Ref: Kesempatan bagus bagi para pandai ilmu untuk menymbangkan penjelasan 
tentang ancaman defisit perdagangan dan hutang luarnegeri yang terus bertambah 
bagi kemajuan ekonomi NKRI.

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/02/2/143254/Ancaman-Defisit-Perdagangan-Terus-Berlanjut


EKONOMI
Ancaman Defisit Perdagangan Terus Berlanjut
Selasa, 02 April 2013 | 16:23 WIB
  
MI/Panca Syurkani
TERKAIT
  a.. Siap-Siap, Mulai Juli Beli Bensin Dibatasi 
  b.. Pertambangan dan Pelayaran Non-Perintis Dilarang Pakai BBM Subsidi 
  c.. Mobil Pribadi Minum BBM Nonsubsidi, Pemerintah Hemat 100 Triliun 
  d.. KEN: BBM Bersubsidi tidak Perlu Naik 
  e.. Konsumsi BBM Subsidi Bisa 53 Juta Kl
Metrotvnews.com, Jakarta: Defisit perdagangan yang dipicu oleh impor Bahan 
Bakar Minyak (BBM) akan terus berlangsung selama kebijakan pengelolaan Bahan 
Bakar BBM bersubsidi belum dapat dikendalikan oleh Pemerintah.

Menurut Anggota Komisi VII dari Fraksi PKS Rofi Munawar, selama penurunan 
produksi minyak terus berlangsung, maka untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam 
negeri adalah melalui impor. Jika ini terus dilakukan, defisit perdagangan 
masih akan terjadi.

"Jika pola ini diteruskan di tengah situasi ekonomi dan energi dunia yang 
kompetitif akan sulit mencapai peningkatan perekonomian yang lebih tinggi. 
Karenanya keseriusan dibutuhkan bukan hanya di sektor kebijakan, namun juga 
pada kemampuan mengeksekusi dan implementasi kebijakan tersebut,” ujar Rofi 
seperti dikutip dari siaran pees yang diterima Media Indonesia, Selasa (2/4).

Seperti diketahui berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan 
Indonesia kembali defisit pada Februari 2013, yang nilainya mencapai US$327,4 
juta. Secara kumulatif (Januari-Februari 2013), jumlah defisit perdagangan 
Indonesia tercatat US$402,1 juta. Impor BBM jenis premium dinilai menjadi 
pemicu defisit neraca perdagangan ini.

Padahal, kebutuhan BBM bersubsidi  tahun 2013 diprediksi akan meningkat 
mencapai 50 juta kilo liter (KL) hingga akhir tahun. Ia menilai cara 
pengendalian yang dilakukan oleh Pemerintah untuk menekan konsumsi BBM saat ini 
tidak banyak membuahkan hasil yang maksimal. 
"Cara paling cepat untuk memenuhi kebutuhan BBM yang tinggi yaitu dengan 
melakukan importasi, namun kebijakan tersebut akan berbahaya di masa yang akan 
datang jika negara produsen menahan minyak mereka dan kemampuan fiskal kita 
tidak dijaga dengan baik," ujarnya. Apalagi, Bank Indonesia mencatat tingginya 
impor migas tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan likuiditas valas 
domestik.

Maka dari itu ia menilai perlu ada terobosan yang dilakukan pemerintah dalam 
menekan laju defisit perdagangan indonesia saat ini dari sektor migas dengan 
mendorong optimalisasi pemanfaatan gas, energi alternatif dan menemukan 
ladang-ladang minyak baru yang potensial. (Ayomi Amindoni)


Editor: Tjahyo Utomo

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke