http://news.liputan6.com/read/554703/penyerangan-lp-sleman-akibat-rebutan-lapak-sutiyoso-itu-mungkin

Penyerangan LP Sleman Akibat Rebutan Lapak? Sutiyoso: Itu Mungkin
oleh Yoga Guritno 
Posted: 06/04/2013 11:51

Liputan6.com, Jakarta : Mantan Wakil Danjen Kopassus Letjen TNI Purn Sutiyoso 
mengatakan, penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB, Cebongan, 
Sleman, Yogyakarta tidak tertutup kemungkinan dilatarbelakangi rebutan lapak. 
Sebab kasus itu terkait pembunuhan anggota Kopassus Serka Heru Santoso di 
Hugo's Cafe, Yogyakarta.

"Kejadian di Hugo's Cafe sangat mungkin itu. Mungkin ada anggota Kopassus yang 
mengusik lapak," kata Sutiyoso yang akrab disapa Bang Yos dalam diskusi di 
Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (6/4/2013).

Bang Yos menambahkan, kasus ini juga mungkin terjadi karena ada kaitan 
kerjasama antara 11 anggota Kopassus yang melakukan penyerangan dengan polisi 
yang menangani kasus pembunuhan Serka Heru Santoso. Hal ini bisa diusut melalui 
surat perintah yang membuat penyerangan itu bisa terjadi dengan lancar.

"Itu surat perintah kan ada kop surat. Nah ini bisa saja terjadi di prajurit 
bawah. Juga soal senajata yang keluar. Sebenarnya di luar tugas dinas, senjata 
harus masuk gudang. Tapi mungkin ada kerjasama dengan penjaga gudang di bawah, 
sehingga senjata keluar," ucapnya.

Bang Yos menambahkan, pasukan yang sudah dilatih skill militer perlu mendapat 
latihan pengendalian diri. Hal ini menjadi tugas atasannya, agar pasukan yang 
sudah memiliki kemampuan tempur tidak melakukan tindakan yang salah.

"Pasukan yang punya kemampuan militer memang harus dibina masalah pengendalian 
diri. Itu tugas para perwira untuk mendidik anak-anak buah. Kalau perwira 
enggak bisa (membina), maka semestinya dia tidak lulus jadi perwira," tandas 
Bang Yos. (Sah) 

+++++
http://hukum.kompasiana.com/2013/04/03/penyerangan-lp-cebongan-terkait-sindikt-narkoba-547435.html

Penyerangan LP Cebongan, Terkait Sindikat Narkoba?
REP | 03 April 2013 | 03:55 Dibaca: 230   Komentar: 0   Nihil 


danya penyerangan terhadap LP Cebongan beberapa waktu lalu memunculkan 
spekulasi-spekulasi di masyarakat. Salah satu dugaan yang berkembang adalah 
adanya dugaan sindikat narkotika yang berada di balik penyeranan LP Cebongan, 
Sleman, Yogyakarta.

Hal tersebut juga di sebutkan oleh Laksamana Pertama (Purn) Mulyo Wibisono 
dimana ia menduga ada sindikat narkotika yang berada di balik penyerangan LP 
Cebongan, sepekan lalu. Meski demikian, isu tersebut tidak boleh menenggelamkan 
pengungkapan aksi brutal kelompok bersenjata yang menewaskan 4 tersangka 
pembunuhan personel TNI.

Laksamana Pertama (Purn) Mulyo Wibisono dalam, Senin kemarin, menilai bahwa ada 
korelasi antara penyerangan LP Cebongan dengan persaingan sindikat narkotika. 
Pijakan awal atas dugaan tersebut adalah korban yang menjadi sasaran 
pembantaian terlibat dalam peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, 
karte nerkoba inilah yang membuat cover story seolah-oleh TNI dan Polri 
terlibat, padahal jika dilihat korbannya itu adalah yang menggunakan narkoba.

Mulyo mengatakan, saat ini tengah ada perebutan kekuasaan antar kartel narkoba. 
Menurutnya, terlalu dini jika kasus tersebut menyudutkan TNI. Sebab senjata 
yang digunakan dalam penyerangan tersebut tidak hanya dimiliki oleh TNI. Dia 
menyebut, senjata AK 47 juga banyak terdapat di Aceh sejak zaman konflik 
bersenjata terjadi.

Tudingan adanya peran kartel narkotika dalam peristiwa tersebut juga 
disampaikan oleh seorang yang menggunakan nama mantan anggota Korps Speciale 
Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama, Idjon Djanbi. Pemilik akun tersebut 
menyebut kartel narkotika berperan di balik insiden Cebongan

Apapun itu, sudah semestinya kasus ini diungkap secara tuntas oleh aparat 
pemerintah agar tidak menimbulkan korban juwa kembali.

++++++

http://news.detik.com/read/2013/04/08/081455/2213825/10/eks-kepala-bin-kalau-perlu-11-anggota-kopassus-dapat-bintang-mahaputra


enin, 08/04/2013 08:22 WIB 
Eks Kepala BIN: Kalau Perlu, 11 Anggota Kopassus Dapat Bintang Mahaputra 
Ikhwanul Habibi - detikNews



Jakarta - Kasus LP Cebongan yang melibatkan 11 anggota Kopassus dinilai akibat 
bisunya hukum. Sehingga, terbunuhnya Sertu Heri Santoso oleh para preman 
mengakibatkan senjata yang bicara.

"Premanisme di Jogja yang merajalela ini membuktikan hukum bisu. Hukum tidak 
bisa menyentuh preman-preman ini. Hukum ini masih punya legalitas tapi sudah 
tidak punya legitimasi. Hukum ini sudah tidak mempunyai daya rekatnya, sehingga 
masyarakat sudah tidak percaya lagi," kata mantan Kepala Badan Intelijen Negara 
(BIN), AM Hendropriyono saat berbincang dengan detikcom, Senin (8/4/2013).

Di mata pendiri sekolah intelijen itu, hukum tertinggi adalah keselamatan 
rakyat. Oleh sebab itu, apabila hukum tidak bisa melindungi rakyatnya maka 
senjata yang akan bicara.

"Makanya secara hukum mereka salah, tapi secara moral mereka baik. Kalau perlu 
mereka dapat bintang mahaputra," papar Kepala BIN 2001-2004 ini.

Oleh sebab itu, Alumni Akmil 1967 ini meminta masyarakat memahami kasus ini 
secara menyeluruh, tidak sepotong-potong. Selain itu, Hendro juga meminta 
masyarakat tidak menyeret-nyeret pimpinan Kopassus dalam perkara tersebut.

"Apa yang dilakukan prajurit-prajurit Kopassus ini di Cebongan, kalau secara 
moral dia adalah prajurit yang baik, tapi secara hukum dia salah. Seandainya 
dia harus dihukum, dia tetap seorang prajurit yang baik. Kalau perlu dikasih 
bintang jasa itu sama masyarakat. Hukum bicara yang benar dan yang salah. Moral 
bicara yang baik dan yang jelek. Hukumnya bisu, makanya senjata saja yang 
bunyi," pungkas Hendro

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke