http://blog.suaramerdeka.com/?p=323

Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini 
posted March 23, 2013 by Bambang Isti / No Comments / 552 views 
NEGERI ini masih parah dalam urusan perkakusan. Lihat saja, lebih dari dua 
jutaan anak di Indonesia, dalam setiap 14 detik satu orang dari mereka 
meninggal. Ini akibat penyakit yang bersumber dari ketiadaan toilet yang 
memadai.

Inilah keprihatinan Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) saat menyikapi fakta, di 
Indonesia berada diurutan 12 dari 18 negara terjorok di Asia dalam urusan 
perkakusan itu.

Menurut Naning Adiwongso, Ketua ATI saat berjunjung ke Kota Kudus untuk 
menyaksikan peluncuran program sanitasi sekolah pertengahan Maret lalu, di 
negeri ini toilet belum menjadi bagian dari budaya bersih.

“Itu disebabkan karena jumlah penduduk kita yang semakin besar dan perubahan 
iklim dan tidak punya toilet layak yang menyebabkan penyakit bisa menyebar ke 
mana-mana,” kata Naning Adiwongso.

Menurut Naning, orang sering mengabaikan adanya toilet, padahal itu kepentingan 
kita tiap hari. Maka jika bicara masalah toilet jangan lagi menjadi hal yang 
tabu, misalnya seringnya orang menyebutnya dengan kamar kecil, atau kamar 
belakang yang seilah toliet menjadi anak tiri di rumah sendiri, terpuruk di 
belakang dalam kodisinya pengap, kotor dan berbau.

Menurut Naning, “Kita harus mengedukasi pada masyarakat. Bayangkan manusia itu 
memiliki antara 120 – 250 gram tinja setiap hari. Bagaimana kalau ini tidak 
dikelola dan dimenej dengan benar. Maka kita bisa mulai dari sekolah. Karena 
sekolah adalah agen perubahan itu,” katanya.

Masih kata Naning, “Di sekolah kita bisa mengajarkan bagaimana memiliki toilet 
yang bersih, menghemat air. Padahal toilet harus higien dan bukan sekadar 
bersih saja,” papar Naning Adiwongso.

Menurut dia, untuk menjadikan budaya toilet bersih memang sudah dimulai di 
tempat-tempat umum seperti SPBU, hotel tapi belum seluruhnya ada di 
tempat-tempat wisata dan terminal bus. “Karena dengan toilet bersih kita bisa 
mengangkat derajat bangsa,” pungkasnya.

Jumlah penyakit  

Soal posisi Indonesia itu, “Ya memang kita masih memiliki toilet yang sangat 
buruk dibandingkan negara-negara lain. Posisi Indonesia berada di atas Vietnam, 
tapi di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura,” kata Naning.

Naning menyambung, World Toilet Summit secara berkala mengeluarkan daftar 
jumlah penyakit yang paling banyak terdapat di toilet.

Asosiasi Toliet Indonesia berdiri pada 2001. Perjuangan Naning diakuinya, tak 
semudah yang dibayangkan orang. Da bahkan biasa ditertawai atau dicemooh 
seperti saat meminta bantuan ke kementerian yang berkorelasi dengan pembangunan 
infrastruktur dan kesehatan.

Apa komentar mereka. “Kan sudah ada MCK infrastruktur untuk mandi, cuci, 
kakus,” . Maka Naning pun ngotot bahwa ini bukan hanya urusan keberadaan MCK, 
tapi bagaimana membangun toilet yang bersih dan kering dan membudayakan 
masyarakat Indonesia untuk sadar kebersihan toilet.

Beruntung, gerakannya itu kemudian didukung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 
waktu itu, I Gede Ardhika. Asosiasinya mulai menerbitkan stiker dan poster 
mengkampanyekan toilet kering dan bersih.

Konsentrasi dimulai pada toilet umum di jalan-jalan, terminal, bandara, dan 
mal. Setelah itu, toilet sekolah menjadi perhatiannya. “Saya pelajari banyak 
anak yang memilih menahan buang hajat lantaran toilet di sekolah bau, kotor, 
dan tidak sehat,” kata Naning dalam sambutannya di Kudus.

Untuk itu, ATI mulai menyiapkan anak sekolah sebagai agent of change. Mereka 
adalah masa depan negara ini. Pembelajaran tentang sanitasi menjadi program 
yang sangat tepat di terapkan di sekolah-sekolah. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke