http://www.indopos.co.id/index.php/20-info-grafis/3363-dikritik-partai-rival-pd-tetap-pede


Dikritik Partai Rival, PD tetap Pede 
  Tuesday, 02 April 2013 10:03 
  Written by Adityo 


JAKARTA - Merangkap semua jabatan strategis di Partai Demokrat (PD) membuat 
Susilo Bambang Yudhoyono menerima banyak cibiran. Uniknya, yang mencibir adalah 
para petinggi partai yang selama ini dikenal juga memiliki system dinasti yang 
kurang lebih sama dengan PD.

Apalagi, dua menteri yang masih aktif juga diberi tu gas tak kalah krusialnya 
di partai oleh SBY. Namun demikian, partai ber lambang mercy tersebut tetap 
pede dan yakin soliditas partai akan semakin baik. Seperti diketahui, dua 
menteri Ka binet Indonesia Bersatu (KIB) jilid dua men dapat tugas tambahan 
sesuai hasil KLB Partai Demokrat di Bali. Syarif menjadi ketua harian DPP, 
sementara Menhub E.E.

Mangindaan menjadi ketua harian dewan pembina Demo krat. Kekhawatiran bakal 
terganggunya tugas di pemerintahan pun bermunculan Namun, Marzuki menepis ang 
gapan tersebut. Dia men jelas kan, dipilihnya Syarif dan Mangindaan tidak lepas 
dari pertimbangan kapasitas dan integritas keduanya.

Mereka juga termasuk kader senior di par tai berlambang Mercy itu dan tidak 
tersangkut dengan kasus-kasus tertentu. “Ini saja res pons rakyat pasti bagus. 
Artinya, Demokrat melakukan pembenahan,” katanya. Marzuki menegaskan, dirinya, 
Sya rif, dan Mangindaan pernah memegang jabatan-jabatan stra tegis dalam tubuh 
PD.

Dia memastikan, kondisi rangkap jabatan tidak akan menyulitkan ketiganya. 
Apalagi, leadership kader senior tersebut tidak perlu diragukan. Soal 
pernyataan SBY yang meminta para menteri fokus pada tugas pemerintahan 
ketimbang tugas partai, Marzuki menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak 
berarti menteri yang bersangkutan dilarang mengurus partai.

Dia menuturkan, pernya taan itu harus dimaknai bah wa para pejabat setingkat 
men teri diminta memprioritaskan tugas-tugas pemerintahan. “(Yang dimaksud) 
fokus itu bukan larangan untuk merangkap. Fokus itu mengutamakan dan 
memprioritaskan tugastugas kita sebagai pejabat publik. Artinya, tidak ada 
larangan rangkap jabatan

Dengan kemampuan leadership, kita bisa mendelegasikan kewenangan kita kepada 
orang-orang di partai,” jelas Marzuki. Sementara itu, pihak istana mengakui, 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak bisa mendahulukan kepentingan 
partai di atas kepentingan negara. Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha 
mengungkapkan, SBY adalah kepala negara dan kepala pemerintahan karena itu 
ditunjuk Ketua Harian Syarif Hasan yang bertugas menjalankan tugas-tugas Ketum 
PD. “Ketua harian tentu dimaksudkan melaksanakan tugastugas yang lazim 
dilakukan oleh Ketum karena Pak SBY tidak akan bisa lebih mengutamakan 
kepentingan partai.

Karena dia sebagai presiden, Syarif yang di tunjuk ini tentu dengan anggapan 
Pak Syarif bisa membagi waktu. Kan, prioritasnya tetap sebagai menteri 
kabinet,” jelas Julian di kompleks Istana Kepresidenan kemarin. Julian pun 
menekankan, Presi den SBY berupaya tetap fokus pada tugas dan tanggung jawab 
sebagai presiden.

Pelaksanaan tugas-tugas kenegaraan tersebut juga tidak bakal terganggu de ngan 
aktivitas partai terkait dengan posisinya sebagai Ketum. “Tugas-tugas sebagai 
kepala negara tidak akan terganggu atau berkurang karena tugas sebagai Ketum,” 
imbuh Julian. Sebelumnya, Ketua DPP Partai Hanura Saleh Husen menyesalkan 
langkah SBY yang menunjuk dua menterinya untuk mem bantu tugas-tugas di partai.

Apalagi, SBY pernah menegur menterinya agar fokus pada tugas di pemerintahan. 
“Sementa ra saat ini justru SBY yang me langgar apa yang pernah diucap kannya 
sendiri,” katanya. Politis partai lain juga banyak yang mengkritik keputusan 
SBY dalam menerima tawaran menjadi Ketum PD.

Umumnya mere ka meragukan kemampuan dan konsentrasi SBY yang bakal terbelah 
antara mengurusi par tai dan tugasnya sebagai presiden. (fal/ken/c6/agm)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke