Mempercepat Pemilu bukan penyelesaian. Yang diperlukan adalah mempercepat 
kebangkitan rakyat Indonesia untuk menggulingkan pemerintah yang manapun yang 
masih meneruskan Orba (ORDE BIADAB). .Pemilu yang manapun akan hanya melahirkan 
suharto-suharto atau yudoyon-yudoyono baru atau yang diperbaharui. Perjuangan 
di depan mata adalah membangkitkan rakyat untuk memboikot Pemilu hingga paling 
tidak 80 persen GOLPUT.
ASAHAN.


----- Original Message ----- 
From: MiRa 
To: 
Sent: Wednesday, April 03, 2013 3:42 AM
Subject:  Buyung: Semua Sudah Terkontaminasi, Pemilu Harus dIpercepat


  
Buyung: Semua Sudah Terkontaminasi, Pemilu Harus dIpercepat, Birokrasi Harus 
Dibersihkan

Wed, 03/04/2013 - 08:02 WIB

RIMANEWS-Di mata pengacara senior Adnan Buyung Nasution, Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dinilai sudah tidak lagi efektif dalam menjalankan roda 
pemerintahan.

Sebelum Presiden RI itu resmi menjabat sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat, 
Bang Buyung, demikian pengacara kondang ini akrab disapa, sudah mengekspresikan 
kekesalannya pada Kamis (21/3) hampir dua pekan lalu.

Saat itu, Bang Buyung, menegaskan, SBY sudah ingkar janji dan tidak konsisten. 
Karena, SBY memerintahkan para menteri jangan mengurus partai, tapi dia sendiri 
sibuk mengurus Partai Demokrat.

Karena sibuk urus partai, SBY sudah tidak punya waktu lagi untuk memperbaiki 
pemerintahan. "Pemilu dipercepat ganti birokrasi yang lebih bersih dan tidak 
seperti sekarang terkontaminasi semua," tegas Bang Buyung saat itu.

Sekarang, SBY sudah resmi menjadi ketua umum. Bang Buyung pun kembali bersuara.

Rabu siang (3/4) pukul 11.00 WIB nanti, di Kantor Constitution Centre Adnan 
Buyung Nasution (Concern ABN) Jalan Sampit I No 56, Blok M, Jakarta Selatan, 
Bang Buyung akan menggelar jumpa pers dengan topik utama tentang "Rangkap 
Jabatan SBY dan Fatsun Demokrasi".

Bersama Bang Buyung, akan hadir sejumlah tokoh Concern ABN lainnya, seperti 
mantan hakim Mahkamah Konstitusi Prof. Laica Marzuki dan aktivis pro demokrasi 
Ray Rangkuti.[ach/RM]

http://www.rimanews.com/read/20130403/97420/buyung-semua-sudah-terkontaminasi-pemilu-harus-dipercepat-birokrasi-harus

***

Duh, Presiden SBY Lebih Fokus Urus Partai

Headline

INILAH.COM, Jakarta - Pidato Presiden SBY di akhir Maret lalu, meninggalkan 
sejumlah kekecewaan. Isinya lebih menggambarkan kegalauan presiden atas 
partainya. Bukan jawaban atas kegelisahan rakyat akibat mahalnya harga bawang, 
daging dan sembako lainnya.

Menurut Senior Advisor Charta Politica, Tito Sulistio, pidato presiden pada 30 
Maret lalu, semakin menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. 
Isinya lebih banyak penjelasan SBY soal parpolnya.

"Isinya lebih banyak keluhan SBY atas partainya. Soal mahalnya bawang, cabai 
serta daging yang lebih substansial, seolah-olah tak penting," tuturnya kepada 
wartawan di Jakarta, Selasa (02/04/2013).

Sebagai pemimpin yang dipilih melalui pemilihan langsung, lanjutnya, Presiden 
SBY seharusnya bisa menunjukkan kepedulian terhadap rakyat secara 
sungguh-sungguh. Bukan sekedarnya apalagi hanya basa-basi.

"Apalagi sekarang, presiden SBY memutuskan untuk memimpin partai. Para 
menterinya diberi tugas tambahan yang tidak ada kaitannya dengan urusan 
kenegaraan," terangnya.

Selanjutnya, Tito menyitir Al Qur'an Surat Ad Dhuha ayat 7 yang menggambarkan 
bahwa Nabi Muhammad SAW pernah dilanda kebingunan. Sebagai pemimpin, Nabi 
Muhammad tidak pernah menunjukkan kegalauannya kepada ummar. Namun justru lebih 
mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Kita rindu sosok pemimpin yang tangguh, tegas, cerdas dan tentu saja amanah. 
Presiden kan punya pembantu, 3 menko dan 20 menteri. Seharusnya bisa 
mememcahkan segala macam persoalan bangsa," pungkasnya. [ton]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1973882/duh-presiden-sby-lebih-fokus-urus-partai#.UVuGkhygi9U

***
Demokrat Kembali Rusuh, KLB Tandingan Siap Digelar
Tue, 02/04/2013 - 08:43 WIB

JAKARTA - Tri Dianto, Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Cilacap mengungkapkan 
akan membuat kongres luar biasa (KLB) tandingan.

Mantan Ketua DPC Cilacap ini akan mengkaji kecacatan KLB Partai Demokrat yang 
telah menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua umum secara aklamasi.

"Saya akan mengkaji dulu apakah KLB kemarin cacat atau tidak. Kalau cacat, saya 
akan bikin KLB tandingan," ujar Tri Dianto, Senin (1/4/).

Bagi Tri Dianto, saat ini Demokrat sudah menjadi partai orang tua. Kepengurusan 
baru Partai Demokrat tidak mampu berbuat banyak memulihkan citra partai.

Ia mengaku kader Demokrat yang memiliki gagasan dan berpikiran kritis. Meski 
Demokrat nanti karam, ia tidak akan pindah ke partai lain.

"Ini akan jadi bencana bagi Demokrat dan SBY sendiri. SBY seakan-akan 
demokratis, tetapi ternyata SBY feodal seperti raja. Meski begitu saya akan 
tetap di Demokrat. Tidak apa-apa saya di luar kepengurusan saja," tambahnya.

Tri Dianto ngotot ingin menjadi ketua umum, tetapi gagal. Ia dilarang masuk ke 
arena KLB.[ian/wrt]

http://www.rimanews.com/read/20130402/97293/demokrat-kembali-rusuh-klb-tandingan-siap-digelar

***

SBY Ternyata Feodal Seperti Raja, Keabsahan KLB Demokrat Dipertanyakan
Tue, 02/04/2013 - 08:49 WIB

JAKARTA - Mantan Ketua DPC Cilacap, Tri Dianto akan mengkaji kecacatan KLB 
Partai Demokrat yang telah menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua 
umum secara aklamasi.

"Saya akan mengkaji dulu apakah KLB kemarin cacat atau tidak. Kalau cacat, saya 
akan bikin KLB tandingan," ujar Tri Dianto, Senin (1/4/).

Bagi Tri Dianto, saat ini Demokrat sudah menjadi partai orang tua. Kepengurusan 
baru Partai Demokrat tidak mampu berbuat banyak memulihkan citra partai.

Ia mengaku kader Demokrat yang memiliki gagasan dan berpikiran kritis. Meski 
Demokrat nanti karam, ia tidak akan pindah ke partai lain.

"Ini akan jadi bencana bagi Demokrat dan SBY sendiri. SBY seakan-akan 
demokratis, tetapi ternyata SBY feodal seperti raja. Meski begitu saya akan 
tetap di Demokrat. Tidak apa-apa saya di luar kepengurusan saja," tambahnya.

Tri Dianto ngotot ingin menjadi ketua umum, tetapi gagal. Ia dilarang masuk ke 
arena KLB.[ian/wrt]

http://www.rimanews.com/read/20130402/97296/sby-ternyata-feodal-seperti-raja-keabsahan-klb-demokrat-dipertanyakan

***

Yudhoyono Tidak Konsisten

Senin, 1 April 2013 | 10:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah keputusan Susilo Bambang Yudhoyono dalam Kongres 
Luar Biasa Partai Demokrat menimbulkan kesan dia bingung menyikapi kondisi 
partainya. Sejumlah keputusan juga dianggap bertentangan dengan pernyataannya 
terkait kepemimpinan partainya.

Demikian disampaikan pengajar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Andrinof 
Chaniago, dan Yunarto Wijaya dari Charta Politika, secara terpisah, Minggu 
(31/3/2013), di Jakarta.

Andrinof mengatakan, Yudhoyono harus mencari alasan pembenar atas langkahnya 
menunjuk Syarifuddin Hasan sebagai Ketua Harian dan EE Mangindaan selaku Ketua 
Harian Dewan Pembina. Pasalnya, mereka adalah Menteri dan Yudhoyono 
berkali-kali mengingatkan agar menteri fokus mengerjakan tugas pemerintahan 
daripada partai.

"Dalam pidatonya pada Sabtu malam, Yudhoyono mengatakan, tugas harian akan 
dilakukan oleh Ketua Harian dan Wakil Ketua Majelis Tinggi, yaitu Marzuki Alie. 
Jadi, Syarifuddin Hasan, EE Mangindaan, dan Marzuki Alie akan disibukkan oleh 
tugas harian partai. Lalu, kapan mereka menjalankan tugas sebagai Menteri dan 
Ketua DPR?" tanya Andrinof.

Menurut Andrinof, keputusan Yudhoyono itu akhirnya hanya menambah masalah 
setelah dia bersedia menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. "Dengan Yudhoyono 
menjadi Ketua Umum, Demokrat semakin tergantung pada figur dia dan keluarganya. 
Padahal, berkali-kali Yudhoyono mengatakan, Partai Demokrat adalah partai 
modern sehingga tidak tergantung kepada figur, tetapi sistem," ucap Andrinof.

Ia melihat, berbagai keputusan Yudhoyono itu menunjukkan kebingungannya dalam 
menghadapi kondisi Partai Demokrat. "Oleh karena semua terpusat ke Yudhoyono, 
diduga para kader Partai Demokrat menjadi sungkan dan takut memberi masukan. 
Semua diserahkan kepada Yudhoyono. Ini makin membuat Yudhoyono bingung dan 
mungkin kesepian sehingga berpotensi membuat blunder," ujarnya.

Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, menilai, 
keputusan Yudhoyono memperlihatkan bahwa jargon-jargon ideal berbangsa dan 
bernegara telah dikalahkan. Negara kalah karena untuk pertama kali dalam 
sejarah partai politik dalam era Reformasi, semua jabatan dalam struktur partai 
politik diketuai seorang individu.

Prinsip negara agar partai dikelola secara partisipatif dan bagian dari 
pendidikan politik masyarakat hilang musnah dengan praktik tersebut. Struktur 
Partai Demokrat sekarang ini jelas mengaburkan pertanggungjawaban dan 
fungsi-fungsi tiap struktur partai secara internal.

"Jelas semangat seperti ini melecehkan prinsip demokrasi yang pada hakikatnya 
menginginkan adanya pembagian kekuasaan yang saling mengoreksi dan seimbang," 
ungkap Ray.

Menurut pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bhakti, 
Yudhoyono tidak memberikan teladan. Presiden seharusnya lebih fokus pada 
masalah negara. Hal itu juga menjadi antitesis dari pernyataan Presiden yang 
kerap mengimbau para menteri dari jajaran partai politik untuk fokus pada tugas 
negara dan tidak sibuk dengan urusan partai.(NWO/ato/osa/dik/*)

http://nasional.kompas.com/read/2013/04/01/10144150/Yudhoyono.Tidak.Konsisten

Kirim email ke