaknya segera 
mempertimbangkan penggantian kereta. Rencananya, pada Juni ini.

"Safety, faktor keamanan, ini prioritas pertama. Kalau enggak aman, lebih baik 
tidak dijalankan. Daripada taruhannya nyawa. lagipula ini bukan penghapusan 
(kereta), tapi penggantian," kilahnya.

Ketua Asosiasi Pengguna Kereta Api (Aspeka) Ahmad Safrudin menimpali, komposisi 
penumpang KRL non-AC ini terdiri atas kaum pekerja informal. Misalnya, buruh 
pelabuhan, pekerja lepas, kuli angkut, pegawai toko. 

Mereka bukanlah pekerja yang bergaji standar Upah Minimum Provinsi (UMP) Rp2,2 
juta per bulan. Dikatakannya, mereka tidak terlalu peduli pada kereta yang 
tanpa pintu ataupun kondisi yang berjejal.

"Sebelum ada skema subsidi, KRL ini jangan dihapus. Tapi tetap perlu juga 
adanya konsistensi mutu layanan, paling tidak standar pelayanan minimal (SPM)," 
cetusnya. (Arif Hulwan)


Editor: Basuki Eka Purnama

TERKAIT
  a.. Penarikan Rangkaian KRL Ekonomi Non AC Ditunda 
  b.. Pengguna KRL Ekonomi Dibantu LBH Jakarta akan Gugat KAI 
  c.. PT KAI akan Terapkan Sistem e-Ticketing 
  d.. KRL Ekonomi Mulai Diganti Juli 
  e.. Penghapusan KRL Ekonomi bakal Berdampak Sosial


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke