ref: Bukan saja yang berkedudukan sebagai presiden NKRI hilang sisi 
kemanusiaan, tetapi juga  rezimnya termasuk petinggi-petinggi partai politik 
maupun mereka yang dikatagorikan sebagai kaum elit negara, sebab kalau mereka 
ini berkeyakinan tentang faedahnya Hak-hak Azasi Manusia (HAM) bagi kepentingan 
rakyat dan negara berke-Tuhan-an, maka sudah sejak lama tanpa ragu-ragu,  
mereka secara gagah lagi gigih berdiri dan bersuara di garis depan untuk 
membela kepantingan keadilan rakyat dan   untuk diselesaikan masalah 
pelanggaran HAM sebagaimana mestinya menurut hukum negara beradab tanpa 
dibiarkan  berlarut-larut!

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/20/1/140068/KontraS-Sisi-Kemanusiaan-Presiden-Hilang

KontraS: Sisi Kemanusiaan Presiden Hilang
Rabu, 20 Maret 2013 | 23:07 WIB
 
ANTARA/Reno Esnir/ip
TERKAIT
  a.. Tekan Kelahiran, BKKBN Terapkan Kontrasepsi Jangka Panjang 
  b.. Mesir Selidiki Penyelundupan Seragam Militer untuk Hamas 
  c.. Parpol Bertanggung Jawab Menagih Realisasi Pengadilan HAM 
  d.. Pemerintah Jamin Keadilan bagi Keluarga Korban Pelanggaran HAM 
  e.. Penyelesaian Audit Hambalang tergantung Bukti
Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan 
(KontraS) menyebut sisi kemanusian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah 
hilang. KontraS juga menyebut Presiden sudah tidak memiliki agenda kerakyatan.

Pernyataan itu muncul karena adanya pengabaian empat (4) Rekomendasi DPR pada 
2009 terkait Penghilangan Orang Secara Paksa peristiwa 1997-1998 oleh Presiden. 
Padahal, Ombudsman telah menyatakan pengabaian itu perbuatan maladministrasi.

"SBY tidak pernah membayangkan, bagaimana jika yang hilang itu anaknya. Sisi 
kemanusian dan kerakyatanya telah hilang digantikan oleh agenda politik. Yang 
diungkapkan SBY semua mengenai dirinya sendiri dan kepentingan politik 
partainya," ungkanya Kordinator Eksekutif KontraS, Haris Azhar saat dihubung 
Media Indonesia, Rabu (20/3).

Menurutnya, Presiden hanya melihat tragedi itu dari sisi keuntungan politik. 
Padahal peristiwa 1997-1998 merupakan momen penting yang bisa membuat SBY 
berkuasa. 

"Para penguasa sekarang, menari-nari di atas penderitaan para korban yang rela 
mengorbankan nyawanya demi demokrasi. Jika para korban tidak diberikan 
keadilan, maka itu penghinaan terhadap demokrasi," ujarnya.

Dalam catatan KontraS, tidak ada satu pun kasus pelanggaran yang ditangani di 
masa kepemimpinan SBY. Justru sebaliknya, korban pelanggaran HAM terus 
bertambah. 

Korban pelanggaran pada 2011 sekitar 1.000 orang dan bertambah menjadi menjadi 
sekitar 2.000 orang pada 2012. Menurut Haris, semakin meningkatnya pelanggaran 
HAM karena tidak adanya dasar atau patokan bagi semua pihak dalam bertindak, 
yaitu pengadilan HAM.

"Kepemimpinan SBY seperti hutan rimba, tidak ada hukuman bagi pelanggar HAM. 
SBY hanya bertindak ketika merasa dizolimi, tapi untuk bangsa tidak ambil 
pusing," katanya.

Kritikan terhadap SBY, lanjut Haris, tidak hanya dari dalam negeri. Anggota 
Komisi Tinggi HAM PBB Navi Pillay, pernah mengatakan bahwa Indonesia di bawah 
kepemimpinan SBY mengabaikan pelanggaran HAM di masa lalu.

"Jalan satu-satunya mendesak SBY adalah ke PBB baik melalui Dewan HAM maupun 
pelapor khusus PBB. Sedangkan melalui pengadilan kriminal Internasional tidak 
bisa karena belum meratifikasi Statuta Roma," ungkapnya.

Haris mengungkapkan bahwa Jaksa Agung Basrief Arief pada 2011 pernah menyatakan 
bahwa teknis hukum untuk melakukan penuntutan tidak ada masalah, melainkan 
karena belum adanya sinyal dari SBY. Apalagi yang terlibat berasal dari TNI dan 
Polri.

"Kalau Kejagung panggil, mereka bisa resisten, sehingga perlu ada prakondisi 
yang hanya bisa dilakukan SBY, apalagi melibatkan Wiranto dan Prabowo 
Subianto," pungkasnya. (Raja Eben)


Editor: Afwan Albasit

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke