Ref: Apakah politukus NKRI bisa lepas  bebas dari  perangkap kleptokrasi jika 
rata-rata mereka berdarah tukang catut?

http://www.shnews.co/detile-17176-moralitas-politikus-dalam-perangkap-kleptokrasi.html

Moralitas Politikus dalam Perangkap Kleptokrasi 
Thomas Koten* | Selasa, 02 April 2013 - 14:32:57 WIB

: 122 


Kejujuran, kesantunan, dan integritas politik diukur dari keutamaan moral.

Kasus Korupsi yang melibatkan para politikus, baik di partai politik maupun 
lembaga legislatif yang terkuak belakangan ini, hakikatnya telah mencerminkan 
betapa kinerja politik yang dijalankan para politikus kita lebih bermuara pada 
uang, bukan kepentingan rakyat, juga bukan untuk kemuliaan politik itu sendiri. 
  
Kesejahteraan rakyat yang diharapkan dapat tercipta dari kerja politik, 
akhirnya hanyalah terpahat di dinding kosong tanpa makna. 

Oleh karena itu, politik yang awalnya bersosok suci, agung dan mulia ala filsuf 
Yunani Aristoteles dan Plato pun terjerembab dalam lumpur kenistaan oleh ulah 
para politikus yang berhamba pada uang. Politik akhirnya dinilai kotor dan 
menjijikan. 
  
Selanjutnya, politikus yang semestinya berhati emas dan bermartabat untuk 
menata kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan, akhirnya hanya dinilai tidak 
ubahnya manusia-manusia yang tidak bermartabat lantaran banyak berbuat dosa dan 
nista. 

Padahal, semua politikus sudah tahu betul tugas mereka sesungguhnya menata 
kekuasaan demi kesejahteraan rakyat. Itu juga merupakan etika politik yang 
sejatinya. 
  
Dalam bingkai ini, etika politik tidak lain berarti moralitas yang berorientasi 
pada pelayanan dan kesejahteraan masyarakat luas, sekaligus pengabdian dan 
usaha untuk mengantarkan rakyat kepada kesejehteraan, lewat perjuangan di ranah 
kekuasaan agar kekuasaan dapat menelurkan kebijakan-kebijakan politik dan 
ekonomi yang pro kesejahteraan rakyat.

Terperangkap Kleptomania 

Dengan begitu banyaknya politikus terjerembab dalam perilaku penuh nista 
korupsi, kita pun bertanya, apakah para politikus telah terjangkiti penyakit 
psikosomatik atau kleptomania? Penyakit kleptomania adalah kelainan jiwa yang 
menyebabkan seorang suka mengambil barang milik orang lain atau keinginan 
mencuri barang orang lain yang tidak dapat ditahan-tahan. 

Jika dikonversikan dalam bidang politik, ekonomi, dan lain-lain, menyitir Ansel 
Alaman (2013), di satu sisi tampak sebagai perilaku yang haus kekuasaan (power 
syndrome), dan di sisi lain perilaku hedonisme yang memandang kekuasaan ekonomi 
dan politik sebagai subyek kenikmatan belaka. 

Dengan melihat begitu banyaknya politikus yang terjebak atau terjangkiti 
penyakit korupsi, tidak aneh jika dikatakan para politikus kita sudah 
benar-benar menderita penyakit kleptomania atau psikosomatik. Selain itu, 
dengan merebaknya budaya instan di tengah masyarakat, bukan tidak mungkin akan 
terus mendorong para politikus semakin terjerembab ke dalam penyakit 
kleptomania. 

Dikhawatirkan mentalitas politikus yang gemar korupsi alias sudah terjangkiti 
penyakit kleptomania tertular secara mengerikan kepada masyarakat mengingat 
kultur kita yang sangat paternalistik. Perilaku pemimpin atau kaum elite sangat 
gampang menular, memengaruhi dan mengarahkan nilai-nilai, perilaku-perilaku dan 
kesejahteraan masyarakat. 
  
Jangan-jangan dengan merebaknya penyakit korupsi hingga ke seluruh sendi dan 
aspek kehidupan masyarakat, tetap membuat bangsa ini menjadi bangsa 
psikosomatik atau bangsa kleptomania. 

Kita juga memang tidak bisa secara tegas mengatakan politikus kita atau bangsa 
ini sudah mengindap penyakit kleptomania. Kita juga tidak bisa bertanya lagi, 
mengapa bangsa ini gemar korupsi alias senang mengambil jalan pintas untuk 
menjadi kaya. 
  
Bahkan, perilaku ini oleh Mochtar Lubis, telah menjadi salah satu ciri manusia 
Indonesia. Tetapi, fenomena merebaknya korupsi di partai politik dan masyarakat 
semestinya menggiring kita menggeledah kembali struktur-struktur psikososial 
politik ekonomi dan kebudayaan kita. 

Artinya, secara jelas dikatakan ada sesuatu yang telah dan mungkin akan terus 
menggerogoti tubuh bangsa ini, atau sedang dan mungkin akan terus terjadi dalam 
metabolisme kebangsaan. Sebuah patologi yang sedang menggerogoti norma dan 
nilai-nilai luhur ke-Indonesiaan kita, terutama telah menghancurkan nilai-nilai 
luhur politik dan merusak akhlak politikus kita. 
  
Ini yang membuat energi bangsa ini hanya diarahkan untuk tujuan-tujuan 
kontraproduktif yang picik, artifisial, antara menaikkan citra politik dan 
menjatuhkan citra lawan-lawan politik, bukan tujuan-tujuan yang dibimbing untuk 
kemajuan kehidupan bangsa terutama kehidupan politik negeri. 

Jangan-jangan para politikus negeri ini tidak lagi memiliki niat baik untuk 
memajukan bangsa lewat karya-karya politik yang agung. Ini sangat 
dikhawatirkan. Ingat nasib bangsa ini sebagian dipertaruhkan di pundak mereka. 
  
Sulit dibayangkan jika kemajuan bangsa yang diharapkan diletakkan di pundak 
para politikus yang tidak memiliki moral baik dan tidak menjalankan politik 
secara beretika. Begitu malanglah nasib negeri ini jika memiliki politikus yang 
minim moral dan sudah terjangkiti penyakit kleptomania. 

Politikus yang minus moral adalah yang tidak jujur, kurang santun, dan tidak 
memiliki integritas, mengabaikan tugas menyejahterakan rakyat, dan hanya 
mementingkan diri sendiri dan kelompok. Jadi, politikus yang bermoral adalah 
yang menjalankan politik dengan mengedepankan etika politik dalam perjuangan 
politiknya. Polilikus yang mengedepankan etika politik adalah negarawan yang 
mempunyai keutamaan-keutamaan moral. 

Dalam sejarah filsafat politik, filsuf seperti Socrates sering dipakai sebagai 
model yang memiliku kejujuran, kesantunan, dan integritas. Kejujuran, 
kesantunan, dan integritas politik diukur dari keutamaan moral. Lalu, apakah di 
tengah semakin terjangkitinya penyakit korupsi atau penyakit kleptomania, masa 
depan bangsa ini masih bisa dipertaruhkan di pundak mereka?

Hati Nurani dan Etika Politik 

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah, nasib bangsa tidak bisa diletakkan di 
pundak politikus yang moralitasnya sudah dihancurkan ganasnya penyakit 
kleptomania, yang menggerogoti nalar dan menghancurkan hati nurani dan kepekaan 
sosial dan politik etis para politikus. Maka, kontrol dan desakan publik agar 
para politikus kembali ke jalur etika politik dan menguatkan moralitasnya dalam 
berpolitik, menjadi sangat penting. 

Sudah ada berbagai upaya perbaikan terhadap partai politik dan institusi 
legislatif. Komisi-komisi dibentuk, banyak politikus dijebloskan dalam penjara. 
Aksi demonstrasi untuk mendorong pemberantasan korupsi juga sudah banyak 
digelar, tetapi korupsi politik terus berjalan, setali tiga uang dengan 
politikus terus tererosi moralitasnya. Kesalahannya ada pada sistem organisasi 
politik dan mentalitas para politikus yang hati nuraninya sudah keropos. 

Oleh karena itu, hal krusial yang perlu dilakukan adalah mengubah sistem parpol 
yang tidak memungkinkan tumbuhnya korupsi. Adalah sistem organisasi politik 
yang mengintegrasikan etika publik ke dalam karya pelayanan publik dan yang 
bisa mengubah wajah kekuasaan yang ramah terhadap nasib dan kesejahteraan 
rakyat. 
  
Kemudian, perlu mendorong para politikus untuk mempertajam hati nurani baik 
lewat kontrol publik maupun penegakan hukum yang berkeadilan. Dalam hal ini, 
hukum tidak boleh lagi tampil sekadar ritual formal yang tidak memiliki roh 
keadilan dan kebenaran.

*Penulis adalah  Direktur Social Development Center

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke