http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/04/15/mlajoy-ini-penyebab-parpol-islam-selalu-kalah

Ini Penyebab Parpol Islam Selalu Kalah
Senin, 15 April 2013, 16:58 WIB 
Komentar : 0  



Pemilu 1999 menjadi ajang banyak partai Islam unjuk gigi. Pasalnya, saat itu 
disahkan UU Nomor 2 Tahun 1999 yang mengganti aturan UU Nomor 3 Tahun 1985 
tentang ideologi parpol. Aturan baru tersebut mengizinkan partai berdiri atas 
asas yang beragam, tak hanya pancasila.
Maka muncullah partai-partai dengan beragam ideologi, termasuk partai Islam. 
Terdapat sembilan parpol Islam yang ikut dalam Pemilu 1999.

Beberapa Pemilu digelar, suara yang diperoleh parpol Islam tak mengalami 
peningkatan signifikan melainkan naik turun. Menurut data web resmi KPU, pada 
Pemilu 1999 partai Islam mendapatkan 34,2 persen suara, lalu pada Pemilu 2004 
mengalami peningkatan menjadi 43,27 persen suara.

Namun, pada Pemilu 2009 jumlah suara partai Islam turun menjadi 30 persen. 
Padahal, jumlah parpol Islam yang mengikuti pemilu tak banyak mengalami 
perubahan. Pada Pemilu 1999 terdapat sembilan parpol Islam, Pemilu 2004 turun 
menjadi tujuh parpol, kemudian kembai menjadi sembilan parpol saat Pemilu 2009.

Lalu bagaimana dengan Pemilu 2014?  Menurut survei dari Lingkaran Survei 
Indonesia (LSI) pada Oktober 2012, parpol Islam terancam tak masuk lima besar 
pada Pemilu 2014. Bahkan, survei menyatakan, jika pemilu dilaksanakan pada saat 
itu, maka parpol Islam hanya akan mendapat suara di bawah lima persen sedangkan 
partai berbasis nasional mendapat  lima hingga 21 persen.

"Suara partai Islam mengalami kecenderungan yang terus menurun dari waktu ke 
waktu," ujar peneliti LSI Network Adjie Alfaraby seperti dikutip dari Gatra 
News.

Adji mengatakan, tren menurunnya suara partai Islam telah terjadi sejak lama. 
Pada Pemilu 1955 parpol Islam meraih suara 43,7 persen, lalu pada 1999 menurun 
drastis menjadi 36,8 persen. Meski sempat meningkat kembali pada Pemilu 2004 
dengan presentase 38,1 persen, namun Pemilu 2009 turun tajam dengan hanya 
mendapat 23,1 persen. Berdasarkan prediksi LSI Network, jika pemilu diadakan 
pada 2012, maka perolehan suara partai Islam hanya sebesar 21,1 persen.

Indikasi semakin lemahnya parpol Islam sebenarnya telah terjadi ketika era 
Masyumi. Saat Masyumi di ujung tanduk, para pengurus dan tokohnya mengadakan 
pertemuan untuk mencari tahu alasan-alasan di balik lemahnya Islam politik. 
Hasil pertemuan tersebut pun menyimpulkan tiga hal penyebab lemahnya Muslimin 
dalam politik. Disebutkan oleh Yudi Latif dalam "Inteligensia Muslim dan Kuasa: 
Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20" tiga hal penyebab tersebut. 

Yakni, partai Islam tidak cukup mendapat dukungan dari umat di negeri ini, para 
 pemimpin Islam tidak memiliki visi dan misi bersama dalam perjuangan politik 
mereka. Dan yang ketiga, jumlah umat Muslim di Indonesia secara statistik 
memang besar, tetapi secara kualitatif kecil, baik dari segi kualitas 
akidahnya, ibadahnya, akhlaknya, maupun dalam penguasaannya atas pengetahuan 
umum dan ekonomi.

Azyumardi Azra dalam buku kumpulan wawancara Mengapa Partai Islam Kalah oleh 
Hamid Basyaib dan Hamid Abidin, mengatakan partai Islam tidaklah prospektif. 
Menurut Azra, formalisme politik Islam lewat pendirian parpol yang secara tegas 
memakai simbol-simbol Islam, sejak 1955,memang tidak begitu prospektif.

Partai-partai tersebut sangat sulit untuk menjadi kekuatan yang betul-betul 
signifikan dan menenentukan. Pasalnya, sosiologi masyarakat Muslim Indonesia 
yang bercorak tidak terlalu menekankan formalisme atau simbolisme keagamaan.

Penyebab
LSI mencatat empat penyebab runtuhnya parpol Islam. Yakni, adanya fenomena 
'Islam Yes, partai Islam No' yang pertama kali dibumikan oleh oleh Nurcholis 
Majid pada dekade 1960-1970 sebagai gerakan moral, minimnya pendanaan, 
munculnya tindakan anarkisme yang mengatasnamakan Islam sehingga berdampak pada 
kecemasan masyarakat. Dan terakhir,  saat ini partai nasionalis pun 
mengakomodasi kepentingan dan kegiatan kelompok Islam. 

Terlepas dari motif substantif ataupun simbolis, banyak partai nasionalis yang 
membentuk majelis zikir dan kegiatan Islam lain. "Survei menunjukkan 57,8 
persen publik percaya partai nasionalis juga mengakomodir kepentingan 
masyarakat Muslim," tutur Adjie.

Alih-alih berbenah, parpol Islam saat ini justru ikut jatuh saat parpol lain 
terjerat masalah. Belakangan ini isu korupsi telah banyak menjatuhkan pamor 
partai. Kejahatan korupsi yang sangat bertentangan dengan Islam seharusnya 
dicontohkan oleh parpol Islam. Namun pada kenyataannya, politikus dari parpol 
Islam pun terjatuh pada kesalahan yang sama.

Menurut peneliti Pusat Studi Konstitusi (PuSAKO) Universitas Andalas Feri 
Amsari, semua parpol bermasalah. Kasus korupsi merata menimpa parpol. "Ini 
mengindikasikan tidak satu pun parpol yang bertujuan menyejahterakan rakyat 
Indonesia melalui kader-kadernya di parlemen. Sehingga, harus ada yang dibenahi 
dalam sistem kepartaian dan parlemen di Indonesia," ujarnya seperti dikutip 
Republika Online.

Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Muhammad Anis juga 
mengatakan, selama ini parpol Islam melulu menyajikan simbol keislaman, namun  
tak melirik etika Islam. "Partai politik itu hanya ingin memanfaatkan 
masyarakat, bukan memberikan manfaat. Parpol tersebut hanya ingin mendapatkan 
apa yang mereka inginkan," ujarnya.


      Redaktur : Heri Ruslan 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke