Ref:  SBY bukan anggota kaum pekerja bergaji senin kemis yang bingung tiap kali 
terjadi kenaikan harga BBM, sembako etc, jadi kebingungannya  ini hanya 
sendiwara  tipumuslihat seolah-olah derita rakyat adalah bahan pemikirannya 
yang serius.

http://www.radartimika.com/index.php?mib=berita.detail&id=10378


Selasa, 09 April 2013 , 07:14:00

SBY Bingung Naikkan BBM



JAKARTA - Pemerintah hingga kini masih belum punya keputusan final soal 
kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
mengungkapkan saat ini pemerintah sedang bingung menentukan dua opsi yang harus 
dipilih. Apakah harus dinaikkan secara serentak atau dibatasi untuk kala­ngan 
tertentu sa­ja. “Jika dinaikkan maka akan meningkatkan inflasi. Jika inflasi 
naik orang miskin pun naik. Tapi kalau tidak naik akan mengancam keamanan 
fiskal dan defisit perdagangan,” tutur SBY dalam pidatonya di aca­ra 
pembukaaan Mu­nas Asosiasi Pe­ngusaha In­do­nesia (Apin­do) IX di 
Ja­kar­ta kemarin. Apapun keputusan yang diambil, SBY mengatakan tujuannya 
adalah menurunkan subsidi. Jika memang BBM naik ia menegaskan akan memberi 
bantuan kepada rakyat atau dulu dikenal dengan bantuan langsung tunai (BLT).

Sementara itu banyak kalangan yang terus mendorong agar kebijakan menaikkan 
harga BBM segera dilakukan. Misalkan saja ketua Apindo Sofjan Wanandi. Menurut 
kacamatanya jika BBM tidak dinaikkan akan mengancam perekonomuian Indonesia. 
Subsidi BBM telah menggerogoti APBN sehingga sektor lain seperti infrastruktur 
terbengkalai. “Sebagai pengusaha kami tidak suka dengan naiknya BBM, tapi 
kalau untuk kepentingan nasional kami dukung seratus persen,” terangnya. Jika 
subsidi BBM ditekan dan disalurkan ke pembangunan infrastruktur, itu sangat 
mendukung iklim usaha dalam jangka panjang.

Hal senada diungkapkan oleh Menteri Perindustrian M.S. Hidayat. Pihaknya 
mendorong harga BBM segera dinaikkan. Jika tidak dilakukan dengan langkah 
apapun, APBN di akhir tahun bakal defisit akibat menggembungnya subsidi BBM. Ia 
juga menegakan kenaikan BBM tidak akan menggangu pertumbuhan industri. “Pasti 
ada dampak. Tapi ini sudah dihitung, apalagi sudah kita bicarakan selama 3 
tahun terakhir. Jika di awal ada penolakan itu hal yang biasa,” ucapnya.

Mengenai dua opsi yang saat ini sedang ditimbang, ia pribadi lebih setuju 
dengan kenaikan harga BBM secara meluas. Sebab untuk membatasi pasokan bahan 
baker kepada pengguna mobil lebih sulit dilakukan. Pada rapat kabinet terakhir, 
lanjutnya, pemerintah ingin mengurangi subsidi BBM hingga Rp 80 triliun. 
Pengamat Energi dari Universitas Indonesia Kurtubi menilai kom­pensasi 
kenaikan BBM jangan berupa BLT. Tindakan itu rentan disalahgunakan untuk 
kepentingan politik. “Lebih baik menyalurkan seluruh dana kompensasi ke 
pembangunan infrastruktur daerah tertingga,” paparnya. Bantuan itu bisa 
dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan fasilitas 
pertanian. Menurutnya itu jauh lebih produktif. “Sayang jika dana penghematan 
dialokasikan pada hal yang nonproduktif,” ucapnya. (uma/oki)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke