http://www.indopos.co.id/index.php/berita-utama/41-banner-berita-utama/3524-si-kaya-pakai-premium-khusus

Si Kaya Pakai Premium Khusus 
  Details Saturday, 13 April 2013 08:31 
  Written by Bowo 

 




JAKARTA - Pemerintah saat ini terus mengodok sejumlah opsi pengendalian bahan 
bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sejumlah opsi sudah mulai mengerucut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan pemerintah 
nantinya memberlakukan dua harga premium. Yakni harga premium untuk mobil 
pribadi, yang dibedakan dengan harga untuk kendaraan bermotor dan angkutan umum.


"Untuk orang-orang kaya akan kami kurangi subsidinya, tapi besarannya berapa 
belum diputuskan," ujar Jero di Kementerian Perekonomian, Jalan Lapangan 
Banteng, Jakarta, kemarin (12/4).
Khusus untuk mobil pribadi, lanjutnya, Kementerian ESDM akan menyiapkan jalur 
khusus di SPBU dengan harga premium yang telah dikurangi subsidinya.
"Kalau untuk kendaraan bermotor dan angkutan umum masih mendapatkan subsidi 
penuh dari pemerintah," sebutnya.


Untuk itu, saat ini pihaknya mengaku menyiapkan aturan dan detail pelaksanaan 
agar nanti tidak terjadi kekacauan di lapangan.

"Akan ada dua harga BBM premium, jenisnya sama, harganya beda. Tapi keputusan 
ini belum final sebelum benar-benar diputuskan oleh Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono," pungkas Politisi Partai Demokrat ini.

 Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, ada dua opsi 
kebijakan BBM yang akan dibawa dalam rapat bersama Presiden. Yaitu menaikkan 
harga BBM bersubsidi atau mengendalikan subsidi dengan cara mengurangi subsidi 
bagi orang kaya dan tetap memberikan subsidi kepada masyarakat miskin.

 ’’Meski tetap kita pertimbangkan, opsi menaikkan harga bukan yang utama karena 
memiliki dampak terlalu berat bagi masyarakat tidak mampu,’’ kata Hatta usai 
rapat koordinasi membahas kebijakan BBM di kantornya, kemarin.

Rapat itu di antaranya dihadiri Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri Keuangan Agus 
Martowardojo, dan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Hatta menjelaskan, pemerintah 
tidak ingin kebijakan BBM menambah beban dan menyengsarakan masyarakat tidak 
mampu.



Artinya, pemerintah cenderung memilih pengendalian dengan mengurangi subsidi 
bagi orang kaya. Menurut Hatta, tidak wajar mobil pribadi atau berpelat hitam 
mendapat subsidi Rp 5 ribu per liter bensin, sama seperti kendaraan pelat 
kuning seperti angkot. ”Opsi ini kita kaji secara mendalam,” ujar Hatta.

 Prinsipnya, lanjut Hatta, pemerintah akan mengambil suatu kebijakan yang 
menimbulkan dampak positif bagi perekonomian. Karena jika anggaran subsidi yang 
hampir mencapai Rp 300 triliun per tahun dibiarkan begitu saja akan membebani 
perekonomian. Tetapi di sisi lain, pengurangan subsidi tidak boleh berdampak 
buruk bagi masyarakat miskin dan inflasi.

”Apapun opsi yang akan diambil, teknologi informasi (IT) untuk pengendalian BBM 
subsidi harus tetap dikembangkan. Dengan IT itu kita bisa mengontrol pengunaan 
BBM subsidi, berapa yang keluar dari pom bensin. Sehingga seluruh kebocoran 
bisa dimonitor,” ujar Hatta.

Sedangkan opsi membuat produk ron 90 tidak akan dijalankan. Karena itu akan 
menambah produk-produk yang bersubsidi. ”Ron-nya kan 90, hanya beda sedikit 
dengan Pertamax yang ron 92 dan tidak bersubsidi. Kalau pengguna Pertamax 
beralih ke ron 90, malah makin memperbanyak subsidi,” kata Hatta.

Sebelumnya, saat INDOPOS menemui Hatta di Empire Hotel, Brunei Darussalam, di 
sela-sela acara ASEAN Economic Community (AEC), dia menuturkan bahwa secara 
teori ekonomi, BBM harus naik. ’’Dari diktat atau buku-buku ekonomi yang saya 
pelajari, BBM kita memang harus naik. Tapi kita kan tidak bisa serta merta 
menaikkan begitu saja. Harus dilihat juga dampak sosial dan politiknya juga,’’ 
ungkap dia. ’’Pemerintah tidak sedang galau, tapi memang harus berhati-hati 
soal kenaikan BBM ini,’’ lanjut dia menjawab pertanyaan INDOPOS.

Siapkan Kompensasi

Untuk mengantisipasi dampak pengurangan BBM bersubsidi untuk masyarakat yang 
layak menerima subsidi, pemerintah tengah mempersiapkan kompensasi. Bentuk 
konpensasi masih terus dikaji, akan tetapi bisa dalam bentuk Bantuan Langsung 
Tunai (BLT) atau menambah kuantum program-program penanggulangan kemiskinan 
yang sudah ada.

Hal itu diungkapkan Menko Kesra Agung Laksono usai melantik pejabat eselon satu 
di kementerian yang dibawahinya di Krida Bakti, Jumat (12/4).

”Masalah kompensasi belum diputuskan, masih dalam penggodokan. Tetapi yang 
pasti subsidi BBM hanya untuk kendaraan yang digunakan kepentingan masyarakat 
seperti angkutan umum, ambulans. Ini bukan dihapuskan, tetapi dikurangi agar 
lebih tepat sasaran,” terang Agung Laksono.

Menurut alumnus kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) itu, pengurangan 
subsidi ini untuk mengurangi beban anggaran yang selama ini terus membengkak 
dan mengganggu fiskal negara. Saat ini saja, sekitar Rp 60 triliun lebih 
dialokasikan untuk program penanggulangan kemiskinan. Anggaran ini di luar 
subsidi, seperti subsidi pupuk, pendidikan, listrik, dan lain-lain. ”Program 
ini lebih untuk kepentingan nasional yang lebih luas,” lanjut Agung.

Mantan ketua DPR RI menegaskan Agung meyakini jika BLT yang dipilih sebagai 
bentuk kompensasi, semua partai politik, termasuk Golkar, akan menyetujuinya 
karena untuk kepentingan rakyat. Dia memastikan BLT tidak akan digunakan untuk 
kepentingan penguasa atau parpol meski diberikan saat tahun-tahun politik, 
seperti sekarang dan tahun depan.

Akan tetapi, apabila yang dipilih penambahan kuantum program penanggulangan 
kemiskinan, bisa dengan meningkatkan anggaran beasiswa, jampersal, PNPM, atau 
program lainnya juga tidak masalah. Saat ini setiap 1 liter BBM premium 
disubsidi Rp3.700 oleh pemerintah. Padahal, membuat 1 liter premium total 
biayanya Rp 8.200 per liter, untuk produksi termasuk biaya jual dan pajak. Jika 
dijual ke rakyat  dengan harga Rp4.500, artinya pemerintah memberi subsidi 
Rp3.700.


”Saat ini anggaran subsidi BBM dan listrik saja pada APBN 2013 mencapai Rp 
316,1 triliun. Jika anggaran ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan sektor 
keenergian, seperti menambah kilang-kilang minyak, atau peningkatan kualitas 
pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik lainnya, tentunya hasilnya lebih 
dirasakan masyarakat,” tandasnya. (dri/nel)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke