Ref: Papua adalah harga mati,  jadi dalam aplikasi politik  neo-kolonial 
rakyatnya dimatikan dengan berbagai cara, cara lazim tangan bersih ialah 
dilaparkan. Dalam sistem kolonial atau neokolonial rakyat jajahan tidak 
mempunyai hak mempertanyakan kemana atau dimana hasil kekayaan alam yang 
diekspolotasi dari dari perut bumi mereka. Kalau mempertanyakan saja sudah 
tidak bisa apalagi mendapat bahagian yang adil. 

http://www.suarapembaruan.com/home/95-anak-papua-mati-karena-busung-lapar/33252

Kemana Uang Hasil Kekayaan Alam Papua?
95 Anak Papua Mati Karena Busung Lapar
Rabu, 3 April 2013 | 8:40

 Ilustrasi anak-anak Papua. [Google] [JAYAPURA] Busung lapar mewarnai kematian 
anak-anak di tiga  kampung di Distrik Kwoor, Kabupaten Tambrauw Papua Barat. 
Sekitar 95 orang meninggal dunia akibat busung lapar dan wabah penyakit.  

Tiga kampung yang terserang wabah itu antara lain  Kampung Baddei, Jokjoker dan 
Kasyefo.   

Anggota Majelis  Rakyat Papua Barat, Wolas Krenak membenarkan adanya  busung 
lapar didaerah tersebut. Mantan Wartawan Suara Pembaruan itu merasa miris 
melihat sebagian anak bangsa mati karena ketiadaan makan. 

“Data  yang dikeluarkan LSM  Belantara Papua tentang busung lapar itu benar 
adanya,” katanya.  

Menurut dia, LSM itu sangat dekat dengan masyarakat Papua. “Dan  hendaknya 
pemerintah pusat dan daerah harus terbuka dan merasa  malu dengan kejadian 
ini,” ujarnya kepada SP, Rabu  (3/4) pagi. 

Ketua LSM Belantara Provinsi Papua Barat, Abner Korwa kepada wartawan Selasa 
(2/4), mengatakan,  telah terjadi kematian berturut-turut akibat busung lapar 
dan wabah penyakit yang terjadi sejak  bulan Oktober 2012 lalu. 

Awalnya, kata dia, informasi kematian karena busung lapar hanya laporan warga 
kampung. Namun setelah membentuk tim dan  langsung turun bersama Kodim 
setempat, pihaknya menemukan fakta sesungguhnya. 

Di Kampung Bakti, sekitar 15 anak meninggal dunia secara berturut turut dalam 
1-2 minggu. “Setelah kami cek kepada Kadis Kesehatan Tambrauw, hanya dijawab 
hal itu disebabkan karena terbatasnya petugas kesehatan dan juga minimnya 
obat-obatan di daerah tersebut,” ujarnya.       

Otsus Gagal 

Kematian akibat busung lapar membuat  anggota Majelis Rakyat Papua Barat   
marah dan menyesalkan kejadian ini.  

“Untuk apa  uang Otsus Papua yang begitu banyak  bila ada kematian busung lapar 
di Papua. Sungguh mengenaskan,” kata Wolas.  

Pemerintah daerah dan pusat  diminta segera melakukan  pertolongan kepada warga 
 korban busung lapar tersebut. 

“Jangan lagi lakukan rapat, rapat, rapat, dan rapat  untuk ini dan itu. Segera 
ke sana menolong karena mereka,  karena mereka juga  bagian dari Republik 
Indonesia,” ujarnya. 

Ironis memang, anak-anak Papua mati di atas kekayaan alam yang melimpah. Kemana 
uang hasil kekayaan alam Papua dibawa? [154]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke